Mengenal Sosok John Wempi Wetipo : Merubah Wajah Kota Wamena Menjadi Modern (Bagian IV)

John Wempi Wetipo. (istimewa)

Merubah wajah kota Wamena yang terkesan kumuh menjadi kota modern taNpa melupakan pemberdayaan Orang Asli Papua

WAMENA   (LINTAS  PAPUA) –  Sejak dilantik oleh Gubernur Papua, Barnabas Suebu, pada 23 Desember 2008, John Wempi Wetipo langsung mengeluarkan idenya  untuk merubah kabupaten yang berkedudukan di Lembah Baliem tersebut. 

Dengan mengusung moto yaitu “Yogotok Hubuluk Motok Hanarogo” artinya hari esok harus lebih baik dari hari ini” menjadi acuan John Wempi Wetipo yang didampingi John Richad Bunua untuk membangun Kabupaten Jayawijaya.

Meski kabupaten Jayawijaya telah dimekarkan menjadi delapan kabupaten, secara geografi Jayawijaya masuk dalam daerah sangat sulit, karena semua arus barang dan jasa hanya bisa melalui jalur udara.

Hal inilah yang membuat proses pembangunan bagi berbagai pihak sangat dan lamban dan terkesan jalan di tempat. Inilah yang memacu semangan suami dari Yakoba Lokbere ini membangun Jayawijaya.

Dengan semangat jiwa muda Wempi Wetipo merubah waja kota Wamena yang terkesan kumuh menjadi kota modern. Sejumlah gebrakan dilakukan dimulai menata kota Wamena.

Penataan kota Wamena sebagai ibu kota Jayawijaya dimulai dengan menata bangunan di jalan-jalan utama kota Wamena secara seragan dengan bentuk Honai berwarna hijau.

Bagi John Wempi Wetipo, Honai adalah cirikhas masyarakat pegunungan tengah umumnya dan suku dani khususnya sebagai pemilik lembah baliem. Sedang warna hijau adalah warna kesuburan dan kemakmuran.

Kota Wamena dari Ketinggian dengan pemandangan yang luas (Eveerth Joumilena / Koran Harian Pagi Papua)

Awalnya kebijakan ini sempat di protes, dengan alasan cirikhas ini menunjukan jati diri agama tertentu, setelah mendapat penjelasan akhirnya dapat di terima dan akhirnya semua bangunan yang ada di jalan-jalan utama kota Wamena berbentuk Honai berwarna hijau.

Setelah melakukan penyeragamana bangunan ruko di jalan utama Kota Wamena, John Wempi Wetipo kemudian membentuk Satgas Kebersihan

Pembentukan satgas kebersihan ini untuk mengatur kebersihan kota Wamena karena disaat itu Kota Wamena terkesan sangat kumuh padahal Wamena menjadi tujuan wisata dunia dan pintu masuk ke kabupaten di Pegunungan Tengah Papua.

Pembentukan Satgas tersebut untuk mewujudkan kota Wamena yang bersih dan juga melakukan tindakan secara tegas kepada para warga yang membuang sampah secara sembarang.

Sanksi tegas diberikan kepada warga dan pengusaha  yang tidak mematuhi aturan tersebut, bagi warga yang melanggar akan dikenai sanksi sesuai aturan yang berlaku sedang untuk pengusaha sanksi terberat yaitu pencabutan ijin usaha.

Bupati Kabupaten Jayawijaya, Wempi Wetipo SH,MH ketika menerima penghargaan Bupati terbaik seluruh Indonesia atas Laporan Harta Kekeyaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Kabupaten Jayawijaya atas penilaian KPK RI beberapa bulan lalu. (ISTIMEWA)

Setelah melakukan penataan dan menjaga kebersihana Kota Wamena John Wempi Wetipo mulai mengandeng sejumlah investor untuk masuk ke Jayawiya salah satunya dengan menghadirnya pusat perbelanjaan mewah sekelas Mall di ibukota lembah baliem tersebut.

Pusat perbelanjaan berlantai tiga diberi nama Mall Kilo Sukarno, merupakan milik pemerintah kabupaten Jayawijaya yang dioperasikan pihak ketiga dengan sistem bagi hasil.

