KSP Tindaklanjuti Perintah Presiden Jokowi, Tingkatkan Investasi dan Ekspor

0
53
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (kiri) dan Presiden dan Chief Executive Officer (CEO) US-ASEAN Business Council atau Dewan Bisnis AS-ASEAN. Alexander C. Feldman. (ISTIMEWA)

 

Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. dalam sebuah suasana Suasana Pertemuan bersama Presiden Joko Widodo (Foto Laily Rachev / Biro Pers Sekretariat Presiden)

JAKARTA (LINTAS PAPUA)   –  Peringkat investasi (investment grade) dan kemudahan berusaha di Indonesia memang meningkat cukup signifikan berdasarkan laporan terakhir. Tiga pemeringkat investasi internasional –Fitch Ratings, Standards and Poor’s, dan Moody’s Investor Service– memberi rapor sangat positif terhadap iklim investasi Indonesia. Laporan OECD juga menempatkan Indonesia pada peringkat ke-72, atau naik sebanyak 19 tingkat dari posisi sebelumnya dalam hal kemudahan berusaha/berbisnis.

Saat rapor dan peringkat itu diumumkan, Presiden Jokowi menyatakan bahwa yang diperlukan adalah bekerja lebih keras lagi. Bekerja dengan pendekatan dan strategi yang tidak biasa, cara yang out of the boxes. Pesannya secara implisit adalah: Kita harus meraih posisi lebih baik, peringkat lebih tinggi.

Pesan tersebut juga disampaikan kembali oleh Presiden Jokowi pada rapat koordinasi dengan Kementerian Perdagangan, Rabu, 28 Januari 2018, di Istana Kepresidenan. Sekali lagi Presiden Jokowi mengingatkan bahwa posisi Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara, bahkan dengan Vietnam. Jika tidak waspada dan bekerja lebih keras, kemungkinan negara lain seperti Kamboja atau Laos bisa menyusul.

 

Tiga Diskusi Penting

Dalam sepekan ini, berkali-kali Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dipanggil oleh Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, selain mendampingi beberapa kegiatan Presiden di sejumlah tempat, termasuk dalam acara rapat koordinasi dengan Kementerian Perdagangan tersebut.

Selain berdiskusi dengan Presiden, pada pekan ini Moeldoko bertemu dengan beberapa pihak terkait upaya untuk mendongkrak investasi dan ekspor ini. Setidaknya, tiga lembaga yang berhubungan dengan investasi ditemuinya pada pekan ini.

Presiden Jokowi. (ISTIMEWA)

Tanggal 30 Januari 2018, Moeldoko bertemu dengan Rodrigo A. Chaves, Country Director Bank Dunia Group untuk Indonesia. Doktor ekonomi lulusan Ohio State University tersebut berdiskusi dengan Moeldoko tentang perkembangan ekonomi global dan bagaimana Indonesia memainkan peranannya.

“Indonesia adalah negara yang sangat besar, dan akan sangat menentukan dalam sistem ekonomi baru ini. Dunia membutuhkan Indonesia. Ini adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar, sementara kawasan-kawasan seperti Timur Tengah atau Afrika Utara tengah dilanda ketidakpastian,” ujar Rodrigo. Di situlah Indonesia akan memainkan peranan penting, di tengah-tengah perubahan geopolitik dan ekonomi dunia, karena dari sisi skala maupun sumber daya alam dan manusia, Indonesia memiliki semuanya.

Pria asal Kosta Rika tersebut melanjutkan, tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia adalah bagaimana tatakelola dan mengoordinasikan semua potensi yang dimiliki. “World Bank Group memiliki sumber daya manusia terbesar yang bekerja di Washington, AS. Dan Indonesia, World Bank adalah kantor terbesar kedua dengan karyawan kurang lebih 350 orang. Lebih besar daripada Tiongkok, Eropa, atau negara-negara lain. Kami melihat dan belajar banyak, menemukan pengalaman-pengalaman empirik di Indonesia, yang berguna bagi World Bank untuk menyusun kebijakan di negara-negara lainnya,” ujar Rodrigo.

Menurutnya, ada tiga kunci atau pilar yang dapat membuat apa yang sudah dicapai Indonesia selama ini dapat dijaga atau ditingkatkan. Pertama adalah indikator-indikator makroekonomi yang positif, sehingga memberi landasan yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi inilah yang merupakan pilar kedua mendorong kemajuan. Pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi, mengutamakan sektor riil dan berbasis pada ekonomi produktif di sektor riil.

Ketiga adalah bagaimana membuat masyarakat luas mendapatkan manfaat dari setiap kebijakan yang diambil oleh Pemerintah. “Kita harus dapat membuat semua masyarakat bahagia,” ujarnya.

“Sama seperti sebuah meja. Supaya meja dapat berdiri stabil, setidaknya diperlukan tiga kaki atau pilar,” terang Rodrigo. Untuk itulah kami menemui Pak Moeldoko, untuk mendiskusikan kebijakan-kebijakan yang bersifat good politics, good economy, dan good social.

