Dari Liga Super s/d Liga Go – Jek, Persipura Tetap Miskin, Mengapa ???

0
690
Ilustrasi suasana Persipura saat bermain di Lapangan Mandala, saat melawan Bali United, dengan kemenangan 3 – 1. (Eveerth Joumilena /Koran Harian Pagi Papua)

Oleh : Benyamin Jensenem. (mantan pemain Persipura periode 1970-an)

 

Setiap awal musim kompetisi, Persipura selalu berhadapan dengan masalah yang sama yaitu TIDAK ADA SPONSOR atau Belum ada Calon Sponsor. Latihan belum bisa berjalan, karena belum cukup dana, kita masih menunggu sumbangan atau bantuan dll.

 

menyedihkan sekali, padahal Persipura ini pemenang 5 musim Kompetisi Profesional sejak awal tahun 2000-an, mana mungkin tidak memiliki saldo positif untuk membiayai kegiatan Operasional sebelum datang malaikat Gabriel ? Namanya saja keren, Club professional, saya jadi terbayang sama seperti club-club professional di Negara-negara luar yang mampu membiayai hidupnya dari kompetisi tersebut. Analogie professional adalah, sebuah pekerjaan dengan kompensasi Besar .

Pertanyaan saya adalah :

  1. Apakah kompetisi sepak-bola professional telah memberikan kontribusi positif bagi organisasi club Persepak bolaan professional di Indonesia?
  2. Apakah Liga-Gojek dapat memberikan perubahan yang signifikan untuk menghidupkan sepak bola profesional di Indonesia setelah kegagalan Liga Super Indonesia ?
  3. Apakah Persipura professional masih mampu bertahan untuk mengikuti kompetisi professional ?
  4. Apabila tidak, lalu bagaimana kelanjutan hidup Persipura-Ku ? Jangan sampai dia mengalami nasib sama dengan Saudaranya yang sudah gugur dan terkubur kedalam tanahnya sendiri lebih dulu ?

Saudara-ku yang baik, Persipura adalah almamater kita, rasanya tidak sampai hati kita meninggalkan dia merana diatas tanah ini, saya mengajak semua komponen untuk bersama memikirkan dan memberikan masukkan kepada Operator Kompetisi agar merubah system pendapatan dari kompetisi liga professional yang tidak memberikan keuntungan bagi club-peserta yang berada diluar pulau Jawa.

Sistem yang digunakan oleh Operator Liga Dunhill sampai dengan Liga Super Indonesia (LSI) yang dulu sangat dibanggakan, TIDAK MEMBERIKAN KEUNTUNGAN KEPADA club-club yang nota-bene berada diluar pulau Jawa, karena beban biaya transportase yang sangat mahal. Ini masalah yang dialami oleh sebuah club-Pro.yang wajib menanggung biaya secara mandiri, sehingga Persipura harus memikul beban tersebut sepanjang musim, sementara club-club lainnya hanya sekali saja.

 

Bayangkan jika 17 kali  kita harus pergi pulang, sementara pertandingan di Mandala lebih banyak gratisnya dari pada yang sadar untuk membeli karcis. Terus terang saya umumkan disini, jika sejak tahun 2012 sampai dengan sekarang, saya tidak pernah menonton langsung  jika Persipura-ku bertanding di stadion Mandala, bukan hanya karena pernah ditegur oleh seorang saudara, mengapa pengurus LPI harus menonton LSI , tetapi  saya tidak mau menonton karena sedih melihat begitu banyak karcis biasa menjadi luar-biasa tetapi hasilnya tidak diketahui dan begitu banyak saudara yang merasa Gagah jika bisa masuk gratis.

