Festival Cross Border Dorong Peningkatan Ekonomi di Batas RI – PNG

0
163
Sejumlah Perempuan Asal Sentani, saat foto bersama Warga PNG, Fabiola Joku yag menggunakan baju negara PNG. (Eveerth /Koran Harian Pagua)
Wali Kota Jayapura, DR. Benhur Tomi Mano, MM., saat menyampaikan sambutan pada pembukana acara Festival Cross Border di Skouw Batas RI – Papua New Guinea. (Elsye Sanyi /Koran Harian Pagi Papua)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Wali Kota Jayapura, DR. Benhur Tomi Mano, MM mengatakan sebagai ajang pariwisata untuk memperkenalkan pariwisata Kota Jayapura, Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata Indonesia menyelenggarakan Festival Cross Border setiap tiga bulan sekali, yang kali ini dipusatkan di Daerah Perbatasan RI-PNG, Kamis (5/10/2017) kemarin.

 

Selain itu, dikatakannya agar orang semakin mengenal daerah perbatasan di ujung timur Indonesia yang semakin aman, damai dan kondusif dibawah kepemimpinan Presiden RI, Ir. Joko Widodo. Yang dinilainya  sangat memiliki potensi nilai jual pariwisata kepada turis domestik maupun internasional yang berkunjung ke wilayah perbatasan.

 

“Daerah perbatasan bukan daerah untuk ditakuti. Ada tiga hal yang saya bangun di daerah ini antara lain keamanan, untuk mengawal daerah perbatasan dengan baik, kemudian bangun infrastruktur dengan baik termasuk kampung-kampung yang berada di wilayah perbatasan serta membangun pemberdayaan ekonomi masyarakat di daerah perbatasan RI-PNG,”  ujar Benhur Tomi Mano, saat memberikan sambutan pada acara Festival Cross Border.

 

Untuk itu, ia berharap kepada pemerintah provinsi dan pusat agar dapat bersinergi bekerja sama menjalin koordinasi yang baik dengan Pemkot Jayapura, khususnya untuk mempererat kebersamaan hubungan kerjasama antara Indonesia dan PNG dengan melaksanakan berbagai kegiatan yang dipusatkan di daerah perbatasan RI-PNG.

 

“Petugas jangan sekali-kali memasukkan narkoba kedalam negara ini. Anda harus bekerja dengan jujur diatas tanah ini. Siapapun dia, jangan coba-coba untuk memasukkan narkoba baik dari laut, darat maupun lewat jalan tikus yang dibuat,” tegasnya.

Ilustrasi Busana adat PNG. (Istimewa

Untuk itu, ia berjanji akan membangun pos keamanan di dekat jembatan Muara Tami untuk menapis setiap barang dan manusia yang masuk dari PNG ke wilayah kekuasaannya yaitu Kota Jayapura. Hal ini dilakukan sesuai dengan motto yang mendasari pembangunan di Kota Jayapura yaitu satu hati membangun kota untuk kemuliaan nama Tuhan.

 

“Bagi para petugas yang bekerja diCwilayah perbatasan, bertugaslah dengan baik. Agar tidak terjadi peredaran barang dan manusia ke Kota Jayapura yang tidak terkontrol,” pesannya bagi petugas keamanan di wilayah perbatasan.

 

Selain itu, dipaparkannya, ia mendukung penuh kegiatan kerjasama dengan pihak Kementerian Pariwisata Indonesia, dan juga Kementerian Arsip Nasional Republik Indonesia yang telah memamerkan puluhan foto jaman dulu tentang Papua baik dari Sorong hingga Merauke, bagi masyarakat pengunjung standnya khususnya bagi masyarakat di daerah perbatasan.

Wilayah perbatasan Indonesia – Papua New Guinea (PNG) di Skouw, Kota Jayapura. (Eveerth/Koran Harian Pagi Papua)

Selain itu, putra nomor satu di Port Numbay menyampaikan ucapan terima kasih kepada masyarakat Kampung Waromo dan Vanimo yang telah berpartisipasi dalam acara festival cross border 2017 itu.

 

Adapun acara festival ini diikuti oleh Wali Kota Jayapura, Perwakilan Kementerian Pariwisata Indonesia, Dinas Pariwisata Provinsi Papua, beberapa Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah dan Aparatur Sipil Negara di lingkungan Pemkot Jayapura.

 

Festival cross border 2017 dimeriahkan dengan tarian tradisional dari grup tarian pemuda Papua dan grup tarian pemuda dari Kampung Waromo, Dave Solution Band, Mixmate Band asal PNG, serta beberapa permainan dan door prizes.

 

Berdasarkan pantauan HPP, lokasi festival mulai dipadati masyarakat dari pusat kota dan diwilayah perbatasan bahkan masyarakat asal PNG, saat atraksi panggung hiburan berlangsung. (Elsye Sanyi  / Koran Harian Pagi Papua)