Mantan Tokoh OPM Alm. Nicholas Jouwe Akan Dimakamkan di Jayapura

354
Almarhum Nicholas Jouwe, saat terbaring dikediaman keluarga, oleh masyarakat Suku Jouwe dan Kampung Kayu Pulo menginginkan jenazah di makamkan di kampung halamannya. (Eveerth Joumilena /Koran Harian Pagi Papua)

Cucu Tertua Allmarhum Nicholas Jouwe, Kaka, Nicolas Alfrilian Imanuel Jouwe, saat bersama keluarga dirumah duka. (Eveerth Joumilena /Koran Harian Pagi Papua)
“Nicholas Jouwe oleh Belanda pernah diperintahkan untuk membuat Bendera Kebangsaan Bintang Kejora”

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Jenazah tiba pukul 08.30 Waktu Indonesia Timur (WIT) di Bandara Sentani dan dilanjutkan ke rumah duka di Dok V (Lima) Kompleks SMU Gabungan, selanjutnya keluarga akan membicarakan untuk pemakaman dari Tokoh Papua ini, yang mana oleh Belanda pernah diperintahkan untuk membuat Bendera Kebangsaan Bintang Kejora.

“Untuk pemakaman masih menunggu keputusan dari keluarga, sebab masih akan melewati prosesi adat lagi, sehinga Rabu atau Kamis ini kita akan lihat sambil siapkan semua untuk pemakaman,” ujar Cucu Tertua Dari Almarhum Nicholas, Nicolas Alfrilian Imanuel Jouwe, yang ditemui di Rumah Duka, Senin (18/9/2017).

Dijelaskan, Almarhum adalah pemilik ondoafi paling tertinggi untuk Suku Jouwe, sehingga akan dimakamkan di kuburan keluarga dengan kasta paling tertinggi, yaitu di Pulau Kosong, sebab dalam adat almarhum adalah kepala suku paling tertinggi.

Almarhum Nicholas Jouwe, saat terbaring dikediaman keluarga, oleh masyarakat Suku Jouwe dan Kampung Kayu Pulo menginginkan jenazah di makamkan di kampung halamannya. (Eveerth Joumilena /Koran Harian Pagi Papua)

“Kami tidak ada kepentingan apapun dengan semua ini, namun dari keluarga hanya mau almarhum dibawa pulang ke kampung dan masyarakat ingin melihat dan menangis serta mengantar dengan tenang,” tuturnya.

Disampaikan, untuk keluarga di Belanda memang ada tiga orang anaknya yang berhalangan, namun ada dua orang yang sedang dalam perjalanan, sedangkan anaknya yang lain ada di Jayapura.

“Ada tinggal di Abepura dan semua akan kumpul di Jayapura, jadi almarhum meninggalkan enam orang anak dan 7 cucu, dan meninggal di usia 93 tahun, kurang dua bulan lagi akan masuk usia 94 tahun, karena tepat 24 November 1923 almarhum lahir di Jayapura,” katanya.

Nicolas Alfrilian Imanuel Jouwe mengakui, sangat berterimakasih bisa membantu memulangkan almarhum ke dalam masyarakat di Jayapura, walaupun sempat Pemerintah ingin memakamkan almarhum di Jakarta, akan tetapi dengan kedatangan keluarga dan meminta dipulangkan ke Jayapura.

“Saya mewakili keluarga ke Jakarta dan berbicara secara baik dan diijinkan untuk membawa pulang ke Jayapura, karena ini semua keinginan masyarakat,” jelasnya.

Sejumlah keluarga dan tokoh masyarakat datang melihat kepergian Tokoh Papua, Almarhum Nicholas Jouwe. (Eveerth Joumilena /Koran Harian Pagi Papua)

Dikatakan, dirinya bertemu Tete Nicholas Jouwe setelah umur 39 tahun tepatnya saat almarhum pulang ke Papua pada tahun 2010 dan banyak cerita – cerita yang disampaikan semua tentang yang dikerjakan,” katanya.

“Banyak hal yang dilakukan dan telah disampaikan dan menjadi pelajaran, Ko hanya perlu hidup jujur dan taat untuk hukum Tuhan,” tuturnya meniru pesan almarhum.” katanya melanjutkan pesan almarhum.

“Beliau selalu kasih ingat, waktu duduk di swiss bell, “ Cucu karena ko pu rumah dipinggir pantai, jadi kalau bangun subuh jangan lupa lihat Bintang Pagi yang terang sehingga engkau akan jalan selalu dalam terang seperti bintang,” tandasnya, menceritakan kisah – kisah hidup bersama Kasih Almarhum Nicholas Jouwe semasa hidupnya..

