Tak Berkontribusi, Kingmi Desak Tiga WNA di Jayawijaya Dipulangkan

0
223

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  –  Pengurus Sinode Kemah Injil Kingmi di Tanah Papua  mendesak tiga warga negara asing (WNA) di Kampung Gim-Ginem, Distrik Trikora, Kabupaten Jayawijaya , segera dipulangkan.

Bendahara Sinode Gereja Kemah Injil Kingmi di Tanah Papua, Pendeta Simon Hilapok, S.TH menilai sejak 2003, keberadaan tiga WNA yang kini membentuk Yayasan Pembinaan Masyarakat Pedalaman, tidak berkontribusi bagi warga setempat.

Dia khawatir kehadiran orang asing itu mulai menyebarkan pengaruh negatif kepada masyarakat dari sisi tata cara peribadatan hingga merubah penyebutan nama Tuhan Allah.

Keberadaan para orang asing itu, diduga bisa membawa dampak buruk bagi masyarakat kampung setempat, sebab menerapkan sejumlah hal yang tak biasa dalam gereja.

Seperti tidak mewajibkan jemaat memberi perpuluhan dan persembahan, tidak mewajibkan ada salib dalam gereja, sementara jemaat yang dapat mengikuti perjamuan kudus, tidak dibatasi bagi yang belum dibaptis.

“Makanya, kami dalam Raker klasis di Distrik Trikora sudah memutuskan bahwa WNA Belanda, Amerika dan PNG ini  tidak ada kontribusi, sehingga kita minta pemerintah turun untuk memulangkan,” serunya, dalam keterangan kepada pers di Jayapura, Jumat (26/1).

Dia menambahkan, dalam waktu dekat Sinode Kingmi akan membuat pernyataan sikap bersama jemaat untuk mendesak WNA agar segera dikembalikan ke negara asalnya. Pernyataan sikap akan disampaikan kepada Persatuan Gereja – Gereja di Papua (PGGP), Pemerintah Provinsi Papua serta pihak keamanan.

“Sebab misi mereka dipandang tidak bisa menolong masyarakat disana. Bahkan kita akan minta pemerintah untuk menelusuri surat ijin para WNA itu, apakah legal atau tidak,” terang dia.

Anggota DPRD Kabupaten Nduga, Sem Heluha, menyampaikan hal senada. Dia menyebut lembaganya bersama Sinode Kingmi berkoordinasi untuk mendesak pemulangan WNA itu, sebab misi yang dibawa oleh mereka dipandang tak jelas.

“WNA ini bahkan sampai mengambil jemaat Kingmi yang ada disitu untuk ikut beribadah dengan mereka. Hal seperti ini yang kita takutkan jangan sampai ajaran mereka justru berdampak negatif. Sebab, mereka datang mengganti bahasa dalam alkitab ke bahasa ibrani yang justru bisa membingungkan masyarakat kampung, yang masih awam itu,” ucap dia.

Dia berharap pemerintah provinsi cepat mengambi tindakan sebab tak ingin jemaat kami terkontaminasi dengan ajaran baru. “Sehingga pemerintah dan pihak keamanan perlu menyikapi ini dan segera mengambil tindakan”.

“Jangan sampai masuknya ajaran itu, terjadi dualisme aliran gereja di Kampung Gim-Ginem, Distrik Trikora. Sebab sekarang saja jemaat Kingmi sudah terpecah di kampung itu, bahkan sebagian besar mengikuti aliran yang mereka bawa,” keluhnya.(Erwin  / Koran Harian Pagi Papua)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here