Friday, 24 Nov 2017
Nasional & Dunia Pojok Rakyat

Mengenal Samuel Tabuni : Wakil Indonesia di YSEALI Professional Fellows Program di Washington DC, Amerika Serikat

Samuel Tabuni, saat berada di Washington DC, Amerika. (Facebook Spirit Nduga)

Oleh : Septinus George  Saa

 

Samuel Tabuni adalah direktur Papua Language Institute (PLI) yang didirikannya di awal tahun ini yang saat ini tengah berada di Washington DC, Amerika Serikat mengikuti 7 minggu program pelatihan yang di selenggarakan oleh Young SouthEast Asian Leaders Anitiative (YSEALI). 

Badan ini adalah suatu organisasi misi Amerika Serikat untuk negara-negara ASEAN dengan tujuan membangun kemampuan leadership dari pemuda dan profesional di region ASEAN yang mempromosikan kerjasama cross-border untuk menyelesaikan masalah-masalah bersama yang dihadapi negara-negara ASEAN ini maupun masalah-masalah global dunia.

Dijelaskan oleh Pak Samuel Tabuni, program ini di dirikan oleh mantan president Amerika Serikat Barack Obama di 2014 silam. Lanjutnya, tujuannya (YSEALI) untuk melatih para pemimpin muda ASEAN mulai dari usia-18-35 dalam rangka membangun hubungan 10 Negara ASEAN, ungkap beliau ketika selesai mengikuti hari pertama orientasi di Capitol Hill, Washington DC.

Samuel Tabuni, berkomitmen dengn program ini, membangun kerja sama pemimpin muda ASEAN melihat masa depannya, masyarakatnya dan bangsanya jauh lebih baik kedepan. (Foto Pribadi ST)

Ketika ditanyakan alasan apa yang membuat beliau tertarik untuk mengikuti program ini, beliau mengungkapkan bahwa, “Saya tertarik dengan program ini, karena issue yang dibicarakan didalam adalah persoalan kehidupan saat ini yang dihadapi oleh kaum pemuda/i dalam hal Pendidikan, ekonomi, pemerintahan, legislative dan Lingkungan hidup dan promosi kebudayaan,” katanya.

Selanjutnya, beliau menambahkan kalau beliau melihat wadah ini sangat penting dalam hal membangun kerja sama pemimpin muda ASEAN melihat masa depannya, masyarakatnya dan bangsanya jauh lebih baik kedepan. Ini merupakan beberapa alasan yang membuat beliau mendaftarkan diri dan akhirnya diterima dan menjadi salah satu delegasi Indonesia untuk YSEALI Professional Fellow 2017 yang di mulai pada 11 October ini.

Untuk mengikuti program ini, beberapa langkah harus beliau jalani dimulai dari proses pendaftaran juga melengkapi dokumen persyaratan. “Hal pertama yang dia lakukan adalah mendaftar menjadi anggota YSEALI melalui website: https://asean.usmission.gov/yseali/, pada tahun 2015 dan dari saat itu saya sudah terdaftar resmi sebagai anggota YSEALI,” ungkap beliau saat di wawancarai.  Setelah terdaftar, beliau memilih program Professional Exchange Fellows dengan fokus issue legislatif dan pemerintahaan.

“Setiap program berbeda, waktu rekrutment juga tidak sama setiap tahunnya, beberapa hal yang perlu disiapkan pertama adalah kesiapan pribadi dari bahasa Inggris, kedua mempunyai visi dan program harus jelas dan sudah ditekuni bidang tersebut yang ingin di ambil atau daftarkan,” ungkapnya.

Samuel Tabuni, yang juga Ketua Umum Cendekiawan Papua Alumni Jawa – Bali di Tanah Papua ini menambahkan, kalau sudah mendaftar, akan ada wawancara dari pihak kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta dan kementerian dalam negeri (state department) di Amerika terkait judul program yang dibuka, misalnya  Profesional Exchange Program, legislatif dan pemerintahan.

Foto Bersama Sejumlah Perwakilan Negara di Depan Gedung Putih Amerika Serikat. (Foto Koleksi Pribadi)

Setelah melalui proses pendaftaran dan dinyatakan lolos, beliau pada saat itu melanjutkan dengan mengikuti seleksi test wawancara pada bulan Januari- Februari 2017. Direktur PLI ini sempat juga tidak percaya akan lolos seleksi karena peserta yang ikut waktu itu sekitar 600 peserta se-indonesia.

