Kaka Lukas Enembe Pertegas Dirinya dan Papua  Sudah  ‘Merah Putih’

0
16
Gubernur Papua, Lukas Enembe. bersama Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal, foto bersama dengan pilot Helikopter Bell-412 Mayor Athenius Murip, usai atraksi dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan ke-72 tahun 2017 RI, Kamis kemarin. (Erwin)
Indonesia (kukerjakanprmu.blogspot.com)

JAYAPURA  (LINTAS PAPUA)  –  Gubernur Papua,  Lukas Enembe, S.IP, MH.,  menepis anggapan sejumlah pihak yang menilai dirinya tak loyal terhadap negara. Dia pun menyebut hal itu sebagai sebuah pemikiran yang konyol, sebab sejak dahulu “merah putih” (dibaca : Menjadi Warga Indonesia) sudah menjadi bagian dari hidupnya.

“Kita ini merah putih.Siapa yang bilang kita tidak merah putih? Kita ini sejak awal sudah merah putih, apalagi bahasa Indonesia yang paling bagus bersalah dari provinsi kami diantara semua republik ini,” ujar  Lukas Enembe, di Jayapura, Senin (16/10/2017).

Menurut Lukas, sebelum terjun ke dunia politik, dirinya sudah “merah putih” bahkan jauh sejak masih meniti karir sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Oleh karena itu, ia merasa heran dengan dugaan berbagai pihak itu.

Oleh karenanya, ia berharap anggapan itu dapat dihilangkan, sebab Papua secara keseluruhan sudah merah putih.

“Coba saja ke kampung-kampung di pulau Jawa, apakah kita bisa mendengar orang akan bicara fasih berbahasa Indonesia?Itu hanya bisa ditemukan di Papua dan hal demikian menandakan Papua adalah merah putih secara keseluruhan,” ucapnya.

Lukas pada kesempatan itu mengharapkan semua pihak di Papua agar bersatu dan tak memusingkan hal-hal yang berpotensi menimbulkan konflik. Seperti pemilihan kursi Majelis Rakyat Papua (MRP)yang sempat menuai pro dan kontra.

Gubernur Papua, Lukas Enembe (ditengah). bersama Forkompinda, foto bersama dengan pilot Helikopter Bell-412 Mayor Athenius Murip, usai atraksi dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan ke-72 RI, di lapangan Mandala. (Erwin)

Lukas juga mengimbau,  bupati untuk tak “rakus” dengan jabatan yang dapat memicu konflik diantara masyarakat. Lebih khusus soal klaim-mengklaim partai jelang Pilkada Bupati di wilayahnya.

“Saya harap jangan sampai ada yang ribut-ribut soal partai. Lebih bagus atur baik-baik, jangan klaim ini saya samapi-sampai borong 30 kursi (partai) kasih habis.Akibatnya perang terjadi karena kerakusan bupati,” katanya.

“Sebenarnya semua bisa di atur.Tapi kalau kepala daerah sudah rakus itu akan mengakibatkan masalah, karena mau di rampas semua. Ini yang tidak boleh,” tuturnya berpesan. (Win /Koran Harian Pagi Papua)