Sekilas, dari berbagai sumber menyebutkan, bahwa Nicholas Jouwe, seorang tokoh Papua yang sempat menjadi sorotan meninggal dunia pada Sabtu (16/9) sekitar Pkl. 03.15 WIB di rumah Duka Jl. Kedondong 16 Komp. Kalibata, Jakarta Selatan, selanjutnya kini berada di Rumah Duka di Dok V Kompleks SMU Gabungan sejak tiba Senin (18/9) pagi pukul 08.30 Waktu Indonesia Timur.

Keluarga Almarhum dengan situasi diirumah duka. (Eveerth)

Sebagian besar pihak keluarga Nikholas Jouwe menginginkan jenazah dimakamkan di Jayapura (tempat kelahirannya).
Mantan tokoh pro-kemerdekaan Papua ini meninggal di usia 93 tahun. Nicholas Jouwe lahir pada 24 November 1923 di Jayapura.

Nama Nicholas Jouwe tidak bisa dilepaskan dari sejarah pergerakan Papua Merdeka. Ia adalah tokoh pendiri Organisasi Papua Merdeka (OPM). Nicholas Jouwe oleh Belanda pernah diperintahkan untuk membuat Bendera Kebangsaan Bintang Kejora.

Sejak tahun 1960 -2008, ia tinggal di Belanda dan selama itu dimanfaatkan oleh elemen Separatis di luar negeri untuk minta Kemerdekaan Papua ke PBB. Nicholas Jouwe dibawa oleh penjajah Belanda dan dijanjikan akan diberikan Kemerdekaan namun tak kunjung terealisasi.

Setelah beberapa puluh tahun menetap di Belanda, Nicholas Jouwe merasa hanya menjadi kambing hitam dan memutuskan untuk kembali ke Indonesia serta menghabiskan sisa hidupnya di tanah air.

Nicolaas_Jouwe_(1962). Semasa Muda almrhum dengan semangat dalam berkarya. (istimewa)

Sekilas Perjalanan Hidup Nicholas Jouwe

Nicolaas Jouwe adalah pemimpin Papua yang terpilih sebagai wakil presiden dari Dewan Nugini yang mengatur koloni Belanda, Nugini Belanda. Sementara itu yang bertindak sebagai presiden dari Dewan Nugini adalah seorang pegawai negeri Belanda, Frits Sollewijn Gelpke.

Jouwe adalah politisi Papua yang mendapat jabatan tertinggi di koloni tersebut. Setelah koloni tersebut diserahkan ke UNTEA pada Oktober 1962 dan enam bulan kemudian diserahkan ke Indonesia, Jouwe meninggalkan Papua dan pergi ke Belanda, disana ia menetap di kota Delft.

Dia bersumpah tidak akan pernah kembali ke tanah kelahirannya jika masih diduduki oleh Indonesia, namun pada tahun 2010 ia kembali ke Papua Barat dan kembali menjadi Warga Negara Indonesia. Pada saat itu Jouwe berubah dari seorang yang pro-kemerdekaan Papua menjadi pro-Indonesia.

Alasannya kepulangan Jouwe ke Indonesia secara lengkap terdapat dalam sebuah buku karya Nicolaas Jouwe bertajuk: Kembali ke Indonesia: Langkah, Pemikiran dan Keinginan.

Almarhum Nicholas Jouwe, oleh Belanda pernah diperintahkan untuk membuat Bendera Kebangsaan Bintang Kejora, meninggal di usia 93 tahun di Jakarta. Selamat Jalan Dalam Damai Bapa Surgawi. (Istimewa)

Melalui penuturan Jouwe lewat buku ini, terungkap serangkaian fakta-fakta yang membuktikan adanya konspirasi internasional di balik gagasan menginternasionalisasikan Papua sebagai langkah awal menuju Papua Merdeka, lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Buku ini memulai dengan satu pernyataan menarik dari Jouwe, sebagai bentuk rasa bersalah sekaligus pertobatan atas langkah yang diambilnya kala itu.

“Saya pribadi menilai pelarian saya ke Belanda merupakan pilihan yang patut disesali. Namun kini, saya menyadari bahwa Papua merupakan bagian dari NKRI,” begitu tukas Jouwe.

Keluarga almarhum saat berada di rumah duka. (Eveerth/Koran Harian Pagi Papua)

Pada bulan Oktober 2008, sebuah film dokumenter ditayangkan di televisi Belanda berisi tentang kehidupan Jouwe. Dalam film dokumenter itu, Jouwe menegaskan sikapnya untuk tidak kembali ke Papua Barat yang diduduki Indonesia.

Namun pada bulan Januari 2009, ia diundang oleh pemerintah Indonesia untuk mengunjungi tanah leluhurnya. Jouwe merespon positif, dan ia akhirnya mengunjungi Papua dan Indonesia pada Maret 2009. Tentang kunjungannya itu, sebuah film dokumenter lanjutan dibuat oleh sutradara yang sama. (Eveerth Joumilena /Koran Harian Pagi Papua)