30 Warga Port Numbay Dilatih Kapasitas Usaha Bidang Pariwisata

Suasana Pembukana Kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel di Kota Jayapura (Fransisca/LintasPapua.com)

JAYAPURA  (LINTAS PAPUA)  –  Sebanyak 30 orang masyarakat Port Numbay mengikuti kegiatan yang digelar Dinas Pariwisata Kota Jayapura, yakni  kegiatan peningkatan kapasitas usaha masyarakat bidang pariwisata, yaitu pelatihan  pembuatan souvenir wisata bagi masyarakat pengelola wisata.

 

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Kota Jayapura, R. D. Siahaya, sekaligus memberikan harapan dan pesan, agar semua peserta bisa mengikuti kegiatan dengan baik dan nantinya ada manfaat yang dapat diterima dan berguna kelak. pelatihan akan  berlangsung selama tiga hari dari tanggal 24  – 27 Oktober 2017,  di Hotel Yasmin Jayapura.

Adapun untuk pemateri langsung didatangkan instruktur dari Rumah Kerang Jepara, Jawa Tengah, yang sudah berhasil mengekspor furniture dengan standart produk internasional.

“Jumlah peserta pelatihan 30 orang berasal dari teluk Humbolt yaitu pengelola pantai Base G, Hamadi, kampung kayu pulo, kampung Tobati dan Kampung Enggros,” ujar Ketua Panitia Pelaksana, Rambunim,  SH.,  Selasa (24/10).

 

Sejumlah Peserta saat foto bersama dengan Sekda Kota dan Kepala Dinas Pariwisata. (Fransisca/LintasPapua.como)

Ketua Panitia Pelaksana, Rambunim,  SH, menjelaskan bahwa program kerja Dinas Pariwisata Kota Jayapura tahun 2017 sesuai  Surat Keputusan Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura, yakni memiliki tujuan untuk meningkatkan pemahaman keterampilan masyarakat dalam membuat kerajinan tangan atau souvenir wisata.

 

“Khususnya dalam bahan kulit kerang tujuan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat Port Numbay,  khususnya pengelola wisata,” jelasnya.

Ditambahkan, bahwa tujuan lain adalah menciptakan kemandirian dan kesejahteraan berbasis kearifan lokal, sebagaimana visi misi Wali Kota Jayapura tahun 2018 hingga Tahun 2022 menjadikan wadah ini sebagai kreativitas masyarakat untuk mengelola guna mengembangkan kearifan lokal di sekitar masyarakat .

 

“Sehingga mereka tidak hanya duduk-duduk saja, namun melalui pelatihan ini bisa menyibukkan melakukan souvenir diharapkan melalui pelatihan ini beserta akan mulai mengembangkan diri dan berusaha untuk hidup mandiri dan berdampak pada kesejahteraan,” tuturnya.

Lampu Hias, sebagai bentuk karya wisata yang nilai jualnya mahal, kaarea dari bahan alami kulit kerang. (Fransisca/LintasPapua.com)

Sementara itu,  Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Jayapura, Bernard Fingkreuw mengatakan,  daripada kerang di pantai Hamadi dan base G terbuang begitu saja lebih baik kita kumpulkan, supaya menjadi buah tangan oleh  –  oleh dari pantai, kreativitas mereka akan kembangkan sesuai dalam simbol adat masing-masing.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura, Bernard Fingkreuw, s aat diwawancara. (Fransisca/LintasPapua.com)

“Hasil pemasaran tergantung pada tempat asal mereka, tempat wisata masing-masing dengan harga sewajarnya, kita nanti sosialisasasikan, agar menjual produk dengan harga terlalu tinggi, karena biaya pariwisata di Jayapura terkesan tinggi, oleh-oleh ini memberi kesan pada pengunjung supaya datang lagi dan datang lagi. Harapan saya pelatihan ini di modali dengan peralatan” katanya.

Sedangkan, Pengrajin Kerang dari Rumah Kerang Jepara, Ronzi mengatakan, bahwa pihaknya di undang dari dinas pariwisata, dan ingin berbagi pengalaman apa yang dilakukan di Jepara Jawa Tengah.

“Kita ingin  membagi untuk  cara pembuatan kulit kerang yang selama ini kita manfaatkan dagingnya, kulitnya kita buang, kita jadikan suatu produk yang layak jual, kita fokus pembuatan lampu dari kulit kerang, pangsa pasar lampu hias ini untuk menengah keatas, di export ke Jepang dan Amerika,” tandasnya. (Fransisca /LintasPapua.com)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...