Tuntut Ganti Rugi, Masyarakat Adat 4 Suku Siap Palang Bandara Sentani

0
25
Kesibukan Penerbangan di Bandara Sentani (Foto Facebook Hairil)
Kesibukan Penerbangan di Bandara Sentani (Foto Facebook Hairil)

SENTANI (LINTAS PAPUA) – Masyarakat adat dari empat (4) suku pemilik hak ulayat lokasi Bandar Udara (Bandara) Sentani, mengancam bakal melakukan aksi pemalangan di Landasan Pacu Bandar Udara (Bandara) Sentani, Kabupaten Jayapura.

Mereka melakukan itu jika pihak Bandara Sentani tidak membayar ganti rugi tanah adat hak ulayat, yang masuk dalam areal Bandara Sentani yang diklaim milik masyarakat adat dari empat suku marga yakni Hobong, Yahim, Yobeh dan Ifar Besar.

“Kami dalam hal ini masyarakat adat pemilik hak ulayat di lokasi Bandara Sentani datang kesini (Kantor UPBU Sentani) untuk mendengarkan hasil dari rapat atau pertemuan antara Kabandara dengan pihak Menteri. Ada masyarakat empat suku yang siap kami kerahkan untuk menduduki atau memalang bandara dalam hal ini landasan pacu. Supaya tidak ada penerbangan, apabila tidak ada jawaban dari Kabandara di hadapan kami saat ini, kata Beatrix Felle, Senin (23/10/2017) kemarin.

Menurut Beatrix Felle, pihaknya sebagai pemilik hak ulayat dari empat suku sudah merasa capek di janji-janji untuk selesaikan pembayaran ganti rugi tanah bandara.

“Kami sudah capek dan inilah cara terakhir yang kami tempuh yakni melakukan aksi demo damai. Pejabat mana lagi yang akan kami temui dan kami menilai pemerintahan tidak menghargai kami selaku pemilik hak ulayat disini,” ujarnya.

Masyarakat Adat saat melakukan aksinya. (istimewa)

Berdasarkan pantauan di lapangan, buat menagih pembayaran ganti rugi tanah adat iu, sekitar pukul 08.20 WIT, kurang lebih ada 50 orang masyarakat adat dari empat suku sebagai pemilik hak ulayat mendatangi Kantor Bandara Udara Sentani.

Mereka datang menggunakan sepeda motor dan jalan kaki. Mereka dikawal pihak Polsek Kawasan Bandara Sentani dan diterima oleh pihak Bandara Sentani, kemudian mereka menyampaikan aspirasi mereka di depan kantor bandara. Setelah itu, sejumlah perwakilan massa pendemo melakukan di Aula Kantor Bandara Sentani.

Lanjut Beatrix dalam orasinya menyampaikan, bahwa Kepala Bandara (Kabandara) menjawab tuntutan pemilik hak ulayat, maka pihaknya akan menunggu jawaban dari Presiden Joko Widodo dan Kementerian.

“Kami merasa aksi demo ini tidak berhasil. Seandainya suku lain yang demo, maka akan terjadi bentrok, namun kami tidak mau hal tersebut terjadi. Karena tidak ada jawab dari Kabandara, maka kami akan tidur (bermalam) serta makan disini dan pihak bandara harus menfasilitasi kami selama berada disini. Apabila tidak ada jawaban hari ini (kemarin), kami dari empat suku telah berkomitmen untuk melakukan aksi pemalangan besok (hari ini) di landasan pacu,” tegasnya.


Terlihat di lapangan, Kadisops Lanud Jayapura Mayor Nav. Joko, Dansatpom AU, Mayor Pom Iwan Suebu, Kapolsek Kawasan Bandara Sentani, Ipda Baharuddin Buton. (Irf /Koran  Harian Pagi Papua)