Orang Papua Berduka Atas Meninggalnya Prof. Pieter J. Drooglever

Yan Christian Warinussy, selaku Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari/Advokat dan Pembela HAM di Tanah Papua, (istimewa)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  –  Atas nama Pimpinan Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, saya menyampaikan rasa duka cita yang dalam atas wafatnya penelitia sejarah penyelenggaraan Act of Free Choice (Tindakan Pilihan Bebas) tahun 1969, Prof.Pieter.J.Drooglever di Negeri Belanda pada hari Minggu, 12 November 2017 yang lalu.

 

Hal ini disampaikan   Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari, Yan Christian Warinussy, sekaligus menjelaskan, bahwa Rakyat Papua, khususnya Orang Asli Papua (OAP) sebagai bagian dari masyarakat pribumi di Tanah ini merasa kehilangan seorang ahli dan ilmuwan sejarah yang mampu melakukan riset ilmiah selama lebih dari 5 (lima) tahun guna menulis kembali catatan-catatan mengenai apa sesungguhnya yang terjadi pada saat dilaksanakannya Tindakan Pilihan Bebas (Act of Free Choice) tahun 1969 di Tanah Papua tersebut.

 

Hasil karya almarhum Drooglever ditulis dalam bukunya berjudul : Een Daad Van Vrije Keuze: De Papoea’s van westelijk Nieuw-Guinea en de grenzen van het zelbeschikkingsrecht. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan judul Tindakan Pilihan Bebas, Orang Papua dan Penentuan Nasib Sendiri.

 

Buku setebal 867 halaman tersebut telah diterbitkan oleh Penerbit Kanisius- Yogyakarta dan terjemahannya dibuat oleh Dr.Johannes Riberu, dosen tetap Fakultas Sastera Universitas Indonesia di Jakarta.

 

Almarhum Pieter Drooglever adalah Ketua Peneliti task force yang mendokumentasikan dekolonisasi Indonesia pada Institute of Netherlands History di Den Haag selama hampir 3 (tiga) dekade.

 

Pada tahun 2000 ia ditugaskan oleh Pemerintah Belanda untuk memimpin penelitian selama 5 (lima) tahun ke dalam Papua dan Akta Pilihan Bebas, yang memuncak pada publikasi buku Een Daad van Vrije Keuze tahun 2005 yang lalu.

 

Hasil karya ilmiah Drooglever sempat “mengganggu” bagi Pemerintah Indonesia masa itu dan almarhum sempat “dilarang” melakukan riset dan studi-studinya di Indonesia dan Tanah Papua.

 

Akan tetapi sesungguhnya karya ilmiah Pieter Drooglever dan timnya tersebut telah menjadi sumber informasi yang kritis dan tajam serta akurat mengenai pelaksanaan Act of Free Choice (Tindakan Pilihan Bebas) yang oleh pemerintah Indonesia disebut sebagai Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera).

 

Ini karena almarhum dan timnya memperoleh data dan informasi langsung dari sejumlah narasumber dari seluruh Tanah Papua yang adalah pelaku sejarah ketika peristiwa yang oleh buku Tindakan Pilihan Bebas, Orang Papua dan Penentuan Nasib Sendiri tersebut berlangsung yang dikatakannya sebagai peristiwa yang sangat memalukan.

 

Selain sebenarnya almarhum juga meneliti atas sumber dokumen pustaka dari Dinas Arsip Nasional dan Kementerian Luar Negeri Belanda di Den Haag serta sejumlah sumber informasi didapatnya dari pemerintah Australia.

 

Buku karya almarhum Drooglever seharusnya dapat dijadikan sebagai sumber informasi penting dalam kerangka membangun Dialog Konstruktif Internasional sebagaimana diusulkan pada 19 September 2017 di Jenewa oleh Pemerintah Kepulauan Solomon, guna menyelesaikan akar permasalahan pelanggaran hak asasi manusia yang Berat di Tanah Papua sepanjang lebih dari 50 tahun ini.

 

LP3BH memandang bahwa hal ini sangat sejalan dengan amanat Pasal 45 Undang Undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua sebagaimana dirubah dengan Undang Undang Nomor 35 Tahun 2008 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 21 Tahun 201 Tentang Otonmomi Khusus Bagi Provinsi Papua Menjadi Undang Undang.

 

Selamat Jalan Profesor Pieter J.Drooglever, karyamu bagi perjuangan penegakan hukum dan perlindungan jati diri dan hak-hak dasar Orang Asli Papua (OAP) sebagai bagian dari masyarakat adat dan pribumi di dunia akan selalu dikenang dan dijadikan tonggak sejarah di dunia dan khususnya di atas Tanah Papua. (*)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...