Bupati Merauke Terganggu Dengan Sikap  LSM Mighty Earth

0
3
Suasana Pernyataan Dukungan Industri Sawit dari Masyakat serta Bupati Merauke dan Boven Digoel di Jakarta, sebelumnya. (istiimewa)
Suasana Pernyataan Dukungan Industri Sawit dari Masyakat serta Bupati Merauke dan Boven Digoel di Jakarta, sebelumnya. (istiimewa)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  –  Potensi sumber daya alam Papua memang menjadi selalu menjadi pusat perhatian dunia internasional, termasuk juga perhatian dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) maupun pemerhati lingkungan. Seperti, Kabupaten Merauke dan Kabupaten Bovel Digoel merupakan dua wilayah yang terbuka bagi investor asing untuk menanamkan modalnya di bumi Papua.

 

 

“Dua wilayah itu telah menjadi tempat investor untuk berinvestasi dan kita telah membuka diri untuk para investor namun harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar bupati Merauke, Papua, Frederikus Gebze, saat memberikan keterangan pers, Selasa (3/10/2017)

 

 

Bupati menandaskan, namun semua itu tidak berjalan mulus sesuai keinginan dari masyarakat Papua itu sendiri, yakni Campur tangan LSM Asing seperti Mighty Earth sejak 2016 lalu dengan kampanye negatif terhadap pembangunan perkebunan kelapa sawit di tanah ulayaikabupaten Merauke maupun Bovel Digoel sangat menganggu kami.

 

“Mereka (LSM, red) bicara hanya dengan data-data sekunder atau hanya dapat informasi atau mendengar dari beberapa pihak yang kemudian menyampaikan kepada petinggi-petinggi perusahaan yang sudah bermitra dengan kami. Sebagai informasi, bahwa kami sudah bekerjasama dengan 7 perusahaan dan sudah ada 4 koperasi yang terbentuk berkat kerjasama dengan perusahaan tersebut,” jelasnya.

 

Suasana Pernyataan Dukungan Industri Sawit dari Masyakat serta Bupati Merauke dan Boven Digoel di Jakarta sebelumnya.
(istimewa)

Masih menurut bupati, pihaknya memohon bantuan Kedutaan Besar Amerika Serikat melalui Duta Besar AS Joseph R Donovan, Jr untuk mengingatkan LSM asing Mighty Earth untuk tidak melakukan kampanye negatif dan tidak mencampuri pembangunan perkebunan kelapa sawit didaerah kami, karena sudah sesuai dengan peraturan Pemerintah RI dan sudah disetujui oleh kami masyarakat pemilik hak ulayat.

 

 

Sementara, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Sebastianus Ndiken menambahkan, kampanye negatif tersebut sangat merugikan masyarakat sebagai pemikik hak ulayat, karena menyerang perusahaan kelapa sawit yang telah bermitra dengan masyarakat, sehingga perusahaan tersebut telah menghentikan pembukaan lahan untuk pembangunan kebun kelapa sawit, akibatnya pembangunan kebun plasma untuk masyarakat lokal belum terlaksana sampai saat ini.

 

 

“Kami ingin agar kebun plasma untuk masyarakat segera dibangun agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pemilik hak ulayat. Karena kami masyarakat Papua juga ingin maju dan sejahtera serta sejajar dengan saudara saudara kami didaerah lain diluar Papua,” ucapnya.

 

Suasana Pernyataan Dukungan Industri Sawit dari Masyakat serta Bupati Merauke dan Boven Digoel di Jakarta. (ISTIMEWA)

Ditambahkan, jika ada pihak-pihak yang ingin membantu kami, termasuk Mighty Earth dan LSM Amerika lainnya, maka kami mengundang mereka untuk datang langsung ke daerah kami di Merauke dan Boven Digoel, berkoordinasi dengan PEMDA kemudian membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 

 

Kehadiran bupati Merauke ke Kedubes Amerika Serikat dalam rangka mengawal masyarakat pemilik Hak Ulayat di tanah Kabupaten Merauke dan Bovel Digoel untuk menyampaikan aspirasi atas kampanye negatif yang dilontarkan oleh LSM asing asal Amerika Serikat, Mighty Earth. (*)