STFT Fajar Timur : Berakar Dalam Injil Bertumbuh Dalam Budaya

0
8
Suasana Ibadah Syukuran. (Fransisca/LintasPapua.com)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  –  Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi( STFT) Fajar Timur Abepura, Papua, merayakan usianya yang ke -50 tahun, pada selasa(10/10/2017) lalu. Para alumnus diharapkan menginjli secara kreatif dalam konteks budaya Papua, terutama untuk menjangkau daerah- daerah yang masih terisolasi.

Misa syukur memperingati Jubelium 50 tahun STFT Fajar Timur berlangsung di Kampus Yerusalem Baru, Jalan Yakonde Padang Bulan, Abepura, Papua. Misa dilakukan secara konselebrasi oleh empat orang uskup se daratan Papua: Mgr. Aloysius Murwito, OFM uskup Keuskupan Agats, Mgr. Jhon Saklil, Pr uskup Keuskupan Timika, Mgr.Leo Laba Ladjar, OFM uskup Keuskupan Jayapura dan Mgr. Nicolaus Adi Seputera, MSC uskup Keuskupan Agung Merauke.

Rangkaian acara dalam rangka Jubelium berlàngsung sejak 8-11 Oktober, berisi pertunjukan seni dan budaya, beraneka lomba dan permainan, rekreasi bersama dan reuni alumnus.

STFT Fajar Timur tercatat telah meluluskan 237 orang lulusan. Sebagian besar adalah imam projo dan imam dari beberapa kongregasi seperti Fransiskan, MSC dan OSA. Ada pula kaum awam yang kini menjadi penginjil dan guru agama di berbagai pelosok Papua dan Indonesia.

Hadir dalam misa Jubelium tamu undangan, biarawan biarawati, petugas pastoral, utusan pemerintah yang diwakili Sekda Provinsi Papua, Herry Dosinaen dan umat se- Dekenat Jayapura.

Mgr. Aloysius Murwito, celebrant utama mengingatkan kembali tujuan didirikannya lembaga pendidikan calon imam ini. Menurutnya, STFT Fajar Timur berdiri tak lepas dari keinginan gereja untuk melaksanakan tugas perutusan mewartakan Injil di tanah Papua.

” Dulu hanya tiga orang frater yang diajar oleh tiga dosen ketika seminari tinggi masih di Dok 5 Jayapura. Dari tiga frater bertambah jadi sepuluh. Dari sepuluh berkembang hingga lima puluh orang. Dari waktu ke waktu, tahun ke tahun, tiga orang itu bertambah hingga saat ini STFT Fajar Timur telah meluluskan 237 orang, ujar uskup Murwito.

STFT Fajar Timur mengambil moto” Jadikanlah mereka muridKu”. Moto ini seperti tanah yang ditanami dan tanamannya diharapkan berakar, bertumbuh dan berbuah. Dan buah itu dinikmati oleh banyak orang,kata uskup Murwito

STFT Fajar Timur menurutnya, ibarat kebun yang perlu dipelihara dan dipupuk agar tanamannya menghasilkan dan bermanfaat.

” Lembaga ini seperti kebun Anggur Alkah. Para penggarap kebun anggur adalah para imam dan calon imam yang dididik di sini. Mereka harus menjadi komunitas yang merasul. Merekalah yang turun menyiapkan umat untuk saling melayani agar lebih sejahtera dan hidup pantas. Pada posisi inilah STFT Fajar Timur bisa memberikan kontribusinya kepada kehidupan masyarakat. Melalui merekalah umat mendapat inspirasi dari Tuhan.

Inilah kebun anggur Tuhan. Inilah kebun anggur yang berhasil digarap. Dan setelah 50 tahun hasilnya mulai bisa dipetik”, ujarnya.

Suasana Ibadah Perayaan 50 Tahun Sekolah Tinggi Filasat Teologia (STFT) Fajar Timur Abepura, di halaman sekolah tersebut. (Fransisca /LintasPapua.com)

Uskup Murwito yang merupakan angkatan kelima dari lembaga ini, lulus pada tahun 1973, mengatakan, masih banyak daerah tanah Papua yang dilupakan dàn belum disentuh oleh pewartaan Injil karena terisolasi oleh letak geografis.

 

Daerah -daerah inilah, kata dia yang menjadi prioritas alumnus STFT Fajar Timur. Karena itu putera- puteri STFT Fajar Timur harus bisa menumbuhkan diri dalam ketekunan, ketaatan, kerajinan dengan melatih kepekaan dàn tak gampang putus asa.