Dua hari setelahnya, 1 Februari 2018, Kepala Staf Kepresidenan kemudian menemui Direktur Hubungan Global The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi Andreas Schaal di kantornya, Gedung Bina Graha, Jakarta.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (kiri) dan Presiden dan Chief Executive Officer (CEO) US-ASEAN Business Council atau Dewan Bisnis AS-ASEAN. Alexander C. Feldman. (ISTIMEWA)

 

Didampingi oleh Kepala Divisi Asia Tenggara OECD Alexander Bohmer dan Kepala Perwakilan OECD untuk Indonesia/ASEAN Massimo Geloso Grosso, Andreas dalam pertemuan tersebut menjelaskan, “OECD sangat gembira bahwa Indonesia selama ini telah menjadi mitra bagi OECD. Kemitraan dengan Indonesia, bagi OECD adalah sangat penting dan strategis, mengingat posisi Indonesia, baik secara regional maupun global.”

“Indonesia adalah salah satu mitra kunci (key partners) bagi OECD selain Tiongkok, Brazil, India, dan Afrika Selatan,” ujar Andreas. Mitra kunci adalah negara-negara yang berpotensi untuk melompat menjadi negara maju di masa depan. Oleh karena itu, kehadiran OECD di Indonesia adalah untuk membantu reformasi tatakelola dan kebijakan pemerintahan, dan sekaligus membantu mempersiapkan Indonesia untuk mencapai standar-standar yang berlaku dan telah diterapkan di negara-negara OECD.

Moeldoko menjelaskan, “Saat ini setidaknya sudah ada 15 kebijakan deregulasi yang sedang berjalan. Peringkat Indonesia dalam soal daya tarik investasi juga sudah meningkat secara signifikan. Termasuk peringkat dalam urusan kemudahan menjalankan bisnis di Indonesia (Ease of Doing Business), “ kata Moeldoko.

Presiden Joko Widodo, saat menyampaikan keterangannya. (Biro Pers Setpres)

Moeldoko menambahkan, “Peningkatan tersebut masih membutuhkan kerja keras dan Presiden Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia masih harus bekerja lebih keras. Dalam rapat kerja dengan Kementerian Perdagangan, Presiden secara tegas menyatakan bahwa kita harus mempercepat dan meningkatkan kinerja ekspor dan menaikkan pertumbuhan investasi.”

Sehari setelahnya, 2 Februari 2018, Moeldoko kembali bertemu dengan pihak yang berbeda. Kali ini adalah US-ASEAN Business Council atau Dewan Bisnis AS-ASEAN. Alexander C. Feldman, Presiden dan CEO organisasi tersebut, didampingi oleh Kepala Perwakilan US-ABC di Indonesia Desi Indrimayutri mengaku sangat senang bisa bertemu dengan salah satu orang dan lembaga kepercayaan Presiden Jokowi yakni Moeldoko.

Alex menjelaskan kepada Moeldoko, klien atau anggota dari US-ABC adalah 157 perusahaan dari 500 perusahaan yang terdaftar di dalam Fortune 500 atau 500 perusahaan paling terkemuka di dunia.

“Relationship is important,” kata Alex. Ia menambahkan, kerja sama dan dialog strategis sudah dilakukan antara Pemerintah Indonesia, baik oleh Presiden Jokowi dengan Barrack Obama ataupun Donald Trump. Oleh karena itu, ia dan organisasi yang dipimpinnya akan melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk menjaga kerja sama dan meningkatkan investasi di Indonesia.

Moeldoko merespons Alex dengan menegaskan bahwa dirinya sebagai Kepala Staf Kepresidenan dan mantan Panglima TNI, memastikan bahwa Pemerintah Indonesia memberikan jaminan penuh akan stabilitas dan keamanan para investor yang tertarik berbisnis di Indonesia. “Saya akan mengawal semua investasi yang ada di Indonesia dari sisi keamanan dan stabilitas. Indonesia sudah sangat dewasa dalam berdemokrasi, sehingga meskipun tahun ini akan berlangsung pemilihan kepala daerah di 171 kabupaten/kota, dan provinsi, saya sudah memonitor perkembangannya dan sejauh ini situasinya sangat kondusif,” ujar Moeldoko.

Presiden Indonesia, Joko Widodo. (ISTIMEWA)

Moeldoko menambahkan, ia ingin memperkuat hubungan bisnis yang sudah berlangsung antara Indonesia dan AS. “Hubungan AS dan Indonesia telah meningkat dari waktu ke waktu. Selain itu, terdapat perubahan yang sangat baik di Indonesia dari sisi peringkat investasi dan kemudahan bisnis. Tapi kita tidak puas, dan kita akan bekerja keras. Presiden juga telah dan terus berkoordinasi dengan para kepala daerah untuk meningkatkan investasi dan ekspor di wilayah yang mereka kelola,” ujarnya.

 

Investasi dan Ekspor

Pesan dan perintah Presiden Jokowi perihal peningkatan investasi di Indonesia dan upaya mendorong ekspor yang lebih tinggi adalah tantangan lintas sektor, yang tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu atau dua kementerian. Melalui Kantor Staf Presiden, Presiden menginginkan koordinasi yang lebih intensif dalam rangka mengejar ketertinggalan Indonesia dibanding negara-negara di Asia Tenggara.

Tiga pertemuan penting yang dilakukan oleh Kepala Staf Kepresidenan sepekan ini, setidaknya memberikan sinyal penting bagaimana Moeldoko dan timnya menerjemahkan dan menindaklanjuti perintah Presiden untuk dua urusan ini. (*)