Friday, 24 Nov 2017
Kesehatan

Dinkes Papua Sikapi Meninggalnya 38 Warga Samanege di Yahukimo

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg. Aloysius Giyai, M.Kes (Eveerth Joumilena /LintasPapua.com)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  –  38 warga yang meninggal tersebut, laki-laki sebanyak 22 orang dan perempuan sebanyak 16 orang. terdiri dari  Kampung Semenege sebanyak 10 orang, Kampung Ison sebanyak 6 orang, Kampung Aspopo sebanyak 3 orang, Kampung Hugilokon sebanyak 6 orang, Kampung Muke sebanyak 3 orang, Kampung Haleroma sebanyak 3 orang, Kampung Notnare     sebanyak 5 orang dan Kampung Hirin sebanyak 2 orang.

Hal ini dibenarkan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg Aloysius Giyai,M.Kes, sekaligus Dinas Kesehatan Provinsi Papua mengakui 38 orang meninggal di 8 kampung di Distrik Samanege, Kabupaten Yahukimo yang terjadi sejak bulan Maret silam.

Dinas Kesehatan Provinsi Papua menyampaikan rasa prihatin yang mendalam terhadap kejadian kematian warga di distrik Distrik Samanege Kabupaten Yahukimo,” ujar  Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg Aloysius Giyai,M. Kes, Selasa (27/9/2017).

Mantan Direktur RSUD Abepura ini menjelaskan, bahwa dari sisi ketersediaan fasilitas di Distrik Samanege terdapat bangunan fisik Puskesmas yang sangat rapuh.

“Dengan ketersediaan fasilitas medik yang minim seperti peralatan medik maupun fasilitas rawat inap, Kondisi ini diperburuk dengan minimnya tenaga kesehatan di Puskesmas tersebut, sebagaimana data yang ada menyatakan hanya ada 2 petugas medis yang tercatat di Puskesmas namun itupun tidak aktif hampir satu tahun,”  jelasnya..

Baca Juga :  Masyarakat Diminta Awasi, Sekolah Lakukan Pungutan Liar Akan Disanksi

Putra Asli Deiyai ini mengakui, hal ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah setempat mengingat, total pembiayaan kesehatan tahun 2017 di Kabupaten Yahukimo bersumber dari Dana Otsus, BPJS dan APBN sebesar Rp 128 milliar lebih,”pungkasnya.

Disampaikan, bahwa Dinas Kesehatan Papua telah melakukan cross check terhadap kebenaran kematian 32 warga tersebut.”Memang benar ada kematian di distrik tersebut sebanyak 38 kasus. Kematian yang terjadi tidak secara mendadak, tetapi merupakan akumulasi kematian sejak bulan Maret 2017,” tuturnya.

Ilustrasi Suasana Pelayanan Kesehatan kepada anak – anak Nduga (Foto Istimewa)

“Jika kita lihat berdasarkan usia maka untuk usia 0 – 5 tahun sebanyak 7 orang6-16 tahun sebanyak 3 orang,  16-25 tahun sebanyak 6 orang dan  26-60 tahun sebanyak 22 orang,”tuturnya.

Jika merinci bulan terjadi kematian pada bulan maret terjadi 2 kasus , Mei terjadi 3 kasus, Juni terjadi 6 kasus,Juli terjadi 12 Kasus dan Agustus terjadi 15 kasus.

“Kita kesulitan mengetahui penyebab kematian tetapi berdasarkan wawancara dengan masyarakat di Kampung, analisis kemungkinan penyebab kematian antara lain Bronchopneumoni dan TBC (penyakit Paru-Paru), diare (penyakit saluran pencernaan), malaria dan HIV-AIDS.  (*)