Pesta Makan Papeda  “Helay Mbay, Hote Mbay” di Kampung Abar

0
18
Papeda dan Ikan Mujair, siap disantap dengan hiloy (garpu bale papeda). (Eveerth Joumilena /Koran Harian Pagi Papua)

JAYAPURA (LINTAS  PAPUA)  –  Masyarakat Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, menggelar pesta makan gratis Papeda dan ikan  bagi para pengunjung dan masyarakat setempat dengan menyediakan 50 Sempe  di pinggiran Danau Sentani, Sabtu (30/9/2017)

Hal ini disampaikan  Kepala Kampung Abar, Naftali Felle, menjelaskan, bahwa Pesta Makan Papeda Dalam Sempe,  mengambil tema Helay Mbay, Hote Mbay.

“Ini merupakan tradisi yang sudah lama , dahulu orang tua kalau mau makan dia akan panggil anak – anaknya, kecuali yang pergi jauh, sehingga semua makan bersama dalam satu sempe,” ujar Kepala Kampung Abar, Naftali Felle, saat menemani masyarakat saat makan bersama.

Dirinya mengakui, pesta makan bersama adalah usaha dengan semangat sendiri untuk menjaga kekuatan pangan lokal serta menjaga resep nenek moyang kami dan bahan tempat kami sajikan juga adalah hasil karya kampung secara alami dikerjakan oleh masyarakat.

Dari pantauan  kegiatan yang berlangsung sejak Pukul 09.00 hingga Sore Pukul 15.00 Waktu Indonesia Timur.

Pendiri Papua Jungle Chef Community, Charles Toto, ikut mendukung acara tersebut dan memberikan apresiasi atas berbagai menu lokal yang disajikan masyarakat dengan bahan alami yang disediakan Tuhan di Kampung Abar.

Sejumlah warga yang hadir diperkirakan mencapai 200 orang, sedangkan jumlah sempe yang disediakan sebanyak 50 sempe.

“Memang ini baru awal kami berjalan, namun antusias masyarakat dan pengunjung cukup banyak dan kami berterimakasih uuntuk masyarakat yang datang,” katanya.

Ditambahkan,  bahwa pihaknya merencenakan unutuk pesta yang sama pada tahun depan yang lebih besar lagi.

Sementara itu, Dari pantauan ada sejumlah turis  mancanegara dari Amerika yang datag bersama keluarga dan menikmati serta menyaksikan pesta tersebut.

Pengakuan Kepala Kampung Abar, Naftali Felle, bahwa moment tahun depan akan menambah mencapai 150 sempe dan rencana juga untuk tempat duduk lebih dekat.

“Yang pasti semua bahan dari makanan hingga sempe adalah bahan alami yag memang sudah Tuhan sediakan di kampung Abar,” akuinya.

Sementara itu, The Jungle Chef of  Papua,  Charles Toto mengakui, adanya keunikan yang ditampilkan dalam karya pesta makan bersama,  yakni Pesta Makan Papeda Dalam Sempe, dengan tema HELAY MBAY, HOTE MBAY”.

Mama dan Bapa Naftali Felle, yang setia melayani dan menjelaskan semua tahapan hingga menjelaskan filosofi makan bersama dengan sempe. (Eveerth Joumilena /Koran Harian Pagi Papua)

“Saya berikan apresiasi atas sajian menu yang ditampilkan dan disajikan kepada masyarakat, misalnya yang terlihat ada  Kha ebehele atau ikan kuah hitam), pepeda dalam Helay (Loyang tradisional) masyarakat sentani serta dimakan dengan alat tradisional,” kata Charles Toto, yang juga Pendiri Papua Jungle Chef Community,, sekaligus  ikut mendukung acara tersebut.

Diakui,  bahwa makanan yang disajikan makan  papeda dalam helay (loyang tradisional) masyarakat Sentani, tentunya ada filosofi soal makan dalam helay serta sarat informasi yang bisa didapatkan.

“Tahun depan kami mendukung untuk masyarakat membuat hal yang sama dan lebih lagi, tentunya sangat menarik dalam sebuah festival makan papeda bersama,” tandasnya.

Dari pelayanan yamg disajikan, untuk menuju Kampung Abar harus menuju dari Kota Sentani menuju Kampung Yahim tepat di pinggiran Danau Sentani dan naik jonson menuju Kampung Tersebut dan semua dilayani gratis, baik pergi maupun pulang dari kampung tersebut, hanya cukup dengan membawa diri  dan siap tenaga untuk siap makan Papeda bersama masyarakat.

Turis Mancanegara dari Amerika ikut hadir merayakan pesta bersama makan Papeda. (Istimewa /Relawan TIK Papua)

Sebagaimana diketahui, Sebagian besar penduduk di Kampung Abar berprofesi sebagai pembuat gerabah. Umumnya pembuat gerabah di Kampung Abar adalah kaum wanita.

Gerabah merupakan alat dapur berbentuk wadah terbuat dari tanah liat yang dibakar dan memiliki fungsi untuk memasak berbagai makanan, seperti papeda, keladi, ubi, ikan dan sayur. Gerabah juga dapat digunakan untuk menyimpan sagu dan air. Masyarakat Kampung Abar, Sentani menyebut hele untuk gerabah berukuran besar dan sempe untuk gerabah berukuran kecil. (Eveerth Joumilena / Koran Harian Pagi Papua)