 

Berikut  adalah sebuah kisah pembanding, tentang bagaimana mengelola sebuah Kompetisi yang memberikan Keuntungan bagi anggota club professional peserta kompetisi. Pada tahun 2011, Bpk. Arifin Panogoro menyediakan dana 3 Trilyun rph, membentuk satu Liga Profesional yang bernama “Liga Premier Indonesia” (LPI) untuk menunjukkan kepada pemerintah dan penonton gila sepakbola (Grazy-Fiewers) Indonesia tentang pengelolaan Kompetisi yang benar-benar professional, bebas dari pengaturan score dan bebas dari penggunaan Dana APBD, dan memberikan ke-UNTUNGAN kepada club anggota. Jadi selalu ada  sharing atas pendapatan selama kompetisi berputar, sehingga anggota Liga  akan mengalami pendapatan yang merata,  tidak seperti saat ini dimana sebagian club (diluar pulau jawa) tetap miskin dan sebagian menjadi kaya (khususnya di p.jawa).

 

Di kompetisi LPI  setiap club dapat bertumbuh menjadi club yang benar-benar professional karna mampu membiayai dirinya sendiri dari hasil pertandingannya. Asosiasi Mantan Pemain Persipura (AMPP) di Jayapura adalah agen LPI di tanah Papua. Sistem Kompetisi LPI dikelola oleh sebuah Konsorsium professional dan transparan tentang pembagian keuntungan dan subsidi silang pada akhir musim, sehingga setiap  club-anggota LPI akan menikmati keuntungan dari penyelenggaraan kompetisi tersebut.

Boaz Solossa, Kapten Tim Persipura Jayapura. ikut memberikan pesta kemenangan bagi Mutiara Hitam Papua.
(Geis Muguri)

Ada 5 aspek keuntungan yang diperoleh yang struktur & komposisinya sebagai berikut :

  1. Pembagian Pendapatan atas kontrak siar/penyiaran dengan salah satu stasiun Televisi Nasional sebesar 50-50 yaitu, 50% pertama untuk Konsorsium dan 50% berikut dibagi rata kepada 18 anggota LPI (club anggota LPI level Satu berjumlah 18 club ).
  2. Pembagian Pendapatan atas Penjualan Karcis ada 2 bagian yaitu, ketika pertandingan Home, hasil penjualan karcis adalah sbb : 75% untuk Tuan rumah (Home), dan 25 % disetor ke Konsorsium demikian pula Club lainnya yang bertanding pada hari yang sama. Kemudian setelah akhir musim kompetisi , dari 25% yang terkumpul selama 17 kali pertandingan, hasilnya dibagi rata kepada semua club anggota LPI.  Jadi (contoh) :, jika satu pertandingan rata-rata menghasilkan 50 juta rp, maka 17 x 50juta =rp.850 juta,- x 1 musim (306 pertandingan) =rp.260.1  milyard , sehingga pada akhir musim kita mendapat subsidi silang yaitu, rp.260,1 milyard dibagi 18 club, maka setiap club anggota berhak menerima 14 milyard rupiah. Perhatikan : jika Persipura main di Stadion Mandala penontonnya Cuma berjumlah lk.5000-an , tetapi jika bertanding di Jakarta, Bandung, Palembang dll, jumlah penonton bisa mencapai 30.000 lebih , artinya, jika Persipura bermain di Mandala kita dapat penghasilan karcis sedikit tetapi diluar Mandala, pendapatan kita jauh 3-4 kali lebih banyak, sehingga dengan system ini akan sangat menolong kita jika system pembagian hasil penjualan karcis diatur kembali.
  3. Setiap Club (LPI) diberikan kebebasan untuk bekerja-sama dengan satu TV lokal (hak siar) dan jika ada keuntungan maka keuntungan tsb merupakan pendapatan club tsb. (100%), termasuk kerjasama bagi hasil dengan sponsor2 local, semuanya akan menjadi pendapatan masing2 club.
  4. Semua hasil penjualan Merchendise (Kaos, topi, embly dll) yang menggunakan nama / logo Persipura harus disetor kepada Bendahara Persipura.
  5. Setiap club anggota LPI mempunyai hak untuk menerima bagian keuntungan Konsorsium (Share Modal) secara bertahap selama 5 – 7 tahun. Diperkirakan pada tahun ke-7, kepemilikan saham telah beralih menjadi 49% – 51% bagi setiap anggota (club). Jadi, jika tahun pertama kita hanya berhak memiliki 5% dari Saham mayoritas , tetapi setelah 7 tahun kemudian, jika kompetisinya subur, posisi kepemilikan Saham akan berubah alias bertambah terus sehingga pada titik equivalen sesuai kontrak, kita akan menjadi pemilik saham mayoritas.

