Ketum GMKI : Momentum Natal 2017, Jalin Hidup Damai Dengan Semua Ciptaan

0
653
Ketua Umum Pengurus PACusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI), Sahat Martin Philip Sinurat. (Richard Mayor)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  –  Natal merupakan momentum paling bersejarah bagi

dunia dan seluruh umat manusia. Kelahiran Kristus hendaklah tidak kita
maknai sebagai sebuah ritual yang berulang dan kosong tanpa makna.
Kelahiran-Nya sebagai pertanda bahwa kabar sukacita dan keselamatan
sedang diberitakan, kedamaian memenuhi bumi dan pembebasan manusia
dari belenggu dosa yaitu pembebasan yang holistik.
Demikian dikatakan Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen
Indonesia (PP GMKI), Sahat Martin Philip Sinurat dalam Realisnya yang
diterima, Sabtu (16/12/ 2017).
Menurut Ketua Umum PP GMKI, Sahat Martin Philip Sinurat,”kedatanganya sebagai pentahiran manusia. Kedatangan Kristus sebagai pertanda perubahan, kedamaian dan keadilan bersemayam sampai keujung-ujung
bumi. Kehadirannya dimaknai ketika Tuhan merendahkan diri dan hatinya, menjadi manusia yang sederhana. Hadirnya Yesus ke dunia adalah untuk memberikan teladan secara nyata, bagaimana manusia yang sejati”.
“Bagaimana seharusnya pikiran, ucapan, dan tindakan dari seorang manusia seutuhnya. Yesus menjadi contoh bagi kita, bagaimana keugaharian seorang manusia, yang hidup bersosial dan juga berlingkungan. Maka, umat Kristen haruslah menjadi umat yang penuh dengan keugaharian. Mengutamakan kesederhanaan dan kebercukupan. Memberikan perhatian yang besar kepada hubungan sosial dan lingkungan. Menjalin hidup damai dengan semua ciptaan”. kata Sinurat.
Ketua Umum GMKI itu juga menyebut, keugaharian menjadi penting saat ini, di tengah kondisi masyarakat kita yang terkena sindrom globalisasi dan cenderung konsumtif. Berkeluh kesah dan ketidakpuasan
lebih utama ketimbang mengucap syukur. Rasa iri dan cemburu lebih dikedepankan daripada toleransi dan hidup gotong royong. Kisah hidup Yesus dan gereja mula-mula mengajarkan kita bagaimana hidup seorang.

Kristen sejati. Mengutamakan tidak hanya diri sendiri tapi juga sesama. Hidup berbagi sehingga setiap orang dapat merasakan kebersamaan dan kebahagiaan.

Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI), Sahat Martin Philip Sinurat , dalam sebuah kegiatan lainnya. (istimewa)

 

Saling membantu dan kerja bersama, ujar Ketum GMKI yakni, melalui momen kelahiran-Nya, GMKI hadir sebagai duta Kristus di bumi, yang senantiasa bergerak untuk menghadirkan kedamaian dan pembebasan
holistik di nusantara.
Dengan segala keterbatasannya tidak menghalangi seluruh kader GMKI untuk menyuarakan dan mewujudkan kebenaran, keadilan, perdamaian, demokrasi dan keutuhan ciptaan. GMKI harus dan akan selalu hadir dan
menampilkan wajah Kristus (Christian Presence) dalam konteks Ke-Indonesiaan. Apalagi saat ini bangsa Indonesia sedang diterpa berbagai macam permasalahan yang berpotensi memecah belah bangsa. GMKI
sebagai duta pembebasan harus mampu menampilkan wajah Yesus Sang Pembebas dalam setiap pergerakannya.
Tema GMKI masa Bakti 2016-2018 : “Berdamailah dengan Semua Ciptaan ! (Kol. 1:15-23) dan Sub Tema: “Membudayakan hidup damai dan adil dalam membangun relasi dengan semua ciptaan sebagai wujud persaudaraan di Negara Pancasila”.
Momentum kelahiran Yesus Kristus harus dimaknai dengan keberpihakan-Nya kepada orang miskin seperti dalam Kitab Yesaya 61 : 1-2. Kesenjangan sosial dan ekonomi di Indonesia yang masih tinggi,
terkhusus antara masyarakat kota dan desa, mengharuskan GMKI untuk mengambil posisi dengan keberpihakannya kepada “si miskin” dengan hadir di tengah rakyat.

“Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Lukas 10:2). Kristus pun hadir di bumi sebagai orang miskin, dibuktikan ketika ritus purifikasinya dimana orangtuanya mempersembahkan burung merpati (Lukas
2 : 24). GMKI adalah pekerja yang mengabdikan diri bagi Kristus,” jelas Sinurat.
Ia pun memesan dalam Realis itu, Hal pertama yang harus dilakukan GMKI adalah menegaskan komitmennya kepada Kristus dan Indonesia kemudian mentransformasikan dirinya dengan menyelami realitas dan membangun hubungan yang dialogis dengan rakyat, lalu turut merasakan penderitaan rakyat.
Kesenjangan ekonomi dan sosial yang terjadi di  Indonesia perlu segera di benahi. Masih banyaknya rakyat miskin di Indonesia, terkhusus di kawasan pedesaan mengindikasikan banyaknya tuaian yang harus dikerjakan.
Ia pun mencotohkan, jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 27,77 juta orang dengan 17,10 juta orang yang tinggal di daerah pedesaan.
Maka tantanggan tahun pelayanan GMKI di tahun 2018 yakni, GMKI  harus berperan  dalam melindungi, menjaga, dan melestarikan kehidupan masyarakat desa, yakni hidup damai, rukun, toleran, gotong royong, dan
melestarikan budaya dan lingkungan.pungkasnya. (Richard Mayor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here