Wamena mall ini merupakan suatu kebanggaan dan sukacita bagi pemerintah dan masyarakat Jayawijaya mengingat ini merupakan pasar modern yang hadir di wilayah pegunungan tengah Papua, yang dapat mengangkat perekonomian di Kabupaten Jayawijaya.

Tidak hanya menarik investor, tapi John Wempi Wetipo juga memberdayakan masyarakat pribumi,  yaitu dengan mengeluarkan aturan khusus pengayung becak harus orang asli Papua dan juga membangun pasar khusus bagi pedangan asli Papua.

Pemberlakukan para penarik becak merupakan putra asli daerah Jayawijaya adalah salah satu langkah untuk mengatasi pengangguran dan menekan angka kriminalitas di wilayah kami. Karena salah satu faktor penyebab tingginya angka kriminalitas yaitu pengangguran.

Bagi John Wempi Wetipo, dampak dari pengangguran ini para generasi muda mulai berpikir yang negatif mulai dari mabuk, melakukan kekerasan dan pencurian.

Kota Wamena (Eveerth Joumilena /Koran Harian Pagi Papua)

Pemerinah Jayawijaya juga membangun pasar khusus bagi pedagang asli Papua, pasar Potikelek, Distrik Wamena Kota yang sudah digunakan hingga kini.

Pasar tradisional Potikelek dibangun dengan menelan dana sebesar Rp 33 Miliar yang bersumber dari dana APBN kementerian perdagangan sebesar Rp 13,5 miliar dan sisanya 19.5miliar berasal dari dana APBD Kabupaten Jayawijaya.

Tim Kantor Daerah Deks Otsus Tanah Papua bersama Bupati Kabupaten Jayawijaya, Wempi Wetipo (tiga dari kiri). Dalam sebuah rutinitas kerja sebagai Bupati Jayawijaya. (ISTIMEWA)

Bagi John Wempi Wetipo pembangunan pasar ini sebagai bentuk keseriusan pemerintah daerah untuk memberikan kesempatan bagi pedagang asli papua untuk bersaing sacara sehat dalam menjalankan usahanya.

Tidak hanya membangun pasar, Pemerintah kabupaten Jayawijaya juga menyiapkan dana bantuan usaha, pada tahap awal pemirintah mengangarkan 1 miliar bagi 230 mama-mama pedagang asli Papua.

Tujuan pemberian dana hibah ini untuk meningkatkan pendapatan para pedagang asli Papua, juga sebagai modal usaha agar semakin berkembang dengan demikian mereka mampu hidup mandiri.

Tidak hanya menata Kota Wamena dan pemberdayaan masyarakat pribumi, tapi peningkatan solidaritas antar umat beragama juga diterapkan di Jayawijaya. John Wempi Wetipo selaku Bupati Jayawijaya mengeluarkan peraturan Bupati Jayawijaya Nomor 02 Tentang Penutupan Semenetara Kegiatan Usaha Perdagangan dan Usaha Lainya pada hari Minggu dan hari-hari Besar Keagamaan.

Para pelaku usaha dilarang melakukan aktivitas perekonomian pada hari minggu maupun hari besar keagamaan, penutupan sementara ini dilakukan mulai pukul 05.00 Wit sampai dengan 13.00 Wit. Setelah pukul 13.00 Wit baru para pedagang bisa melaksanakan aktivitas seperti biasanya.

Selain mengeluarkan peraturan Bupati tentang hari keagamaan, John Wempi Wetipo, memberlakukan larangan penjualan minuman keras di Jayawijaya. Pemberlakuan larangan miras ini sebagai upaya menekan angka kriminalitas dan memberikan kenyamanan bagi warga di kabupaten Jayawijaya, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya

Kantor Bupati Jayawijaya ( Eveerth Joumilena /Koran Harian Pagi Papua)

Selaku kepala daerah John Wempi Wetipo, berkomitmen memberantas miras dan narkoba, karena barang haram tersebut dapat merusak mental generasi muda Jayawijaya.

Untum melakukan pencegahan pihak pemerintah daerah meminta dukungan dari semua pihak, agar bersama-sama memberentas barang haram tersebut dari peredaran di kabupaten Jayawijaya.

Masyarakat, diminta untuk memberikan informasi kepada kepolisian jika ada yang membawa dan menjual miras secara sembunyi-sembunyi agar kepolisian bisamelakukan penindakan.  (JW)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...