Mengenal Sosok John Wempi Wetipo : Bersyukur Dengan Melayani Suku- Suku Terasing (Bagian III)

John Wempi Wetipo, saat membagi sambako ke suku Mairasi di Esrotnama Kaimana Papua Barat (foto:Dok)

 “Jabatan bukan ukuran, tatapi hidup ini adalah berkat Tahun, untuk itu kita juga harus menjadi berkat bagi orang lain yang membutuhkan”.

 

JAYAPURA (LINTAS  PAPUA)  – Setelah dilantik menjadi Bupati Kabupaten Jayawijaya oleh Barnabas Suebu, tak membuat Wempi Wetipo melupakan jejak pelayanannya di selaku ketua Pemuda GKII Jayawijaya.

Dengan jabatan yang dimiliki membuat Wempi Wetipo semakin terpanggil untuk membantu suadara-saudara yang belum merasakan pelayanan pemerintah dan gereja.

Sesuai dengan pedoman hidup “hidup ini adalah berkat Tahun, untuk itu kita juga harus menjadi berkat bagi orang lain” Wempi Wetipo menyatakan  janji imannya kepada kepada Tuhan, untuk mendirikan lambaga kemanusian yang bernama Baliem Mision Center (BMC).

Berdirinya Baliem Mision Center berawal dari aksi pengumpulanan dana yang dilakukan oleh Jemaat Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Efata Wamena sejak tahun 2006-2012 sesuai jadwal “bulan misi” pada bulan Agustus.

Dengan landasan itu, berdirilah lembaga BMC dengan moto “Menjangkau Yang Tidak Terjangkau”. Visi: Kami meyakini bahwa kasih karunia Allah ditunjukan bagi semua suku bangsa (Yohanes 3;16) namun banyak suku bangsa yang hidup terisolasi, terabaikan dan terpinggirkan.

John Wempi Wetipo di Kampung Ambai. (istimewa)

Pada 12 Juni 2012 John Wempi Wetipo memimpin tim BMC menuju ke sebuah wilayah di Kaimana Papua Barat untuk bertemu dengan sekelompok suku terasing yang di temukan oleh pdt. Petrus Giyai  pada tahun 2010.

Suku tersebut bernama suku Mairasi, mereka tinggal disebuah dusun  Orainambadi pinggiran  danau Jamorfata. Suku ini ditemukan pdt.Petrus Giyai ketika melakukan perjalan darat dari Kaimana menuju Nabire.

Atas petunjuk pdt. Petrus Giyai , tim BMC yang di pimpin oleh John Wempi Wetipo mengunakan helyvida yang di Piloti oleh Erwin bertolak menuju Danau Jamorfata  yang tidak ada peta penerbangan.

Atas mujizat Tuhan tim berhasil sampai di dusun Orainamba, dan menemukan sebuah keluarga kecil saja yang menempati dusun Orainamba, karena semua suku lain sedang ke hutan meramu makan.

Suku Mairasi ini masih primitif ini sempat menjadi karaguan tim BMC. Namun dengan percaya sama Tuhan dan demi pelayananan nama Tuhan untuk sesama manusia John Wempi Wetipo memutuskan untuk bermalam untuk menunggu kepulangan suku tersebut.

John Wempi Wetipo, kini sebagai Bupati Jayawijaya, berkomitmen untuk maju dalam percaturan politik Pemilukada Gubernur Papua 2018 dengan membawa moto Papua Cerdas. (LintasPapua.com)

 

Kedatangan tim BMC ke dusun Orainama membuat suku Mairasi yang sedang meramu makanan di hutan-hutan kembali ke dusun mereka. Dengan mengunakan bahasa tubuh, pdt. Petrus Giyai berkomunikasih suku itu,d an akhirnya mereka menerima tim BMC untuk melayani mereka.

Kehadiran tim BMC di dusun Orainamba menjadi awal peradaban suku Mairasi dan Weserau, karena bertahun-tahun merak hidup dibelantara hutan pinggirn danau Jamorfata tampa mengatahui dunia yang sudah modern.

Dari dusun Orainama, tim BMC kemudian mulai menjangkau suku-suku lain di pinggiran danau Jamor Fara. Kisah perjalanan ini membuat John Wempi Wetipo menyebut, “Semua Berawal Dari Orainama”.

Misi pelayanan Baliem Mission Center tidak terhenti di situ, pada bulan yang sama yakti 29 Juni 2012, John Wempi Wetipo memimpin tim untuk melalukan pelayanan di  Dusun Rambakuli, Kecamatan Sabbang Kabupaten Luwu Utara.

Secara administratif, Kabupaten Luwu Utara ini terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, Luwu Utara memiliki luas wilayah 14.447,56 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 442.472 jiwa. Mata pencaharian penduduk pada umumnya bertani.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dari Jayapura, John Wempi Wetipo bersama tim BMC tiba di dusun Rambakulu. Keesokan harinya tim mulai bergabung dengan sekitar 1.000 lebih pemuda dan pemudi dari berbagai denominasi gereja yang sedang acara pembukaan ret-ret itu.

Kehadiran tim BMC kemudian mulai melakukan pelayanan pengobatan gratis kepada warga jemaat dan pemuda-pemudi dalam beberapa sesi ret-ret. Kehadiran tim BMC mendapat antusian warga, pasalnya selama itu, warga yang sangat kesulitan untuk berobat, selain obat yang mahal, jarak Puskemas dan Rumah Sakit cukup jauh.

 

Setelah melakukan pelayanan selama empat hari, tim BMC akhirnya meninggalkan dusun Rambakulu. Kepulangan tim BMC meninggalkan haru yang mendalam bagi warga dusun Rambakulu dan ribuan pemuda gereja balik ke Jayapura.

Tidak sampai Rumkabulu, Baliem Mission Center kemudian menjejaki pelanan ke suku Korowai yang mendiami kampung Woman, Distrik Siradala, Kabupaten Yahukimo.

Pendeta Antarikus dan Jekson dari BMC sudah setahun tinggal dan bekerja di Kampung Woman untuk melakukan misi penginjilan dan pelayanan kesehatan bagi suku Korowai di tempat tersebut.

Dan sebagi rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan, di usianya yang ke-43 Di John Wempi Wetipo memperingati ulang tahunnya yang bersama suku korowai.

John Wempi Wetipo, mengaku sangat gembir bisa merayakan ulang tahunnya yang ke-43 di tengah suku Korowai. Disaat itu warga Woman yang memberikannya hadiah kepada John Wempi Wetipo yang sudah memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Di kampung Woman BMC sudah membangun beberapa rumah sarana belajar dan ibadat Walaupun kehidupan masyarakat belum banyak berubah; masih butuh waktu.

Tidak hanya di wilayah Papua Barat dan Selatan Papua Balaim Mission Center melayani suku-suku terasing, John Wempi Wetipo juga melakukan hal yang sama kepada masyarakat yang mendiami pinggiran sungat Mambramo tempatnya  di kampung Otodemo Kabupaten Yapen.

Lembaga Baliem Mision Center terus melakukan missi pelayanan bagi suku-suku terasing di Papua hingga saat ini. Dari misi pelayanan ini hadirilah dua media Yaitu Majalah Lani dan Harian Pagi Papua sebagai alat publikisih yang memberitakan kondisi dan realita Papua dengan motto “Menjangkau Papua Dalam Berita”. (JW)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...