Ia mengatakan, kalau saat itu dikarenakan oleh kesibukannya dengan proses pendirian PLI, Ia tidak sama sekali pikirkan ambisi ikut Program YSEALI. “Waktu itu bulan Juli tanggal 14 2017 selang berapa bulan meresmikan Papua Language Institute (PLI), saya tur ke Afrika tepatnya di Kamerun saya mendapatkan E-mail dari kedubes Jakarta dan pihak YSEALI bahwa saya salah satu yang lolos seleksi diantara 7 orang dari 600 orang yang ikut seleksi,” ungkapnya dengan penuh rasa senang dan bersyukur pada Tuhan karena peluang hanya 5% lolos menjadi 100% berhasil lolos.

Baca Juga :  Evaluasi Pilkada Serentak 2015

Tokoh pemuda yang memberikan teladan Pilkada Damai di Papua melalui pilkada Kabupaten Nduga ini tiba di Washingto DC pada tanggal 10 Oktober kemarin. Kegiatan pertama ia dan rekan-rekannya ikuti adalah mengikuti perayaan hubungan kerja sama Amerika dan ASEAN yg ke 40 tahun di Gedung Puith atu Capitol Hill bersama semua peserta dari 10 Negara ASEAN.

“Kegiatan dalam minggu ini kami akan di training khusus oleh lembaga International yang mendidik para pemimpin se-dunia terkait pemerintahan, politik dan penataan kota dan masyarakat yaitu ICMA (International City/County Management Assosiation) Leaders at the Core of better Communites,” paparnya lanjut.

Ini bukan pertama kalinya putra pertama dari seorang guru perintis di Nduga ini menginjakan kakinya di negeri paman sam. Kehadirannya di Washington DC, Amerika serikat ini adalah kali kedua baginya. Dia mengatakan, bahwa dirinya sudah kali kedua ada di Amerika setelah beberapa bulan lalu berkunjung ke negara bagian Colorado dan New York,” sembari melanjutkan kalau dia sangat kagum dengan kemajuan di Amerika Serikat dalam penegakan hukum, pembuatan regulasi mulai dari pemerintah federal, pemerintah negara bagian (state) sampai pemerintahan lokal (city) yang walaupun tidak saling berhubungan atau conneted tetapi negara ini (Amerika Serikat) tetap aman dan tetap menjadi negara super power dunia.

Perwakilan Indonsia, saat foto bersama Duta Besar Indonesia untuk Amerika. (Foto Pribadi Samuel Tabuni)

Kegiataan yang ikuti Samuel Tabuni mulai senin depan bersama rekan beliau dari Myanmar akan ditempatkan di Negara bagian North Carolina di Kota Salesbury selama 4 minggu. Mereka berdua akan belajar bagaimana manajemen kota, bagaimana peran legislatif untuk menciptakan good governance dan clean government, bagaimana pengembangan system perbankan dan pengembangan makro bisnis yang membuat negara bagian ini berdikari dibidang ekonomi dan masih banyak kegiatan yang lain lagi seperti mengikuti festival budaya, mengunjungi sekolah dan universitas serta rumah sakit di negara bagian North Caroline ini.

Ada beberapa hal menarik yang di sampaikan oleh Samuel Tabuni ketika ditanyakan apa yang bisa beliau maknai ketika terpilih mewakili Indonesia secara khusus dari Papua mengikuti program YSEALI Professional Fellows in. Jawaban pertama ia sampaikan, yakni mendapatkan peluang yang langka ini adalah karena Tuhan. Kedua, bagi dirinya melihat bahwa ketika dia berusaha dengan sungguh-sungguh tanpa henti belajar dan belajar, Tuhan menentukan yang terbaik untuk dia.

“Saya ajak adik-adikku dari Papua peluang itu selalu ada dan tidak pernah hilang hanya kadang ketidaktahuan informasi dan kurangnya rasa ingin tahu yang akan menghilangkan masa depan kita sendiri dan menutup pintu-pintu berkat dan kesuksesan,” tandasnya dengan penuh semangat.

