Mogok Kerja, Alumni Desak Penetapan Rektor Univ. Ottow Geissler Ditinjau Ulang

0
31
Djoni Naa, SE, M.Si., dalam sebuah kegiatan lainnya. (Eveerth Joumilena)
Spanduk aksi penolakan terhadap penetapan rektor Universitas Ottow Geissler. (istimewa)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Ikatan Alumni Universitas Ottow Geissler Papua, Djoni Naa, SE, M.Si., mendesak agar pihak yayasan mengecek dan meninjau kembali terkait keputusan untuk Rektor Universitas Ottow Geissler.

Hal ini disampaikan Djoni Naa terkait dengan keputusan yayasan yang menetapkan rektor atas nama Sidik Budiono, yang dinilai kurang aktif dalam pemaparan visi misi dari 4 calon yang mengikuti test.

Sebagaimana diketahui keempat calon rektor Universitas Ottow Geissler adalah 1. Ir. Abraham Werimon, M.Ed, Ph.D., 2. Dr. G. M. Satya, M.Sc., 3. Dr. Jerry Sawai, M.Si., 3. Dr. Sidik Budiono, ME.

“Sebagai ketua alumni pengurus pusat, tentunya apa yang ditetapkan adalah keputusan sepihak, karena yang kami ingin kan harus ada perubaan dan orang yang cocok adalah Dr. G. M. Satya, M.Sc, supaya lebih maju,” katanya.

Dikatakan , semua pihak menghendaki yang lain, sehingga yayasan harus bisa meninjau ulang SK yang ditetapkan.

Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Ikatan Alumni Universitas Ottow Geissler Papua, Djoni Naa, SE, M.Si, saat ditemui di Kampus Kotaraja Dalam. (Eveerth/LintasPapua)

“Sebagai alumni dan pasti dosen dan mahasiswa semua pasti mengenal pa Satya, sebab sebelum menjadi universitas telah menjadi dekan beberapa kali, bahkan pembangunan fisik asrama putra puri hingga gedung serba guna, semua karena pa Satya, maka apapun yang diputuskan untuk Sidik Budiono harus ditinjau ulang,” desak Djoni Naa, yang juga Alumni Angkatan 1995 ini.

Dirinya mengakui, adanya penilai karena umur 65 tahun, namun harus dikeetahui kalau yang bersangkutan masih bisa dan harus diperhatikan soal kemampuan manajerial dan kemampuan membawa UNiversitas ini semakin maju, apalagi ini universitas swasta.

“Dahulu STIE lebih bagus, karena empat tahun belakAngan adalah peninggalan STIE tanpa ada kemajuan, sebab itu kami tetap akan mengecek surat yang di krim ke yayasan dan koordinasi dengan mahasiswa,” tegasnya.

Suasana Aksi Demo Mahasiswa Atas Penetapan Rektor Universitas Ottow Geissler yang dinilai tidak sesuai dengan aspirasi para dosen dan mahasiswa. (Istimewa)

Dirinya menambahkan, bahwa waktu yang diberikan tiga hari untuk mendengar jawaban dan harus bisa meninjau keputusan teersebut dan melihat baik untk kemajuan kampus ini kedepan.

“Kampus mogok kerja , karena universitas inginkan perubahan, kita tidak ingin bertahan dengan manajemen yang sifatnya tradisional,” keluh mantan Mahasiswa Jurusan Manajemen saat masih STIE Ottow Geissler.

Djoni Naa, yang pernah menjadi mahasiswa ketika Universitas Ottow Geissler masih menjadi kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ottow Geissler sejak tahun masuk pada 1990 ini, menegaskan, bahwa pihaknya berjanji akan turun ulang untuk mengecek kepastian tersebut, sehingga berharap yayasan bisa menghargai semua proses dinamika dosen dan mahasiswa di kampus, yang tentunya untuk kemajuan kampus.

Disampaikan, bahwa Alumni, Dosen dan Mahasiswa Ingin ke depan Universitas Ottow Geissler harus ada perubahan. Jika Sinode GKI di Tanah Papua dan Yayasan Ottow Geissler Papua mau kampus/Universitas OG berkembang maju, maka Pimpinan Universitas yang tepat adalah Dr. G.M. Satya, M.Sc.

“Jika bukan Pak Satya yang Rektor maka jelas – jelas Universitas ini semakin hancur dan terbengkalai dari Sisi Manajemen dan Nilai – nilai Kekristenan itu akan semakin terkikis dan Hilang,” nilainya.

Dirinya menegaskan, jika Yayasan tetap menginginkan Sidik Budi yang Rektor, maka sudah Jelas Yayasan juga turut mendorong kehancuran Universitas OG.

Kaka Djoni Naa, selaku Ketua Alumni Universitas Ottow Geissler, dalam sebuah kegiatan di Kampus tersebut, selalu berharap adanya perubahan dan kemajuan bagi almamaternya. (Eveerth/LintasPapua.com)

“Kami sebagai Alumni telah mengetahui dari hasil Pemaparan Visi-Misi Colon Rektor Universitas OG, maka Nilai tertinggi dari 3 Kandidat yang lain itu ada pada Dr. G.M. Satya, M.Sc. tapi ternyata Yayasan punya Keputusan lain. Kok ada Apa? Ini menjadi suatu tanda tanya besar bagi Kami Alumni,” tegasnya.

Dirinya berharap, Universitas ini adalah Universitas Kristen yang harus ditanamkan adalah Nilai – nilai Keadilan, Kejujuran Adil dan Bijaksana, sesuai kata Firman Tuhan dalam Alkitab, sehingga harus ada perubahan kearah yang lebih baik.

Sebelumnya, pada Rabu (20/9/2017) seluruh Mahasiswa dan dosen di Universitas Ottow Geissler unjuk rasa menolak terpilihnya Sidik Budiono yang ditetapkan sebagai Rekror Universitas Ottow Geissler Papua.

“Karena dalam proses fit and profertest pencalonan tidak memiliki nilai yang tertinggi, bahkan dari empat calon yang ikut justru Sidik Budiono tidak menonjol dibandingkan dengan calon lainnya,” teriak mahasiswa dalam orasinya.
Sementara Spanduk Mahasiswa dan para dosen yang menolak Sidik Budiono sebagai rektor 2017 – 2018. dan suasana kampus tidak terlihat aktivitas kuliah atau belajar, karena semua menyatakan mogok dan menunggu jawaban atas tuntutan yang telah disampaikan dalam aksi. (Eveerth Joumilena /LintasPapua.com)