Dinas Pertanian Siap Turunkan Mesin Pemotong Padi di Koya Barat

Category: Berita Port Numbay 20 0
Daerah Pertanian Sawah di Koya. (Elsye Sanyi /Koran Harian Pagi Papua)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kota Jayapura, Jean Hendrik Rollo mengakui, hingga kini pihaknya belum memiliki operator untuk mengoperasikan alat pertanian yakni Rice Transplanter (RT) atau alat penanam padi dan Rice Combine Harvester (RCH) atau alat pemotong dan pengisi padi.

 

“Kedua alat tersebut baru saja didatangkan dari Jakarta pada tahun ini, namun terkendala di tenaga operator. Sehingga kami akan meminta operator dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua untuk memberikan pelatihan kepada petani agar mereka bisa mengoperasikan alat itu pada 2018 mendatang,” ucapnya kepada awak media saat ditemui di Kantor Wali Kota Jayapura, Selasa (10/10) kemarin.

 

Menurut Rollo, alat RT yang dimiliki Distan Kota Jayapura dihibahkan dari Pemprov Papua. Sedangkan, RCH merupakan mesin panen kombinasi untuk memotog dan mengisi padi ke dalam karung, yang dihibahkan langsung oleh Pemerintah Pusat kepada Distan Kota Jayapura.

 

Dengan demikian, dikatakannya, pihaknya bertanggung jawab untuk melatih petani Kota Jayapura di Koya Barat dan Koya Timur, bagaimana cara mengoperasikan kedua alat itu.

Baca Juga :  Pemkot Jayapura Siap Pasang Penerangan Lampu Jalan, Inilah 25 Titik Tersebut

 

Adapun manfaat dari kedua alat tersebut ialah hemat waktu, tenaga dan menekan biaya produksi khususnya untuk tenaga kerja. Sehingga diharapkannya, dengan adanya bantuan alat RT dan RCH ini dapat meningkatkan jumlah produktifitas guna mengembalikan tahun emas Koya Barat dan Koya Timur pada masa lalu yang dikenal sebagai daerah persawahan yang luas.

 

Diakuinya, saat ini banyak masyarakat setempat yang beralih profesi sebagai petani dan mengembangkan usaha ikan air tawar, terutama di wilayah Koya Timur.

 

“Untuk itu, lahan pertanian di Koya Barat akan kami upayakan dan pertahankan menjadi lahan persawahan, karena capaian hasil 1 hektar sawah dapat meningkat dari 4 hingga 5 ton beras,” imbuhnya.

 

Sehingga pihaknya berusaha untuk menyiapkan tenaga operator dengan harapan operator tersebut dapat mengoperasikan alat itu di 2018 mendatang, guna menghasilkan kualitas beras yang baik, dalam waktu yang singkat. (Elsye Sanyi  /Koran Harian Pagi Papua)

Related Articles