Belajar Dari Pengalaman, Maka Pentingnya Perdamaian Jelang Pilgub Papua

Category: Pojok Rakyat 97 0
Nenu Tabuni, Selaku Sekretaris DPRD Kabupaten Intan Jaya. (Istimewa)

Oleh : Nenu Tabuni, S. Sos.

 

Ada sebuah Pepatah Latin terkenal “Si Vis Pacem Para Bellum” artinya (jika menginginkan perdamaian, maka bersiaplah untuk perang).

Tentu saja untuk konteks sekarang bukan lagi suatu perang dalam arti sebenarnya, tetapi ia membawa suatu pesan bahwa perdamaian itu akan ada jika ada perjuangan, suatu kerja keras, dan tentu komitmen yang betul – betulkuat. Perdamaian adalahperang melawan keegoisan dari tiap -tiap individu untuk hidup berdampingan secara damai satu sama yang lain.

Begitu kuat perdamaian ini, Paus Pius XII dlm jabatan Pointificalnya sebagai Paus, Gereja Katholik Roma, menggaungkan lagi seruan perdamaian dgn mottonya yang terkenal “Opus Lustitiae Pax (Karya Perdamaian dan Keadilan.

Jadi menurut Paus Pius XII perdamaian dan keadilan adlh sebuah karya yang harus diciptakan dan secara batiniah diniatkan.
Di Tanah Papua, seruan perdamaian itu coba digaungkan.

Ketika kehidupan bersama sebagai bangsa diwarnai oleh mata rantai perpecahan, saling sikut karena banyak kepentingan, kehidupan demokrasi diperalat untuk kepentingan kelompok tertentu, pesta demokrasi berujung bentrok, anak bangsa negeri ini tidak ingin tercebur dalam kubangan yang sama. Bahkan ketika situasi itu sekian lama menjadi momok di Tanah Papua Papua.

Baca Juga :  Inilah Ketetapan Pemerintah Untuk Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2018

Kita orang Papua mampu menunjukkan diri bahwa tidak selamanya perhelatan demokrasi di Tanah Papua atau terutama di daerah – daerah rawan konflik seperti Tolikara, Intan Jaya, Puncak Jaya, Puncak, Timika dan Kabupaten lain di Tanah Papua akan berujung pada pertumpahan darah.

Ada pembelajaran Demokrasi yang perlu diambil contoh adalah Kab. Nduga dimana Calon Kandidat Samuel Tabuni anak yang sangat muda dan bertarung dengan incumbent Yairus Gwijangge.

Sebelumnya banyak orang prediksi termasuk data Polda Papua Kabupaten Nduga termasuk daerah/Kab yang akan rawan konflik, namun semua dugaan itu dipercantik oleh Calon Kandidate No. Urut 2 (dua), Samuel Tabuni mampu mengendalikan diri untk mengamankan masanya, dan Samuelpun mengakui kemenangan Incumbent.

Memang kita melihat di Tanah Papua, sumber daya yang dirasa mash terbatas, kondisi sosial ekonomi yg masih mjd persoalan, tingkat pendidikan yg tidak merata, akses politik dan pendidikan politik juga msh rendah, tetapi wilayah/Kab lain di Papua juga dalam Pemilukada terbukti menyuguhkan suatu perhelatan demokrasi berkualitas.

Baca Juga :  Yusak Andato Terpanggil Dirikan Sekolah Wirausaha Anak Adat Papua Bangkit
Ilustrasi Keterlibatan Masyarakat Dalam Pesta Demokrasi Melalui Kampanye (Foto : Eveerth /LintasPapua.com)

Situasi ini memantik kesadaran, bhw sia2lah upaya perdamaian, apabila konflik tdk segera diakhiri dan dicarikan jalan keluarnya.
Dengan demikian, kedepan perlu mengedepankan moralitas dlm bertarung, adalah suatu capaian yang tentu saja membanggakan.

Tetapi sekaligus juga menjadibajang refleksi kritis kontruktif utk membuat suatu proses demokrasi yang lebih matang dan bermartabat lagi dimasa-masa mendatang. Sebab Pemilihan Gubernur (Pilgub) Provinsi Papua sudah di depan mata.

Semoga demokrasi di Tanah Papua mampu beranjak “naik kelas” dari kilometer nol ke kilometer satu bahkan sepuluh dan seterusnya sampai tercipta perhelatan pesta demokrasi yg benar – benar  bermartabat. Semoga…..!!!!.

(Penulis adalah Sekretaris  DPRD Kab. Intan Jaya )

Related Articles