Pemprov Papua Prioritaskan Pengembangan Komoditas Lokal

0
326
Gerabah merupakan alat dapur berbentuk wadah terbuat dari tanah liat yang dibakar dan memiliki fungsi untuk memasak berbagai makanan, seperti papeda, keladi, ubi, ikan dan sayur. Gerabah juga dapat digunakan untuk menyimpan sagu dan air. Masyarakat Kampung Abar, Sentani menyebut hele untuk gerabah berukuran besar dan sempe untuk gerabah berukuran kecil. Tampak digunakan untuk papeda dan ikan mujair bakar, dalam kegiatan pesta masyarakat Kampung Abar. (Eveeerth Joumilena)
Sekretaris Daerah (Sekda) Papua, Hery Dosinaen, saat wawancara. (Erwin)

JAYAPURA (LINTAS  PAPUA)  –  Pemerintah Provinsi Papua pada tahun ini masih akan tetap memprioritaskan pengembangan komoditas unggulan lokal guna meningkatkan perekonomian serta memacu investasi di Bumi Cenderawasih.

Meski begitu, kata Sekda Papua,  Hery Dosinaen, pengembangan komoditas unggulan lokal ini, masih akan memperhatikan nilai-nilai adat dan sumber daya alam Papua tetap lestari dalam mendukung kualitas hidup dan kemandirian kampung.

Hal ini disampaikan Hery Dosinaen saat memberikan keterangan kepada pers, kemarin di Jayapura.

Hal penting lain, kata dia, pembangunan dengan transportasi terpadu semakin kita pacu dan percepat, guna menerobos keterisolasian wilayah, sekaligus penyediaan energi listrik, penyediaan perumahan layak huni serta pemenuhan air bersih.

“Yang pasti kita ingin juga membenahi akses transportasi kita supaya dengan diterobosnya keterisolasian, upaya pengembangan komoditas unggulan ini bisa menjadi maksimal”.

“Tentunya, perlu juga dukungan bidang lainnya seperti ketersediaan energi listrik serta air bersih. Sebab tanpa semuanya itu, upaya kita untuk meningkatkan ekonomi daerah akan sia-sia,” kata dia.

Dia katakan, dampak pembangunan yang dilakukan pemerintah provinsi beberapa tahun terakhir, sudah mulai terasa dan telah memiliki dampak secara umum bagi masyarakat. Misalnya pembangunan infrastruktur jalan yang semakin nampak, sehingga secara kasat mata harus diakui.

Sejumlah makanan olahan khas Papua mulai dari tepung sagu, es krim ubi jalar, kopi dan lainnya yang diharapkan mulai disediakan pada sejumlah operator penerbangan 2018 mendatang. (Erwin / Koran Harian Pagi Papua)

Dia pun mengklaim ekonomi Bumi Cenderawasih sampai dengan triwulan III 2016 tumbuh 20,65 persen dibandingkan triwulan III 2015. Dimana kondisi ini jauh lebih baik dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan III 2016 yang hanya 5,02 persen.

Dilain pihak, pertumbuhan ekonomi Papua juga berkolerasi erat dengan makin membaiknya kesejahteraan masyarakat yang tergambar dari penurunan angka kemiskinan, yakni dari 31,15 persen pada 2013 menjadi 28,54 persen pada Maret 2016.

“Pencapaian pembangunan ini, tentunya tak lepas dari pelaksanaan berbagai prioritas pembangunan melalui gerakan bangkit, mandiri dan sejahtera. Untuk itu, kita akan tetap berupaya supaya ekonomi semakin membaik. Tentunya dengan penerapan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat kita,” pungkasnya. (Erwin  / Koran Harian Pagi Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here