Pilgub Papua 2018 Mau Dibawa Kemana nih ???

0
379
Ilustrasi Pemilukada, mau tidak mau rakyat sering menjadi korban elit, sehingga pemimpin yang terpilih harus bisa melihat masyarakat. (LintasPapua.com)
Ramses Ohee, saat memberikan keterangan pers. (Roy / Koran Harian Pagi Papua)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Dalam dekat ini, akan berlangsung Pemilu Kepala Daerah di Kabupaten dan Provinsi Papua. Di era demokrasi, masyarakat lah yang bakal menjadi penentu siapa yang bakal memimpin daerahnya masing-masing.

 

Untuk itu diharapkan, masyarakat untuk bijaksana dalam memberikan hak suaranya kepada para calon di masing-masing daerah yang melaksanakan pemilu, terlebih khusus bagi seluruh masyarakat Papua yang akan menentukan Gubernur dan Wakil Gubernur untuk memimpin tanah Papua lima tahun kedepan.

 

Hal itu di ungkapkan, Ketua Umum Barisan Merah Putih, Ramses Ohee kepada wartawan, saat mengelar konfrensi pers di Kota Jayapura, dalam mewujudkan pemilu aman dan damai, Senin (11/12/2017).

 

Ramses yang juga salah satu tokoh adat terkemuka di Papua, mengharapkan kepada masyarakat tak terpancing dalam isu-isu yang beredar di lingkungan tempat tinggal mereka.

 

“Jadi, ketika pemilu berlangsung. Kita semua harus siap angkat topi dan menerima siapa pun calon yang terpilih di daerah mereka masing-masing. Jangan, malah kita bertahan dengan satu calon yang kita dukung, baik itu keluarga, kerabat atau pun kolega,” ungkapnya.

 

Menurutnya, tak ada larangan bagi siapa pun dari masyarakat untuk mendukung calon yang dianggapnya seorang figur yang mampu membawa perubahan. Namun, semua dukungan yang diberikan harus mengunakan hati yang tulus dan penuh kebenaran, sehingga pelaksanaan pemilu itu bisa berlangsung aman dan damai.

 

“Tidak boleh ada hasut menghasut. Apalagi melakukan kekacauan, hanya demi kepentingan politik. Kita harus menjadi orang yang takut akan Tuhan. Proses pilkada harus menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. Itu akan terwujud, apabila kita sebagai masyarakat mendukung pelaksanaan pilkada dengan aman dan damai,” paparnya.

 

Ramses berharap kepada anak-anak Papua yang bakal menjadi calon peserta pemilihan, untuk melakukan kesepakatan bersama dengan lawannya, untuk menerima kemenangan dan kekalahannya pada saat pelaksanaan pilkada.

 

“Tak hanya itu. Semua pasangan calon harus membuat janji, bahwa massanya tak akan membuat gerakan tambahan, yang membuat keributan, ketika mengetahui calon yang di usungnya kalah. Kalau tak mampu. Jangan coba-coba maju. Sebab, yang ada akan terjadi keributan yang meresahkan banyak orang,” pungkasnya.

 

Ramses menaruh harapan besar kepada seluruh penyelenggara pemilu, termasuk Polri, TNI dan ASN, untuk bersikap netral dalam melaksanakan tugas mereka masing-masing di dalam pelaksanaan pemilu.

 

 

“Netral adalah kunci kejujuran. Ketika kejujuran di utamakan, pasti tak akan ada yang tercedrai dan semua pihak tentu akan mendukung. Libatkan semua orang tua yang ada di tanah ini. Agar ketika terjadi permasalahan, kami sebagai orang tua bisa mengambil peran,” pungkasnya.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama, Pdt. Lipiyus Biniluk, saat diwawancara. (Roy / Koran Harian Pagi Papua)

Hal senada di sampaikan, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama, Pdt. Lipiyus Biniluk, yakni bahwa kunci untuk mensukseskan pilkada adalah bersama-sama menciptakan, kerukukunan, kedamaian di tanah ini.

 

“Mereka yang sudah siap maju, harus sudah punya komitmen, ketika lah harus bersyukur dan menang juga bersyukur. Kalau mental belum siap atau belum mau kalah, saran saya jangan maju,” ungkapnya kepada wartawan.

 

Lipiyus mengharapkan kepada seluruh tim sukses harus bekerja secara professional dan tidak melakukan provokasi dan kesalahan yang dilakukan pihak lawan. Hal itu nantinya dapat memicu konflik diantara mereka sendiri.

 

“Harus ada komitmen bersama diantara seluruh pasangan calon. Kita apresiasi langkah Polda Papua, yang bakal mengumpulkan semua figure-figur anak Papua yang sudah di dengungkan akan maju di daerah mereka masing-masing atau juga pada pilkada Gubernur Papua, yang akan dilaksanakan secara serentak,” pungkasnya.

 

Lipiyus menegaskan, semua tokoh agama yang ada di Papua ini melihat adanya korban jiwa atas pelaksanan pilkada.

 

“Kami sudah sepakat, tak boleh mimbar tempat ibadah dijadikan tempat kampanye. Khotbah di mimbar harus digunakan untuk kepentingan dalam menciptakan kedamaian,” ujarnya.

Nerius Katagame, Tokoh dari Kabupaten Mimika. (Roy / Koran Harian Pagi Papua)

Sementara itu, Nerius Katagame, Tokoh dari Kabupaten Mimika berpesan,  kepada penyelenggara pemilu untuk bekerja secara professional dalam tahapan-tahapan pemilu yang saat ini sudah mulai berjalan, khususnya di Kabupaten Mimika.

 

“Jangan sampai ulah penyelenggara pemilu, terlebih khusus KPUD, daerah Mimika menjadi konflik dan terjadi korban jiwa. Karen, atas ulah KPU, banyak permasalahan terjadi di daerah ini, salah satunya roda pemerintahan tak berjalan kurang lebih lima tahun ini,” kata Nerius yang juga sebagai Kepala Suku Amungme.

 

Nerius juga mengharapkan kepada para calon bersaing dalam politik dengan sehat, jangan sampai ulah mereka memecah belah masyarakat.

 

“Saya harapkan 7 suku masyarakat di sini dan seluruh masyarakat Papua, jangan merasa satu calon yang di pilihnya yang terbaik. Namun, mari kita memilih tanpa ada interpensi. Karena siap pun mereka yang terpilih, dia adalah pilihan Tuhan. Oleh sebab itu kita mendukungnya,” paparnya. (Roy / Koran Harian Pagi Papua)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here