Harapan 50 Tahun STFT Fajar Timur Ikut Membangun  Papua

Category: Sosial Masyarakat 58 0
Suasana Ibadah Perayaan 50 Tahun Sekolah Tinggi Filsafat Teologia (STFT) Fajar Timur Abepura, di halaman sekolah tersebut. (Fransisca /LintasPapua.com)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  – Ditengah perayaan 50 tahun STFT Fajar Timur Abepura, dengan tema : Berakar Dalam Injil Bertumbuh Dalam Budaya”, segenap alumni datang dari seluruh Papua berkumpul  untuk mengadakan misa syukur, saling temu kangen, tentunya tidak lepas dari harapan untuk sekolah ini terus berkarya membangun Papua, Selasa (10/10/2017).

 

Berbagai ucapan selamat ulang tahun emas bagi civitas academica  STFT Fajar Timur, banyak harapan yang di utarakan para Alumni guna menunjang kemajuan kampus  tercinta seperti yang di utarakan berikut,

Salah seorang Angkatan pertama STFT Fajar Timur Abepura, Theodorus Makai mengatakan, bahwa harapan kedepan adalah perlunya membina orang di Papua, menurut kulturnya, di dirikan sekolah ini supaya orang setempat disini jangan membina menjadi orang Eropa, sesuai  dengan kulturnya, supaya orang setempat (orang asli Papua) bisa menjadi dosen di STFT Fajar Timur.

Sementara, Alumni STFT Fajar Timur angkatan 1995,Ananias Benekdiktus Koyafi , berharap lulusan menjadi gembala umat sungguh melayani dan  STFT berakar dalam injil bertumbuh dalam budaya ini  adalah budaya Papua.

“Mengapa jumlah orang Papua aslinya mengecil, ini kenapa? Ini perlu di refleksi oleh pimpinan lembaga ini untuk coba Papua yang di prioritaskan,” kata mantan  angota DPR kabupaten jayapura ini.

Berbagai motif budaya ikut dtampilkan dalam ibadah tersebut. (Fransisca/LintasPapua.com)

Senada dengan itu, Alumni STFT Fajar Timur angkatan 1995, Anselma  Madong menyampaikan harapannya, dengan kebijakannya para uskup mengirim yang bersekolah disini adalah calon Imam ( laki-laki) yang sebelunya tujuan awal  mendidik pelayan imam, pastoral awam.

Suasana Menyanyikan Pujain dan Syukur Bagi Tuhan oleh para Pastor. (Fransisca/LintasPapua.com)

“Sebagai alumni yang sebagai perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di sini sangat berharap bahwa perempuan awam boleh di perhitungkan lagi, untuk mengenyam pendidikan kembali di tempat ini oleh para uskup, karena di tanah Papua sekolah filsafat itu hanya ada di sini, dan perempuan luluasan STFT mempunyai pandangan yang luas,” katanya.

Baca Juga :  43 Pasangan Nikah Sah Terdaftar di KUA Jayawijaya

 

Ditambahkan, bahwa kenapa perempuan dalam hal ini selain suster, tidak di beri kesempatan, kalau boleh kesempatan kedepan di akomodir perempuan  bisa belajar disini.  “Karena mulai di batasi mulai tahun 2007,setelah itu 2008 hanya di khususkan para suster,”  ujarnya.

Hal lain dikemukakan,  Alumni STFT Fajar Timur angkatan 1986,  Cristin Rahaniar mempunyai harapan,  STFT mengijinkan wanita lain untuk mengenyam pendidikan di sini, karena dirasakan bahwa dengan belajar disini kami menjadi satu pribadi yang lain.

“Berguna dalam melakukan tugas kami di masyarakat dan secara khusus mau mengucapkan terimakasih, karena kami sudah mendapatkan pembinaan. Kami juga berharap banyak wanita terlibat dalam karya pastoral di gereja dalam pelayanan keuskupan, selain mengajar,”  pungkasnya.

Perjamuan saat diberikan pastor kepada para jemaat. (Fransisca/LintasPapua.com)

Sementara itu, Sekretaris Daerah, TEA Hery Dosinaen, dalam sambutannya  menuturkan, bahwa STFT (Sekolah Tinggi Filsafat Teologia) Fajar Timur menunjukan satu kesatuan, satu embrio yang harus tumbuh di tanah ini untuk maju terus membangun tanah ini dalam kesatuan STFT.

“Bersyukur kepada Tuhan kepada para pendiri yang telah membangun lembaga pendidikan yang membina anak negri ini yang memberi pengaruh luar biasa kepada masyarakat tanah papua, khususnya umat katholik yang tersebar di gunung, pantai dan rawa, kita juga bersyukur kepada Tuhan, sebelum adanya pemerintahan di tanah ini, para misionaris yang menerobosi  keterisolasian,” katanya.

Baca Juga :  PAP Sikapi Masalah Sosial Politik Papua dan Siap Musdalub

 

Ditambahkan, bahkan selalu bergandengan tangan dengan umat lainnya untuk membangun tanah tercinta, kita juga berbanga dengan dedikasi para alumni sebagai profesi keimanan, social, politik dan wiraswasta mempunyai keimanan luar biasa.

“Untuk itu, atas nama pemerintah dan seluruh masyarakat kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas semua kontribusi , partisipasi aktif khususnya lembanga pendidikan sekolah STFT Fajar Timur,” ucap Sekda Papua menutup sambutannya.

Suasana Ibadah Syukuran. (Fransisca/LintasPapua.com)

STFT Fajar Timur Abepura didirikan pada 10 Oktober 1967 oleh tiga pimpinan gereja Katolik, yakni Mgr. Herman Tillemans, MSC (Uskup Keuskuan  Agung Merauke), Mgr. Dr. Rudolf Staverman, OFM (Uskup Keuskupan Jayapura), dan Mgr. Petrus van Diepen, OSA (Uskup Keuskupan Manokwari – Sorong).

“Selama ini STFT telah banyak memgalami perubahan  secara sadar untuk memenuhi kebutuhan internal dan eksternal, hingga masalah kebutuhan dan tantangan dari Gereja,” ujar Ketua STFT Fajar Timur Abepura, DR. Neles Tebay KEBADABI.

 

 

Pastor Neles Tebay menuturkan, bahwa kepada semua pihak disampaikan profisiat, selamat bergembira dan bersyukur atas Kasih Allah yang dialami melalui lembaga STFFT biar semakin berakar dalam Injil dan bertumbuh dalam Budaya di Tanah Papua. (Fransisca /LintasPapua.com)

 

 

Related Articles