Aloysius Giyai Tegaskan Dirinya Sebagai ASN Tetap Netral di Pilgub Papua

0
9
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg Aloysius Giyai, M.Kes. (Fransisca/LintasPapua.com)
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg Aloysius Giay, M.Kes. (Fransisca/LintasPapua.com)

 

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  –  Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg Aloysius Giay, M.Kes, menyatakan bahwa dirinya berada di posisi netral dan tidak berpihak kepada salah satu calon Gubernur Papua 2018, beliau juga menyampaikan sepenuhnya hasil test kesehatan sepenuhnya wewenang dokter ahli murni yang melakukan test bagi calon Gubernur.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua,  drg Aloysius Giay, M.Kes, menuturkan,Pasti dirinya  memilih netral, dan tidak ada intervensi kelompok ini itu, apalagi kami jajaran Management Rumah Sakit Dok II Jayapura  intervensi tidak ada benang merahnya.

“Cuma kami di beri kepercayaan untuk siap kan dokter yang memeriksa, kami panitia khusus, kalau Sudah menyangkut keahlian, siapapun tidak bisa di tendensi, apalagi kita berada ranah profesi bukan ranah politik, kita bekerja di sumpah dokter,” ujar Aloysius Giyai,  kepada media di Jayapura, Jumat (12/1/2018).

Dikatakan, bahwa dirinya di sumpah jabatan menjadi kepala dinas Provinsi untuk sepenuhnya bekerja mengabdikan diri kepada Masyarakat.

“Harus menjaga netralitas,menjaga profesionalisme, kompetensi, mengabdi pada kinerja. Kami direktur dan jajaran tidak ada sangkut pautnya dengan keputusan hasil pemeriksaan kesehatan, semua wewenang dokter ahli, wewenang IDI yang memeriksa,” jelasnya.

Ketika ditanyakan menyangkut video yang viral, mantan Direktur RSUD Abepura ini menjelaskan, bahwa  mengenai video yang beredar itu video acara adat, bahwa dirinya  adalah  penatua di minta Oleh suku Meepago untuk mengantar dalam acara adat.

“Saya ini kepala suku besar mereka, adat itu harus, kita ini tidak pakai jabatan kepala dinas kah, ASN kah tidak ada sangkut pautnya,kita kerja cerdas, kita harus melihat kondisi kita, pejabat kah, birokrat kah, atau tokoh umat di gereja? Kita harus menempatkan diri dengan baik, jadi kalau saya berada di gereja, apakah saya menjadi fanatik agama? Kan tidak, kalau saya berada di gereja harus munculkan warna gereja saya,  karena itu bagian iman saya, bukan dikaitkan dengan kepala dinas, direktur Rumah sakit kan tidak,” ungkapnya.

Putra asli Deiyai ini menuturkan, bahwa  saat itu acara pak Lukas Enembe diangkat menjadi kepala suku besar Papua, dirinya  disana hadir memakai simbol adat, tolong jangan provokasi.

“Masalah ini saya angap misskomunikasi, salah faham, saya harap tidak terjadi lagi, harus bedakan, HMS itu bapa mantu saya, dan semua paslon itu saudara saya, tidak bisa berpihak pada salah satu saja,” tandasnya. (Fransisca /LintasPapua.com)