Wakil Program YSEALI Amerika Diskusikan  Masalah Pendidikan di Papua

0
6
Suasana Pertemuan dan Diskusi dengan Duta Besar Indonesia untuk Amerika. (istimewa)

JAYAPURA (LINTAS  PAPUA)  –  Putra asli Papua, Samuel Tabuni, yang ikut dalam program Young SouthEast Asian Leaders Anitiative (YSEALI) diajak bersama Duta Besar Indonesia untuk Amerika,  Budi Bowoleksono, guna membahas dan mendiskusikan masalah Papua.

Hal ini disampaikan oleh Samuel Tabuni, ketika bercerita banyak tentang berbagai kegiatan yang dilakuan di Amerika, selanjutnya dirinya bersama Duta Besar membahas  terkait beasiswa  Papua.

“Lebih khusus di Amerika, Duta Besar katakan ada 300-an siswa dan mahasiswa yang study tapi Pemerintah Daerah belum sampaikan ke pihak kedubes, mereka baru tahu setelah adik – adik  Papua ini bermasalah terkait biaya study mereka,” kata Samuel Tabuni.

Dikatakan, bahwa ada sekitar 15 juta US Dollar yang disiap Presiden  Jokowi siapkan langsung untuk tangani persoalan yang dihadapai oleh adik – adik mahasiswa di Amerika.

 

“Kami Bahas Pendidikan di Tanah Papua bersama Bapak Duta Besar Republik Indonesia di Washington, D.C.,” jelasnya.

 

Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Amerika, Budi Bowoleksono  menuturkan bahwa siswa dan Mahasiswa Papua di Amerika berjumlah 300-an.

“Tetapi proses pengurusannya belum optimal,  sehingga mereka terkendala dengan biaya beberapa bulan yang lalu,” kata Duta Besar.

Ditambahkan, bahwa, kendala Mahasiswa Papua ini sudah ditangani langsung oleh Bapak Presiden Jokowi dengan anggarkan USD 15 juta Dollar setara dengan IDR 200-an Miliar.

Samuel Tabuni yang juga direktur Papua Language Institute (PLI) yang didirikannya di awal tahun ini yang saat ini tengah berada di Washington DC, Amerika Serikat mengikuti 7 minggu program pelatihan yang di selenggarakan oleh Young SouthEast Asian Leaders Anitiative (YSEALI).

“Beliau mengharapkan kedepan perkuat Papua Language Institute (www.plipapua.com) sebagia agent bahasa Inggris untuk generasi Papua yang akan ke Amerika. Para calon mahasiswa asal Papua disiapkan secara baik dan benar agar mereka tidak menghabiskan waktu bertahun-tahun belajar bahasa Inggris di Amerika,” ungkapnya.

Diharapkan,  kemudian yang harus diperhatikan adalah para calon mahasiswa yang ke Amerika sudah siap berbahasa Inggris dan tentunya mereka yang mampu mau belajar keras yang diutamakan.

 

“Saya berharap semua Pemda di Tanah Papua bekerjasama dengan Papua Language-Institute dengan cara Pemda siapkan Lahan dan tempat agar kita bangun Cabang setiap Kabupaten di Tanah Papua,” harapnya.

Samuel Tabuni,yang juga direktur Papua Language Institute (PLI) yang didirikannya di awal tahun ini, kini  berada di Washington DC, Amerika Serikat. (istimewa)

Ditegaskan, bahwa tujuannya supaya  membantu para Generasi Emas Papua ini sungguh-sungguh dan fokus. Jangan pemerintah asal kirim saja karena keluarga penjabat atau kelurga dekat, harus kompetitif seleksinya mulai dari mereka yang daerah-daerah yang orang tuanya tidak mampu tetapi berkeinginan belajar yang tinggi.

 

“Selama ini Pemerintah Daerah  di Tanah Papua lebih percaya agent-agent bermulut manis, tetapi kenyataannya mereka komersialisasikan Pendidikan ke Luar Negeri sebagai ajang bisnis mencari nafkah. Akibatnya, tidak sedikit adik-adik yang pulang kembali ke Papua karena mismanagement dan misused education’s fund,” pesannya. (Eveerth Joumilena)