Alumni diharapkan jadi pewarta yang kreatif yang bisa mencari dan menawarkan berbagai alternatif kepada umat. Alumni diajak mampu bertahan dalam kondisi yang berat, karena pekerja kebun anggur yang sejati yakni Kristus sendiri mengalami berbagai hambatan dalam mewartakan Kerajaan Allah.

” Masih banyak ladang yang kita biarkan terbengkalai. Yang tidak terawat hingga sana sini tumbuh ilalang. Melalui perayaan syukur ini, marilah kita bersama- sama berjalan bergandengan tangan dalam menggarap kebun anggur Allah agar menghasilkan buah yang melimpah untuk masyarakat Papua dan Indonesia. Perayaan 50 tahun ini menjadi momentum bagi kita semua untuk semakin mengakarkan Injil dalam budaya Papya”, ujar Murwito.

Tanggap perkembangan zaman sementara itu Mgr. Jhon Saklil, Pr mengatakan lembaga STFT harus dikembangkan pada masa mendatang. Menurutnya masih banyak orang muda yang bersedia menjadi pelayan gereja.

” Konsentrasinya memang untuk sekolah calon imam. Tapi kalau dalam perjalanan ada yang mengundurkan diri dan memilih menjadi kaum awam, mereka tetap dipakai sebagai petugas gereja”, kata uskup Jhon.

Uskup Keuskupan Timika itu berharap, para calon imam yang dididik di STFT Fajar Timur belajar untuk menumbuhkan kreativitas dan kritis melihat persoalan- persoalan yang sedang terjadi di Papua. Karena itu, menurut uskup Jhon, STFT membekali para calon imam dengan mata kuliah antropologi, sosioligi dan penelitian sebagai bekal ketika mereka terjun ke tengah umat.

Suasana Menyanyikan Pujain dan Syukur Bagi Tuhan oleh para Pastor. (Fransisca/LintasPapua.com)

Diakon Didimus Temongmere, kawan seangkatan Mgr. Murwito berharap, agar almamaternya menekankan pada pastoral keluarga dikalangan masyarakat Papua. Sebab menurut dia? dari keluargalah akan lahir calon imam dan awam Katolik yang kuat.

“Kedepan agar lebih memperhatikan keberadaan orang Papua yakni pembinaan keluarga dimana benih panggilan keluarga Katolik lahir. Mereka yang sudah jadi imam kita ucapkan terima kasih. Sementara mereka yang berkarya sebagai awam, kita butuhkan sebagai awam yang handal, berkarya disemua area kehidupan, baik ekonomi, sosial, budaya maupun politij, ujarnya.

Tambah Didimus, agar awam Katolk tidak takut terjun kedalam dunia politik.” Kita tak boleh alergi dengan politik. Justru gereja harus hadir disana, menjadi nabi untuk meluruskan politik kearah yang lebih baik. Kita tak hanya bicara seputar altar, melankan bicara politik yang berkembang di masyarakat, terutama membawa suara kenabian dipemerintahan”, ujar Didimus lagi.

Ketua STFT Fajar Timur, Pastor Neles Tebay, Pr dalam sambutannya mengungkapkan, selama setengah abad ini, STFT Fajar Timur telah mengalami banyak perubahan. ” Kita sadar bahwa perubahan terus terjadi karena itu secara sadar kami membekali para calon imam dengan ilmu yang cukup untuk menghadapi berbagai perubahan tersebut”, ungkapnya.

Perjamuan saat diberikan pastor kepada para jemaat. (Fransisca/LintasPapua.com)

Menginjili Dalam Konteks Papua

Pastor Jhon Jonga, Pr. Aktifis Kemanusiaan adalah satu dari 200 lebh alumni STFT Fajar Timur yang punya pemikiran soal bagaimana berkontribusi ditengah umat, khususnya melayani warga Papua.

Diusia ke 50 STFT Fajar Timur menggambarkan kondisi rlil masyarakat Papua setelah 50 tahun. Ada perbedaan sangat jauh. Karena itu, dalam 50 tahun ini dalam perencanaan STFT khususnya merancang penginjilan kontekstual Papua sesuai kondisi masyarakat Papua.

Papua dengan kondisi yang ada, sebenarnya mendesak STFT dalam mengatur program kuliah agar lebih melihat kondisi sosial, kondisi HAM Papua dengan memperhatikan kesejahteraan dimana kematian kerab terjadi.

Setelah 50 tahun, saya pikir banyak misi misi direfleksikan kembali. Hal itu lebih menyentuh dan mendarat dengan situasi sosial masyarakat. Cara penginjilv dewasa ini diakui memang tak bisa disamakan dengan kondisi 50 tahun lalu. (Veni)