Yusak Andato Terpanggil Dirikan Sekolah Wirausaha Anak Adat Papua Bangkit

0
21
Ilustrasi Anak - anak Papua pelajar SMP yang juga ikut Sekolah Wirausaha Anak Adat Papua Berpola Asrama di Kabupaten Jayapura. (Istimewa)

anak – anak Papua pelajar SMP yang juga ikut Sekolah Wirausaha Anak Adat Papua Berpola Asrama. (Istimewa)
JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Terpanggil sebagai Aktivis politik hingga sepak terjang di dunia organisasi mahasiswa sampai organisasi pemuda sekelas Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Papua pernah dipimpinnya, namun harus merubah semua untuk mendirikan Sekolah Wirausaha Anak Adat Papua Bangkit, menjawab visi Tuhan untuk membangun Negeri Cenderawasih.

“Ini visi yang Tuhan berikan dalam pergumulan panjang sejak 2015, namun baru terealisasi pada tahun 2017, sebab yang mendasari perjuangan ini adalah bagaimana merubah pola pikir dan bagaimana mengembangkan potensi alam menjadi sebuah bisnis yang menguntungkan, sehingga mendorong sekolah ini didirikan,” ujar Yusak Andato, dalam sebuah wawancara di Abepura, Selasa (15/8/2017).

Dijelaskan, kondisi hari ini adalah Papua yang kaya raya dan inilah yang menjadi pola pikir dikembangkan kepada anak – anak sekolah untuk kita lebih maju belajar berwirausaha nantinya.

“Sekolah ini dibuat model asrama dan ditampung sementara 10 anak asli Papua yang tersebar dari Wilayah Tabi, yakni dari Keerom, Sarmi, Mamberamo Raya dan Jayapura serta Kota Jayapura, semua ditampung dalam asrama dan dibiayai secara baik semua kebutuhan belajar serta benar – benar membentuk mental spiritual yang takut Tuhan,” katanya.

Dikatakan, untuk tahun pertama tahun 2017 dicoba dengan 10 anak Sekolah Menengah Pertama, yang mana langsung diajarkan empat bahasa dan informasi teknologi.

Direktur Sekolah Wirausaha Anak Adat Papua Bangkit, Yusak Andato.
(Eveerth/LintasPapua.com)

“Bahasa menjadi penting, terutama yang diajarkan baru bahasa inggris dan bahasa mandarin, sedangkan bahasa Jepang dan Jerman akan menyusul, karena dengan bahasa kita akan mengikuti posisi global,” tuturnya.

Sekilas Sekolah Wirausaha Anak Adat Papua telah diresmikan sejak 5 Agustus 2017 melalui peletaan batu pertama oleh Bupati Kabupaten Jayapura, Mathius Awoitauw.

Dirinya menyampaikan, sangat berterimakasih untuk dukungan dari Pemerintah Kabupaten Jayapura, namun dalam perkembangannya memang ada kendala, sehingga sangat diharapkan adanya dukungan dari Pemerintah Kabupaten /Kota serta Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Pusat.

“Saat ini kita butuh dukungan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota hingga Pemerintah Pusat, sebab ini berkaitan dengan mindset atau pola berpikir dan ini sangat penting, apalagi Papua sudah sangat jauh sekali tertinggal dalam bidang ekonomi, jadi kit harapkan dukungan untuk kemajuan sekolah ini,” harapnya.

Suasana foto bersama Tokoh Masyarakat adat dan Bupati Mathius Awoitauw dan para pelajar, usia meletakan batu pertama pembangunan sekolah tersebut di Sentani, Kabupaten Jayapura. (istimewa)

Mantan Ketua KNPI Papua tahun 2012 ini menambahkan, pihaknya akan membuka lagi untuk kelas tahun 2018 dengan menambah jumlah siswa dari kabupaten /kota diluar wilayah adat Tabi, yang mana direncanakan dua orang per daerah dan terus fokus pada sekolah wirausaha.

“Sekali lagi kami apresiasi untuk dukungan Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw dan tentunya semua proses belajar akan dikoneksikan dengan lembaga kerja yang ada baik Bank Papua maupun Telkomsel hingga Garuda dan lainnya, demikian kita mencoba hal baru untuk membangun Papua,” katanya.

Yusak Andato, bersama Bupati Mathius Awoitauw, didampingi Isterinya dan Pdt. Joop Suebu, saat peletakan batu pertama Sekolah Wirausaha Anak Adat Papua Bangkit. (istimewa)

Untuk saat ini sekolah berada di Doyo Baru, sementara lahan baru yang direncanakan akan dibangun sekolah adalah diatas tanah yang dihibahkan masyarakat adat seluar 1 hektar, sehingga Direktur Sekolah Wirausaha Anak Adat Papua Bangkit, Yusak Andato berharap adanya berbagai dukungan dari Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota, sehingga semua proses ini bisa berjalan baik, terutama bagaimana membangun sebuah pola pikir baru, bahwa orang Papua harus bangkit memahami wirausaha dengan baik. (Eveerth Joumilena)