Friday, 24 Nov 2017
Pendidikan

Rektor Uncen Dukung Pemberantasan Radikalisme di Kampus

Rektor Universitas Cenderawasih, Dr. Ir. Apolo Safanpo, ST., MT, saat pelantikan di Jakarta. (Istimewa)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  – Rektor Universitas Cenderawasih, Dr. Ir. Apolo Safanpo, ST., MT., mengatakan akan sangat mendukung kebijakan Presiden Jokowi untuk memerangi radikalisme dari dunia kampus.

“Bapak Presiden minta kampus menjadi tempat untuk mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, serta selalu menjaga keberagaman dan kebersamaan, dengan saling menghargai dan saling menghormati satu sama lain, secara otomatis juga mendukung hal tersebut,” ujar  Dr. Ir. Apolo Safanpo, ST., MT., saat dikonfirmasi  Harian Pagi Papua, dari Bali yang mengikuti pertemuan pimpinan perguruan tinggi bersama Presiden Indonesia, Joko Widodo di Bali, Selasa (26/9/2017).

Apolo  Safanpo, yang baru saja di lantik Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir , sebagai Rektor Universitas Cenderawasih, bersama dengan empat Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Auditorium Lantai 2 Gedung D Kemenristekdikti, Senayan, Kamis (14/9/2017), mengakui, bahwa, dunia kampus tentunya menjadi tempat menanamkan nilai – nilai kemanusia dan menjaga keberagamaan dan kebersamaan.

Tentunya Dunia Perguruan tinggi tidak terlepas dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, sebagaimana pesan dari Presiden Jokowi adalah untuk infiltrasi tersebut dilakukan dengan cara-cara lembut dan menggunakan pendekatan terkini. Akibatnya, banyak dari kita yang lupa bahwa sebenarnya Indonesia telah memiliki ideologi Pancasila yang mempersatukan.

Baca Juga :  Uncen Dukung PON XX 2020 Dengan Ketersediaan Sarana Olahraga

“Banyak dari kita yang terbuai oleh itu sehingga kita lupa telah memiliki Pancasila. Tadi saya bangga telah dideklarasikan oleh pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia yang bertekad untuk mempersatukan kita dalam NKRI, berpegang teguh dalam UUD 1945, dan menjaga Bhinneka Tunggal Ika,” ucapnya, meniruka apa yang menadi pesan Presiden Jokowi dalam sambutannya.

 

Sementara itu, Presiden Indonesia, Joko Widodo, dalam pertemuan bersama semua pimpinan  Perguruan tinggi se Indonesia di Bali, mengingatkan, agar  Kampus Tak Dijadikan Tempat Penyebaran Radikalisme.

“Kemajuan teknologi tak dapat dimungkiri telah membawa kita menuju era keterbukaan. Informasi kini dapat semakin mudah untuk disebarkan dan diperoleh semua orang. Banyak kemudahan lainnya juga dirasakan sebagai dampak dari kemajuan itu,”  kata Presiden Jokowi.

 

Presiden Indonesia, Joko Widodo. (ISTIMEWA)

“Sekarang ini telah terjadi infiltrasi ideologi yang ingin menggantikan Pancasila dan memecah belah kita. Keterbukaan tidak bisa kita hindari sehingga media sosial sangat terbuka bebas untuk infiltrasi yang tidak kita sadari,” ujar Presiden saat memberikan sambutan dalam acara penutupan Pertemuan Pimpinan Perguruan Tinggi se-Indonesia di Peninsula Island, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, pada Selasa, 26 September 2017.

Baca Juga :  23 Dokter Umum Lulusan Uncen Dilantik dan Diambil Sumpah Janji

 

Di hadapan para pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia itu, Presiden sekaligus mengingatkan bahwa perguruan tinggi adalah sumber pengetahuan dan pencerahan.

Oleh karenanya, akan sangat berbahaya kalau perguruan tinggi dimanfaatkan oleh segelintir pihak sebagai medan infiltrasi ideologi ini.

“Jangan sampai kampus-kampus menjadi lahan penyebaran ideologi anti-Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika,” Presiden menegaskan.

Lebih lanjut, dirinya mengajak seluruh pihak untuk terus memupuk rasa persaudaraan antarsesama. Sebab, bangsa Indonesia mampu berdiri tegak hingga sekarang ini karena adanya persatuan yang telah ditanamkan sejak dulu. (Eveerth Joumilena / Koran Harian Pagi Papua)