LSM Ilalang Papua Luncurkan Buku Tentang Membangun Perdamaian

0
53
LSM Ilalang luncurkan buku di kesusteran Maranatha (Elsye Sanyi /Koran Harian Pagi Papua))

LSM Ilalang luncurkan buku di kesusteran Maranatha (Elsye Sanyi /Koran Harian Pagi Papua))
JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Ilalang Papua meluncurkan sebuah buku berjudul menyelami keberagaman membangun perdamaian, yang merupakan sebuah refleksi kehidupan masyarakat di wilayah paling timur Indonesia yakni Jayapura dan Merauke.

Direktur LSM Ilalang Papua, Hardin Halidin usai peluncuran mengemukakan hal yang mendasari penulisan buku ini ialah diawali dengan sebuah kegelisahan minimnya ruang perjumpaan yang bisa bertemu dengan perbedaan.

“Kalaupun itu ada namun itu selalu saja mengarah ke formalitas misalnya Forum Keberagaman Umat Beragama (FKUB). Ruang ini sebenarnya kaku, terlalu formalistis dan tidak menyelesaikan soal,” ujar Direktur LSM Ilalang Papua, Hardin Halidin.

Menurut Hardin, pihaknya berupaya membuat suatu ruang yang sebenarnya membuka persepsi-persepsi yang keliru dan juga memperbaiki pransangka-prasangka yang ada dimasing-masing orang.

“Beranjak dari itu kami melibatkan 16 orang pemuda yang disebut peserta ‘Live-in Papua’ untuk turun ke beberapa daerah di Papua dan hidup didalam komunitas yang berbeda secara latar belakang sosial yang berbeda, kalau dia orang Papua kita tinggalkan dia di orang Jawa penganut agama Muslim dan juga orang batak,” katanya.

Catatan-catatan dari 16 orang pemuda melalui buku ini, kata dia, bisa meninggalkan refleksi yang sangat mendalam tentang banyak hal yang menimbulkan prasangka-prasangka yang sebenarnya tidak betul.
Akan tetapi, dikatakannya, ketika kita hidup dengan prasangka itu menimbulkan kemarahan namun tidak pernah ada suatu pertemuan untuk menyelesaikan.

Hardin menjelaskan, intinya buku ini adalah refleksi lebih dalam berdasarkan pengalaman peserta live-in, para pemuda potensial dari Jayapura dan Merauke. Bagi mereka, peserta Live-in, yang selama ini bergulat dengan realitas yang kental dengan polarisasi sosia, buku ini adalah catatan monumental tentang transformasi personal, proses menjadi seorang pribadi “prasasti perdamaian.”

SAVE CENDERAWASIH PAPUA (Istimewa)

“Refleksi ini mencakup rangkaian pengalaman-pengalaman personal, mulai dari yang rumit sampai yang sepele, yang diantisipasi dan yang tidak diantisipasi, yang serius dan yang lucu, yang dialami dan dijalani oleh peserta Live-in Papua,” ujarnya.
Dia menuturkan, selama seminggu, peserta live-in hidup bersama dengan keluarga yang berbeda, menjalani pengalaman-pengalaman baru seperti hidup bersama dengan yang berbeda agama, yang berbeda etnik, dan tentu saja berbeda budaya.

“Mereka menyelami keragaman mulai pada tingkat keluarga hingga pada tingkat komunitas. Mereka bergulat langsung dengan isu keragaman : etnik, agama, bahasa, dan cara pandang sejak pagi hingga malam, dan dari rumah hingga ditempat kerja,” tambahnya. (Elsye Sanyi /Koran Harian Pagi Papua)