IJTI Papua Barat Deklarasi Stop Kekerasan Bagi Jurnalis di Indonesia

Category: Nasional & Dunia 27 0
Ketua IJTI Pengda Papua Barat, Chanry Andrew Suripatty, saat menyalakan lilin simbol perlawanan terhadap kekerasan dalam dunia jurnalis di Indonesia. (istimewa)

SORONG (LINTAS PAPUA)  –  Kekerasan terhadap jurnalis kembali terjadi. Sejumlah wartawan media eletronik dan cetak menjadi korban kekerasan aparat kepolisian dan Satpol PP saat tengah meliput pembubaran paksa aksi demo masa di Alun-alun Purwokerto, Banyumas, Senin(9/10/2017) malam.

Wartawan Metro TV Darbe Tyas mengalami luka memar setelah sempat dipukuli dan diinjak oleh aparat. Darbe Tyas yang saat itu berada di lokasi agak jauh dengan pengunjuk rasa tiba-tiba didatangi dan diseret oleh puluhan petugas ke halaman Setda, kemudian dipukuli di lokasi tersebut hingga terjatuh. Bukan itu saja, petugas juga sempat menginjak-injak tubuhnya.

Petugas baru meninggalkan korbannya, setelah Darbe tidak berdaya dan menghapus seluruh rekaman gambar dalam kameranya. Tidak hanya Darbe Tyas, wartawan cetak dari Suara Merdeka Agus Wahyudi, Dian Aprilia, Satelit Pos Auliya Hakim dan Radar Banyumas Wahyu juga turut menjadi korban kekerasan aparat.

Ketua IJTI Pengda Papua Barat, Chanry Andrew Suripatty menilai, aksi brutal aparat terhadap jurnalis yang sedang menjalankan tugasnya selalu saja terulang.

” Banyak anggota polisi yang sepertinya tidak paham bahwa tugas jurnalis dilindungi oleh undang-undang.” jelas Chanry

Baca Juga :  Merokok Ancaman Bagi Pembangunan Bangsa

Tidak hanya itu, menurut Chanry peristiwa kekerasan terhadap jurnalis oleh aparat menunjukan bahwa kesepakatan yang sudah dibuat antara institusi kepolisian dengan Dewan Pers agar polisi melindungi jurnalis yang tengah menjalankan tugasnya tidak terimplementasikan dengan baik.

Atas peristiwa kekerasan yang dialami sejumlah jurnalis oleh aparat kepolisian di Banyumas, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengda Papua Barat menyatakan sikap sebagai berikut :

1. KAMI JURNALIS INDONESIA YANG TERGABUNG DI DALAM IJTI PAPUA BARAT MENGUTUK DAN MENGECAM KERAS AKSI KEKERASAN YANG MENIMPA SEJUMLAH JURNALIS DI PURWOKERTO, BANYUMAS.

2. MENUNTUT PELAKU KEKERASAN DISERET KE MEJA HIJAU

3. MEMINTA KAPOLDA JAWA TENGAH DAN KAPOLRES BANYUMAS BERTANGGUNG JAWAB.

4. MEMINTA PIHAK PEMDA JAWA TENGAH DAN PEMDA BANYUMAS BERTANGGUNG JAWAB.

Selain itu melihat kondisi kekerasan yang terus terjadi, IJTI PAPUA BARAT MENDEKLARASIKAN,

STOP KEKERASAN OLEH SELURUH OKNUM – OKNUM APARAT PENEGAK HUKUM, PEMERINTAHAN DAN MASYARAKAT TERHADAP JURNALIS DI SELURUH INDONESIA DAN MENGHORMATI KEMERDEKAAN PERS.

 

Dalam Deklarasi ini juga, IJTI Papua Barat mengusulkan kepada Dewan Pers dan IJTI PUSAT untuk menetapkan tanggal 11 Oktober sebagai hari anti kekerasan terhadap pekerja pers di seluruh Indonesia. (*)

Baca Juga :  Kemensos -Tahir Foundation Bangun 3 Gedung Pusat Penelitian dan Pelayanan Anak Jalanan

Related Articles