Friday, 24 Nov 2017
Nasional & Dunia Pojok Rakyat

Adu Kuat Antara Perut Rakyat dan Infrastruktur Jokowi

Presiden Jokowi Bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla. (istimewa)

JAKARTA (LINTAS PAPUA)  –  Lembaga Survei KedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) meluncurkan survei opini publik di 8 Kota besar di Indonesia (Medan, Padang, Palembang, Bandung, Jakarta, Semarang, Surabaya, Makassar) sepanjang September 2017 lalu. Untuk mengetahui lebih lanjut kami mewawancara pendiri KedaiKOPI, Hendri Satrio yang juga pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina.

KedaiKOPI baru melakukan survei tentang 3 tahun pemerintahan Presiden Jokowi, bagaimana tingkat kepuasan rakyat?

Tingkat kepuasan masyarakat cukup tinggi, sekitar 55,7%. Kepuasan publik tertinggi pada pembangunan infrastruktur dan distribusi bantuan pendidikan serta kesehatan. Sementara rakyat menyoroti masalah ekonomi dan isu demokrasi termasuk toleransi dan kebebasan berpendapat sebagai gambaran kondisi Indonesia saat ini. Untuk lengkapnya silahkan kunjungi situs kami www.kedaikopi.co.

Kenapa responden puas di infrastruktur namun juga masih menyoroti masalah ekonomi, apa saja masalah ekonominya?

Menurut saya ini wajar ya. Presiden kan memang menggenjot infrastruktur sesuai janji kampanyenya. Nah, pembangunan infrastruktur ini membutuhkan dana banyak sehingga pemerintah menggenjot pajak dan mencabut subsidi, imbasnya langsung terasa di masyarakat. Harga bahan pokok jadi mahal dan tarif listrik pun melejit naik.

Presiden Indonesia Bersama Para Atlet .

Tapi kan infrastruktur untuk rakyat juga?

Betul, tapi infrastruktur ini benefitnya tidak langsung dirasakan. Justru pada fase pembangunan, rakyat juga diajak berkorban, subsidi dicabut, macet dan lain-lain. Akibatnya saat ini seperti tahan-tahanan, kuat-kuatan antara pemerintah dengan rakyat. Seberapa lama rakyat kuat berkorban mengikuti program pemerintah. Singkatnya ini adu kuat antara pembangunan infrastruktur presiden dengan perut rakyat. Kalau rakyat mau berkorban lebih lama maka Jokowi aman 2 periode, kalau rakyat gelisah bisa sulit 2 periode. Ekonomi rakyat intinya.

Maksud anda?

Sebaiknya 2 tahun ini perbaiki ekonomi rakyat, nanti bila sudah terpilih lagi baru genjot infrastruktur lagi. Salut saya pada Jokowi karena berani all out di infrastruktur, sebab benefitnya baru dirasakan nanti, masih lama, mungkin lebih dari 10 tahun. Jadi mungkin kelak Jokowi akan menyandang gelar Bapak Infrastruktur Indonesia. Tapi kan gelar itu sulit didapat bila infrastruktur Jokowi menggantung tak selesai lantaran gagal lanjut ke periode kedua. Makanya, perhatikan perut rakyat, pendapatan rakyat, daya beli rakyat. Ini semua mudah kok nilainya, gak perlu pake indikator statistik yang ngejelimet, dengarkan keluhan rakyat, nanti juga tergambar. Tidak perlu mengelak atau membantah. Makanya saya sebut tadi, ini mah soal adu kuat aja.

Baca Juga :  Diduga Lambatnya Dana Kementerian PUPR, Sejuta Rumah di Merauke Mangkrak
Presiden Indonesia, Joko Widodo. (ISTIMEWA)

Apakah ini mempengaruhi tingkat keterpilihan Jokowi?

Berpengaruh. Responden saat kami tanyakan bila pilpres dilaksanakan saat ini apakah anda akan pilih Jokowi atau selain Jokowi, jawabannya hanya 44,9% saja yang memilih Jokowi, 48,9% memilih selain Jokowi, sisanya tidak menjawab. Memang tetap saja Jokowi masih paling tinggi tingkat keterpilihannya sebab pada opsi jawaban selain Jokowi itu bukan hanya 1 nama capres saja, banyak nama.

