ASPEBINDO Gelar Dialog Sikapi Masalah Freeport Indonesia

Suasana Dialog Publik di Abepura. (Fransisca / LintasPapua.com)

JAYAPURA (LINTAS  PAPUA)  – Asosiasi pemasok energi dan batu ara indonesia (ASPEBINDO) mengadakan dialog publik bertemakan ada apa dengan Freeport? Menakar manfaat PT Freeport di Papua, dialog ini terlaksana di Hotel Grand Abe Jayapura, Kamis (30/11/2017).

 

Adapun di hadiri 60 peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, Organisasi kemasyarakatan Pemuda,Kaum professional. Sedangkan Narasumber dari perwakilan Polda Papua, perwakilan Univesitas Cendrawasih, perwakilan Komisi informasi publik, dan perwakilan Dewan adat

 

Sekertaris Umum ASPEBINDO, Denny Imbiri menyampaikan,  tujuan dialog, fungsi ASPEBINDO adalah melihat lebih dekat perkembangan pertambangan, untuk mengali informasi, apa yang terjadi terhadap Freeport, sebenarnya apa yang terjadi perkembangan masyarakat Papua, kami evaluasi dan kami ambil langkah di tahun 2018, paling tidak ada kerangka acuan.

Sekertaris Umum ASPEBINDO, Denny Imbiri , saat memberikan keterangan pers. (Fransisca /LintasPapua.com)

Sementara itu, Wadir Binmas Polda Papua, AKBP. Yamin Dian Priono, S.IK menegaskan, bahwa  intinya Mengacu pada fungsi Kepolisian yang diatur dalam Pasal 4 UU Kepolisian No. 2 Tahun 2002 yaitu “Kepolisian NKRI bertujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat.

Dikatakan, PT. Freeport Indonesia merupakan Objek vital nasional  yang membutuhkan pengamanan khusus dari Pihak Kepolisian. Berkaitan dengan pengamanan Obvitnas, maka Pemerintah melalui Kementerian ESDM juga mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 1762 Tahun 2007.

“Dimana dalam SK tersebut ditentukan ada 126 Obvitnas di Indonesia yang salah satunya adalah tambang emas dan tembaga PT. Freeport yang menempati nomor ke 117,” jelasnya.

 

Sementara itu, penyampaian materi oleh Akademisi Universitas Cenderawasih, Prihananto ST. Mengungkapkan, bahwa  Universitas Cenderawasih masih membutuhkan PT. Freeport Indonesia sebagai Laboratorium dan sebagai sebuah Lembaga yang menyediakan lapangan pekerjaan.

Sebagai Laboratorium sebaiknya PT. Freeport Indonesia lebih di dekatkan dengan penggunanya (Mahasiswa) untuk melakukan belajar/magang yaitu dengan cara membangun Laboratorium di beberapa Universitas di Indonesia.

Asosiasi pemasok energi dan batu ara indonesia (ASPEBINDO) mengadakan dialog publik bertemakan ada apa dengan Freeport? Menakar manfaat PT Freeport di Papua, dialog ini terlaksana di Hotel Grand Abe Jayapura, Kamis (30/11/2017). (Fransisca / LintasPapua.com)

Segala sesuatu harus direalisanakan secara tertulis baik dalam bentuk MoU maupun kerjasama lainnya.

 

Senada dengan itu, perwakilan Dewan Adat Papua,  George Weyasu mengatakan, topik bahasan mengenai PT. Freeport Indonesia hadir pada saat Irian Barat masih dalam status sengketa, sehingga ada kepentingan besar oleh Investor.

“Karena masyarakat adat sama sekali tidak dilibatkan di dalamnya, dimana pada saat itu masyarakat tidak mengetahui keberadaan dan manfaat PT. Freeport Indonesia,” katanya.

 

Demikian disikapi, Perwakilan Komisi Informasi Publik (KIP) Papua,  Hans Paiki menyatakan,  bahwa secara konstitusi masyarakat memiliki kewenangan dalam mengakses keterbukaan informasi, tidak terbatas kepada Badan Publik yang pembiayaannya oleh Pemerintah.

“Melainkan juga diperluas kepada Perusahaan baik milik Pemerintah ataupun Swasta, termasuk Perusahaan yang bergerak di sektor sumber daya alam, seperti Newmont dan Freeport. Sebab salah satu prinsip Negara Demokrasi itu menjunjung transparansi dan kepentingan orang banyak,” ungkapnya.

Wadir Binmas Polda Papua, AKBP. Yamin Dian Priono, S.IK., saat menyampaikan materinya. (Fransisca / LintasPapua.com)

 

Pertanyaan dari Dosen Uncen, Putrianti, SE, mengatakan, Universitas Cenderawasih seharusnya membuat Program English Day untuk mempersiapkan Mahasiswa menuju masa depan dan agar dapat bersaing.

Universitas Cenderawasih harus membuat surat kepada PT. Freeport Indonesia untuk membangun fasilitas Laboratorium, karena Freeport juga harus mempersiapkan masa depan anak Papua, sehingga dapat berdiri dan kaya diatas tanahnya sendiri.

 

Jawaban dari Akademis Universitas Cenderawasih Prihananto, ST, katanya, Bahwa Uncen adalah Universitas tertua di Papua dan sampai saat ini masih bergelut dengan penerimaan Mahasiswa dari berbagai daerah.Untuk Fakultas Bahasa Inggris secara nyata Universitas Cenderawasih belum mempunyai, namun pelajaran Bahasa Inggris sudah ada didalam Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). (Fransisca  / LintasPapua.com)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...