Presiden Tegaskan Natal Harus Jadi Momentum Pembawa Semangat Perubahan

0
2
Presiden Joko Widodo ketika menyampaikan sambutan pada Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2017 di Rumah Radakng, Kota Pontianak, Provinsi Jawa Barat, Kamis 28 Desember 2017. (Foto Kris / Biro Pers Setpres)
Suasana Perayaan Natal Bersama 2017 di Pontianak. (Foto Kris / Biro Pers Setpres)

PONTIANAK (LINTAS PAPUA)  –  Natal harus membawa perubahan sikap mendasar dalam kehidupan bersama sebagai bangsa karena dunia telah berubah dengan cepat dan perubahan tidak bisa dibendung lagi. Pernyataan ini disampaikan Presiden Joko Widodo ketika menyampaikan sambutan pada Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2017 di Rumah Radakng, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Kamis 28 Desember 2017.

 

“Jika tidak mau tertinggal dengan perubahan, maka kita  harus menyiapkan diri beradaptasi dan mengantisipasi dengan cepat setiap gelombang perubahan yang terjadi,” ucap Presiden.

 

Untuk itu Natal bukan semata-mata perayaan seremonial belaka. Tapi harus bisa menjadi momentum untuk membawa semangat perubahan, semangat mengejar ketertinggalan, semangat kemajuan dan semangat bahwa hari esok harus lebih baik dari hari ini.

Masyarakat Kalimantan Barat, dengan baju adat sambil mempersembahkan pujian. (Foto Kris / Biro Pers Setpres)

“Natal juga harus membawa semangat kesahajaan, semangat untuk berani mengatakan cukup, semangat rela berbagi serta semangat untuk memperkecil jurang ketimpangan antara si kaya dan si miskin. Itulah yang perlu kita selalu ingat dalam setiap momentum perayaan Natal untuk membawa semangat baru membawa semangat perubahan,” kata Kepala Negara.

 

Semangat Cinta Kasih

 

Di awal sambutannya, Presiden mengatakan bahwa di dalam kebaktian-kebaktian Natal akan ditemukan sebuah pemandangan indah ketika cahaya lilin-lilin kecil dinyalakan oleh jemaat oleh umat Kristiani di seluruh tanah air.

Pastor saat mentabhiskan ibadah Natal bersama Presiden Joko Widodo dan jajarannya. (Foto Kris / Biro Pers Setpres)

Cahaya lilin yang menjadi lambang terang di dalam kehidupan, yang menjadi simbol pemandu dalam kegelapan. Cahaya yang mengingatkan nilai-nilai Ketuhanan, nilai-nilai Keutamaan bahwa manusia haruslah saling mengasihi, saling menjaga dan saling mencintai.

 

“Nilai-nilai inilah yang dibutuhkan negara kita, Indonesia hari ini maupun di masa-masa yang akan datang terlebih dalam menjalani kodrat kita untuk hidup dalam keragaman, dalam kebhinnekaan,” ujar Presiden.

 

Keragaman yang perlu dirawat dengan cinta kasih, untuk terus menjaga persaudaraan, menjaga kebersamaan, menjaga kerukunan dalam jalinan Bhinneka Tunggal Ika.

Presiden Joko Widodo ketika menyampaikan sambutan pada Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2017 di Rumah Radakng, Kota Pontianak, Provinsi Jawa Barat, Kamis 28 Desember 2017. (Foto Kris / Biro Pers Setpres)

“Dengan balutan cinta kasih kita akan saling menghormati, kita akan saling menghargai, kita akan saling menjaga, kita akan saling melindungi sesama anak bangsa,” tuturnya.

 

Presiden meyakini bahwa semangat cinta kasih akan menghadirkan kedamaian di hati akan menebarkan kedamaian di seluruh penjuru tanah air dan menyebarkan perdamaian abadi di seluruh muka bumi.

Presiden Jokowi saat bersalam – salaman dalam suasana Natal dengan seorang hamba Tuhan, (Foto Kris / Biro Pers Setpres)

“Semangat cinta kasih akan menjadikan kita semua bisa bersatu untuk menghadapi semua tantangan-tantangan  sebagai bangsa serta secara bersama-sama berjuang  menghadirkan kesejahteraan bersama bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar Presiden yang hadir bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo.

Tampak hadir pada perayaan Natal bersama ini antara lain, Wakil Presiden keenam Try Sutrisno, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri ESDM Ignasius Jonan yang juga Ketua Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2017, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian serta Gubernur Kalimantan Barat Cornelis. (Eveerth Joumilena)