1.937 Pelamar P3MD Hanya 900 Ikut Tes Tertulis

Category: Sosial Masyarakat 42 0

Suasana Test di Aula Universitas Cenderawasih di Abepura. (Veni)
JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Sebanyak 900 calon tenaga Pendamping Program Profesional Pembangunan Pemberdayaan Masyarakat Desa( P3MD) mengikuti seleksi aktif tertulis yang diselenggarakan Kementerian Desa bekerjasama dengan Pemda Provinsi Papua.Tes tertulis berlangsung sehari mulai, Senin( 11/9/2017) di Auditorium UNCEN Jayapura.

Dari 1.937 pelamar sebanyak 900 peserta dinyatakan lolos setelah memenuhi seleksi adminisrasi. Salah satu seleksi adminisrasi adalah menunjukan identitas kependudukan- KTP, mengingat seleksi dilakukan mengikuti wilayan domisili peserta di lima wilayah.

Adapun tahapan seleksi yang dilalui yakni seleksi administrasi yang dilakukan online, dimana calon P3MD yang dinyatakan lolos administrasi diberikan nomor registrasi untuk dapat mengikuti tes tettulis yang berlangsung, Senin(11/9).

Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Kampung Pemda Provinsi Papua, Donatus Motte disela seleksi peserta di Jayapura mengungkapkan, Kementerian Desa melalui Pemda Provinsi Papua membuka pendaftaran tenaga P3MD ini hanya untuk mengisi kuota di wilayah kabupaten yang belum terisi. Di Jayawijaya kuota yang tersedia untuk 5 orang sementara ikut tes 30 orang, dengan pelamar 268 orang. Dari 268 pelamar, pusat menyeleksi tingkatan rangking hingha tinggal 30 pelamar.

Kuota penerimaan calon tenaga P3MD 2017 tingkat Provinso Papua dikususkan mengisi kuota kosong yakni 89 orang sesuai domisili pelamar di KTP masing- masing, sementara peserta yang tak lolos registrasi banyak, ujar Donatus Motte

Pemda Provinsi Papua dalam seleksi aktif 2017 menerima1.937 pelamar tenaga P3MD. Di PDP misalnya, jumlah tenaga dibutuhkan hanya 89 orang.

Baca Juga :  Festival Ajau Sentani - Phuyakha Ikut Lestrikan Nilai Budaya dan Pariwisata

Pengamatan lapangan jalannya seleksi aktif tertulis berjalan aman. Dari 1.937 pelamar, 900 peserta ikut tes tertulis di Auditorium UNCEN Jayapura. Menurut Motte, Pemda Provinsi Papua masih membutuhkan 89 tenaga pendamping pemberdayaan dan 252 tenaga pendamping teknis. Tenaga pemberdayaan dan teknis diakui minim.

Protes terhadap seleksi

Dalam proses seleksi hingga seleksi tertulis yang digelar di Auditorium UNCEN Jayapura, peserta tak lolos administrasi menyatakan kekesalan. Mereka persoalkan tanda registrasi. Mengapa ada tanda registrasi namun tidak diterima imut seleksi aktif tettulis. Hal kedua, peserta mempersoalkan nama mereka tidak dimuat di surat kabar lokal cepos.

Ketidalpuasan terhadap seleksi ini mengakibatkan pesetta mau batalkan jalannya seleksi tertulis yang tengah berlangsung. Donatus Motte mengatakan kepada peserta yang tak lolos untuk tidak membatalkan tes, karena mereka yang tes juga oràng papua.Apalagi mereka lolos administrasi, mereka memiliki KTP domisili, kuota yang ada disesuaikan dengan domisili

Ia mengakui, mereka yang tak los administrasi karena ada kekurangan tempat domisili yanh tak sesui KTP.

Danius Wenda dan Weak Walilo mewakili calon peserta yang tak lolos menyatakan ketidakpuasan dirinya mewakili semua peserta lainya bahwa pihak provinsi menyatakan pendaftaran melampaui kuota dan dipangkas, itu yanh kami nuntut keadilan, tegas Danius Wenda

Ia mengatakan, semua peserya yang dapat registrasi harus dites kemampuannya hingha ada keadilan, bukan kebijakan, ini untuk memenuhi rasa keadilan.

Baca Juga :  BPBD Jayapura Bantu Warga Bencana Puting Beliung di Airu

Ia berharap kedepan untuk wilayah pegunungan seleksi jangan dilakukan online, mengingat wilayah pegunungan bermasalah dengan akses internet. Pentinh diketahui, wilayah pegunungan Papua tidak memiliki pemerataan akses internet, hingha sistim online masih susah untuk wilayah ini.

Kedepan pemerintah perlu pikirkan kemudahan akses masyarakat wilayah pegunungan terhadap internet.
” Teman-teman tidak punya kesempatan akses internet, BPMK Provinsi Papua perlu meninjau ulang seleksi lewat online. Untuk Kota Jayapura sistim online tidak jadi soal, namum soal untuk wilayah Pegunungan Tengah Papua. Oleh sebab itu perlu ditinjau ulang, tegas Dànius Wenda.

Ia menambahkan, banyak sarjana mau pulang bekeja membangun Kampung, namun untuk melakukan pendaftaran online begitu susah. Fakta ini ditemui di wilayah Lapago, Meepago dan Saireri.

” Jangàn heran kalau jumlah penganguran semakin banyak, sementara keinginan untuk membangun daerah begitu kuat. Semua terkendala sarana prasarana internet”, tegasnya.

Ketika ditanya Wartawan terkait akses jaringan internet yang ta dapat diakses peserta di tiga wilayah, Donatus Motte mengatakan, meski ada ungkapan seperti itu namun banyak peserta dapat mengakses jaringan internet. (Veni)

Related Articles