Workshop Presenter : News Anchor Selalu Dimulai dari Jurnalis Lapangan

0
7
Suasana Musik Pengisi Acara Festival Mwedia AJI Indonesia di Solo. (istimewa)

SOLO (LINTAS PAPUA)  – Profesi news anchor atau penyampai berita menjadi garda terakhir dalam pemberitaan di media elektronik khususnya televisi. Setiap profesi news anchor selalu dimulai dari jurnalis yang melakukan reportase di lapangan.

News anchor CNN Indonesia, Eva Yunizar, berbagi tips soal bagaimana cara menjadi news anchor. Setiap news anchor harus bisa menghidupi program televisi dan menyampaikan informasi dengan akurat. “Modalnya harus punya basis jurnalistik dulu. Dapatnya dari mana? Ya harus turun ke lapangan,” ujar Eva kepada puluhan hadirin dalam Workshop menjadi Presenter dalam rangkaian Festival Media AJI 2017 di Grha Soloraya, Kamis (23/11).

Turun ke lapangan, lanjut Eva, berguna untuk mengasah kemampuan menggali informasi dan memahami konteks. Secara berjenjang, news anchor dimulai dari reporter lapangan, kemudian junior anchor, dan terakhir anchor.

 

News anchor CNN Indonesia, Eva Yunizar, berbagi tips soal bagaimana cara menjadi news anchor. (istimewa)

“Biasanya acnhor itu harus siap memandu talkshow,” beber mantan News Anchor MetroTV itu.

Dalam kesempatan itu Eva membagikan sejumlah tips menjadi news anchor, salah satunya adalah kalem dan tetap tenang saat mendapatkan informasi yang sangat minim. Gali informasi dengan mencari narasumber dan membiarkannya berbicara. News anchor juga harus jeli melakukan analisis tapi jangan membikin asumsi.

 

”Presenter berita sekarang itu membutuhkan kemampuan untuk menganalisis dan kemampuan untuk menghibur dan improvisasi,” imbuh dia.

Kepala Cabang Voice  of America (VoA) Jakarta, Agus Sunarto, mengatakan dalam  pemberitaannya VoA melayani 47 bahasa di dunia dengan jumlah siaran lebih dari 400 jam per pekan. Dalam sepekan, jumlah audiens VoA bisa menembus 236,6 juta orang.

 

“Dulu VoA itu melayani juga bahasa Melayu dan Jawa. Ini penyiar dulu saat zaman awal siaran lewat radio SW,” tutur dia.

Dalam presentasinya Agus mengajak hadirin berbincang dengan salah satu reporter VoA yang tinggal di Amerika, Patsy, melalui layanan Skype. Patsy menuturkan pengalamannya 23 tahun bekerja di dunia jurnalistik. Keluar dari World Bank, Patsy memutuskan bergabung ke Metro TV. Lalu pada 2001 ia mendapatkan beasiswa ke London dan bekerja di BBC. Pada 2003, ia memutuskan keluar dan pindah ke VoA.

 

“Pokoknya saya enggak bisa membayangkan mengerjakan pekerjaan lain selain wartawan,” tutur dia.

Salah seorang hadirin sempat bertanya kepada Patsy, apa perbedaan reportase di Amerika dan di Indonesia. Patsy menjawab, perbedaan nomor satu adalah tidak ada amplop. “Misalnya saya liputan di KBRI. Semua orang mendapatkan makan siang. Ada aturannya, kalau lebih dari 25 Dollar, kami enggak boleh [menerima],” ujar dia. (Panitia Fesmed AJI 2017 : Petugas Humas, Cahyadi Kurniawan)