“Kami orang Papua juga bisa wakili Indonesia ditingkat ASEAN dan tingkat Dunia. Kuncinya menguasai Bahasa English. Tetap semangat dan terus ikuti program -program YSEALI selanjuntya tahun depan 2018. Kakak ini hanya buka jalan saja!” pesan penting yang di utarakan beliau untuk pemuda/I Papua yang hendak mengikuti jejaknya.

Baca Juga :  Benarkah Bawaslu Batalkan Mathius Awoitauw Sebagai Cabup Jayapura ???
Samuel Tabuni, saat berada di kediamannya, sebelum melangkah mengikuti berbagai kegiatan di Wasingthon DC Amerika Serikat. (Foto Pribadi)

Ketika ditanyakan apa harapan yang beliau miliki setelah mengikuti program YSEALI ini secara khusus Papua juga Indonesia, berikut penuturannya,

“Saya mempunyai ambisi besar untuk mambangun komunitas pemuda Indonesia dan Papua melalui program ini untuk tumbuhkan saling pengertian diantara pemuda (Mutual Understanding) bekerjasama addressing masalah-masalah politik, ekonomi dan sosial budaya, pemberdayaan pembangunan bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi rakyat, juga pencegahan pelanggaran HAM, Lingkunkungan Hidup termasuk hak-hak indiginous cultural protection dan pencegahan perluasan jaringan terorisme international di Indonesia dan ASEAN,”  katanya.

Beliau memiliki rencana jangka pendek, menengah dan panjang kedepan setelah selesai mengikuti program ini khususnya untuk Papua dan lebih besar lagi untuk Indonesia.

“Saat ini saya sedang sibuk memperkuat jaringan kerjsama PLI dengan beberapa universitas di Amerika, UK, Australi dan Afrika untuk kirim adik-adik saya dari Papua menempuh pendidikan yang layak dan berkualitas dinegara-negara tersebut diatas. Saya juga inginka setelah kembali bisa kerjsama  dengan Menteri Koordintor SDM dan Menteri Pemuda dan Olahraga untuk membuka forum diskusi dan kerjsama antar pemuda se-indonesia dalam rangka menjawab program Bapak Jokowi terkit Revolusi Mental terutama para Pemuda/I Indonesia mulai dari pinggiran sampai ke kota.”

Terakhirnya darinya di sampaikan pesan motivasi yang penting untuk semua pemuda/i Papua dimana saja. Dia mengungkapkan kalau peluang sangat terbuka lebar bagi siapa saja dan ia tekankan kalau bahwa penguasaan bahasa Inggris adalah kunci sukses.

YSEALI Professional Fellow 2017

“Saya harap adik-adik atau rekan-rekan asal tanah Papua bisa mendapat kesempatan ini,” ungkapnya sambil menutup dengan pesan penting yakni “kuncinya belajar dan berusaha pasti Tuhan membuka jalan”.

Dalam sebuah catatan tersebut, Samuel Tabuni mengakui,  sedang mempersembahkan yang terbaik yang Tuhan berikan kepada dirinya untuk Indonesia dan Papua di Washington D.C. USA. “Saya ucapkan terima kasih banyak kepada Bapak /Ibu yang telah mendukung dalam Doa. Tuhan memberkati kita semua. Biarlah nama Tuhan dimuliakan. Saya mohon Mama dan Bapa di Tanah Papua tanam lutut dan teruslah berdoa, karena dalam waktu yang dekat Generasi Emas Papua akan bangkit mengukir pembangunan di Tanah Papua, Indonesia dan Dunia. Mereka akan disegani dan dihormati karena Doa Bapa dan Mama di Tanah Papua,” tuturnya dalam postingan facebook dari Washington D.C.  (***)

Penulis, Septinus George Saa (istimewa)

*) Penulis adalah Putra asli Papua asal Sorong,  seorang pemenang lomba First Step to Nobel Prize in Physics pada tahun 2004 dari Indonesia. Makalahnya berjudul Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resisto. bahkan rumus Penghitung Hambatan antara Dua Titik Rangkaian Resistor yang Ditemukannya diberi namanya sendiri yaitu “George Saa Formula”. Kini Penulis  melanjutkan studi S2  Master teknik material di  di Birmingham, Inggris.