Perempuan Papua Diakui Masih Jaga Tatanan Adat

0
3
Suasana Kegiatan Pelatihan di salah satu hotel di Kotaraja. (Eveerth/LintasPapua.com)

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Maurits J. Rumbekwan (Eveerth/LintasPapua.com)
JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Maurits J. Rumbekwan mengatakan, hingga kini Perempuan Papua masih menjaga tatanan adat, sebab apa yang bukan menjadi hak dan posisinya tidak dituntut, namun dihargai sebagai sebuah bagian dari adat dan budaya Papua.

Dikatakan, bahwa Secara plural kedudukan perempuan pada struktur kepemimpinan adat masyarakat Papua tidak tercover. Artinya bahwa dalam kepemimpinan adat masyarakat Papua, perempuan tidak diikutsertakan atau mendapat jabatan penting dalam struktur kepemimpinan adat masyarakat Papua.

“Hal inilah yang terkadang nampak kepada masyarakat pada umumnya, bahwa perempuan Papua tidak mendapat hak dalam perencaan dan pengambilan kebijakan, tetapi juga terlihat direndahkan oleh kelompok lelaki serta hanya mendapat tempat dibelakang dengan tugas mengurus dapur,” ujar Maurits J. Rumbekwan, saat bicang – bicang dalam pelatihan penguatan kelompok perempuan yng dilaksanakan disalah satu hotel di Abepura, Kamis (24/8/2017).

Diakui, jika memposisikan diri sebagai perempuan Papua, hal ini bukanlah kasus gender.
“Ini merupakan nilai-nilai adat yang telah terbangun sejak dahulu,” tuturnya.

Untuk itu, kata Maurits J. Rumbekwan, bahwa sebagai perempuan Papua jangan terlena dengan pemahaman atau cara pandang masyarakat dunia pada umumnya.

“Sebagai perempuan Papua, tanggungjawab besar adalah mempertahankan nilai-nilai masyarakat adatnya,” katanya.

Sementara itu, Staff Program Officer, Michael S. Rumaikeuw menegaskan, bahwa ada hal yang perlu diketahui kalau perempuan Papua tidak direndahkan dan bukan berarti perempuan Papua tidakberdaya ataupun tidak mendapat hak untuk memberikan pendapat dan saran terkait dengan keputusan maupun kebijakan yang terjadi dalam masyarakat adatnya.

“Mereka punya hak penuh dalam memberikan pendapat. Cara meraka menyampaikan pendapat kepada kelompok lelaki sungguh luar biasa yaitu ketika sedang makan bersama, atupun juga pada saat sedang berkumpul dengan keluarga di rumah,” akuinya.

Ditambahkan, bahwa pendapat yang mereka sampaikan selanjutnya akan dicerna kemudian menjadi bahan pertimbangan dan referensi bagi kelompok lelaki untuk mengambil keputusan atau kebijakan pada pertemuan adat yang formal.

“Bagian ini harus diperankan dengan baik oleh kelompok perempuan. Situasi ini menunjukan bahwa tugas perempuan Papua bukan hanya mengurus dapur seperti yang dipandang oleh masyarakat dunia pada umumnya, namun perempuan juga ternyata turut keikutsertaan mengambil bagian dalam pengambilan kebijakan,” kata Michael S. Rumaikeuw. (Eveerth)