Kenapa anda tidak langsung tanyakan Jokowi vs tokoh lain?

Oh kalau itu pertanyaannya pasti Jokowi menang. Jokowi bila saat ini ditandingkan dengan siapapun pasti menang. Maka kami munculkan skenario calon tunggal, Jokowi vs kotak kosong, nah, hasilnya seperti itu. Hasil ini tergambar juga pada jawaban pertanyaan lain tentang apakah anda akan memilih parpol pengusung Jokowi? Hanya 41,3% yang menyatakan ya. Jadi memang ada hal serius di masyarakat terkait dengan kebijakan pemerintah saat ini.

Tapi ada pendapat yang beredar bahwa Jokowi bila dipasangkan dengan siapa saja pasti menang, komentar anda?

Memang Jokowi hanya butuh 5-6% saja tambahan suara. Tapi faktor cawapres pada pilpres 2019 kelak diprediksi memiliki pengaruh besar dalam memenangkan presiden. Ada 49,9% yang menyatakan figur cawapres mempengaruhi pilihan rakyat terhadap capres.

Siapa cawapres Jokowi di 2019 menurut survei anda?

Rakyat masih menginginkan Jokowi berduet dengan Jusuf Kalla. Ini paling tinggi 15,1%, sementara peringkat kedua, rakyat ingin melihat Prabowo sebagai wapres Jokowi. Nah selanjutnya ada nama Gatot Nurmantyo, Susi Pudjiastuti, Agus Harimurti Yudhoyono, Sri Mulyani, Tito Karnavian dan Budi Gunawan. Kemudian ada nama lain seperti Tuan Guru, TGB Zainul Majdi, Risma, Rizal Ramli, Muhaimin, Budi Karya dan lainnya. Banyak nama bila untuk pendamping Jokowi. Tapi mungkin kalau lawan Jokowi di 2019, masih super langka.

Baca Juga :  Al-Quran Rahmat Seluruh Umat Manusia

Menurut anda siapa lawan Jokowi di 2019?

Saat ini sih belum ada. Memang ada nama Prabowo Subianto, tapi bila mengacu data hari ini yang akan kalah. Bahkan saya berpendapat bila Prabowo maju lagi di 2019, sama saja Jokowi mengijinkan Prabowo dua periode. Sebaiknya Prabowo King Maker saja, sering berhasil. Prabowo juga bisa membuat poros tengah baru, kumpulkan para tokoh bangsa yang bervisi sama untuk memunculkan nama baru untuk menandingi Jokowi.

Jokowi perlu merombak kabinet?

Menurut saya perlu, ada 2 alasannya, pertama, sekalian bikin tim sukses buat 2019 dan kedua perbaiki ekonomi rakyat, genjot ekonomi di sisa 2 tahun. Coba dengarkan akhir-akhir ini apakah terdengar kritik keras terhadap kebijakan pemerintah? Kan tidak. Ini ada 2 penyebabnya, lingkaran Jokowi yang mungkin enggan menyampaikan fakta sebenarnya karena takut kehilangan fasilitas dan jabatan atau oposisi yang sengaja membiarkan kebijakan yang kurang pas ini sehingga makin memperkecil tingkat kepemilihan Jokowi.

Kementerian apa yang menterinya perlu diganti?

 

Presiden Indonesia, Joko Widodo, bersama para menteri, dalam sebuah kegiatan (Istimewa)

Hahahahaha, terserah Presiden aja, pasti Presiden lebih paham, apalagi bila berkaitan dengan pembentukan tim sukses 2019. Saatnya Jokowi ambil lebih banyak “orangnya Jokowi” masuk kabinet. Tapi hati-hati, jangan sampai pilih orang yang ABS (Asal Bapak Senang), malah tambah terpuruk nanti. (*) (Wawancara dengan Koran Rakyat Merdeka, terbit Hal. 2, 21 Oktober 2017)