Dan setiap Club akan mendapat bantuan managemen dari LPI-pusat, selama belum mampu mandiri.

Boaz Solossa, dalam aksinya dilapangan Mandala, sebagai Kapten Persipura yang membuka semangat Tim Mutiara Hitam di menit ke 83. (ISTIMEWA)

Jadi,  melalui kompetisi dengan system yang dibangun oleh Liga Premier Indonesia (LPI), akan merubah wajah persepakbolaan di Indonesia, dimana club-club anggota akan semakin gemuk dan tidak sebaliknya seperti Persipura (Nama Besar, tetapi Kurus) yang  hidupnya hanya bergantung kepada Badan Usaha lain dan disisi lain harus memanfaatkan Nama papua atau dengan Slogan “demi Papua” sebagai sebuah harga diri untuk mencari – mendapatkan bantuan.

 

Saya tahu, bahwa PT.Freeport dan B.Papua mau membantu hanya karena Konsekwensi logis-Social, yaitu sebagai perusahaan yang berada di tanah papua dan belum tentu akan demikian, seandainya mereka tidak berada disini. Perlu diketahui bahwa, Kompetisi sepakbola terbaik didunia adalah kompetisi yang dikelola oleh England Premier Leque (Liga Premier Inggris) dan LPI(Indonesia) telah mengantongi lisensi tersebut.

Itulah 5 aspek keuntungan yang ditawarkan oleh LPI kepada Persipura, Persiwa , Persidafon dan Persiram pada waktu itu, tetapi karena Bapak-Bapak Pengurus Tidak mau kerjasama karena merasa lebih tahu soal persepak-bolaan, sehingga tidak bersedia menerima penawaran LPI melalui AMPP, malah sebaliknya bersekutu dengan sdr.Djoko Driono yang Nota-Bene adalah Sekjen LSI,  menggiring Persipura menjadi agen dari club-club setanah Papua,  yang akhirnya mengubur club-club professional kita berturut-turut dan gulung tikar diatas tanahnya sendiri karena tidak mampu membiayai diri sendiri. Sungguh sangat menyedihkan jika menoleh kebelakang, sekarang nasi sudah menjadi bubur, siapa yang mampu membangkitkan kebanggaan ini lagi ? Orang bijak mengatakan , “jangan menoleh kebelakang, arahkanlah wajahmu kedepan, agar kamu hidup “.

Suasana Pertandingan Persipura saat menghadapi Perseru di Lapangan Mandala, harus puas berbagi satu poin. (Eveerth Joumilena /LintasPapua.com)

Sebagai tambahan pengalaman kepada kita sekalian bahwa, sepakbola professional adalah sebuah Sport-Discipline, jangan mengelola cabang Olagraga ini dengan menggunakan pola Birokrasi-Amateur, jika ingin bersaing untuk mendatangkan pemain mahal kelas dunia maka kita wajib merubah pola dan manajemen, Kita wajib  melakukan pembangunan akademi sepak-bola Papua sebagai fabric yang melahirkan pemain professional, kita wajib melakukan kompetisi internal sebagai inhouse training bagi setiap calon pemain menuju profesionalisme. Jika hal ini tidak dilaksanakan maka,  Beginilah nasib kita, mudah2an tidak terjadi bagi Persipura-ku, slamat berdiskusi semoga sukses di tahun yang baru 2018. (***)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here