Festival Ajau Sentani – Phuyakha Ikut Lestrikan Nilai Budaya dan Pariwisata

0
5
Festival Ajau Sentani-Phuyakha Tahun 2017, di Kampung Ifar Besar-Jembatan Kuning (Jeku), Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura

Suasana Pembukaan Festival Ajau Sentani-Phuyakha Tahun 2017, di Kampung Ifar Besar-Jembatan Kuning (Jeku), Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura. (Irfan)
SENTANI (LINTAS PAPUA) – Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M.Si, diwakili Sekda Kabupaten Jayapura, Drs. Yerry F. Dien, M.Si, secara resmi membuka Festival Ajau Sentani-Phuyakha I Tahun 2017, di Kampung Ifar Besar-Jembatang Kuning (Jeku), Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Jumat (11/8/2017).

“Jadi, visi Jayapura Baru yang berkaitan dengan Jayapura berjati diri, berdaya saing dan juga harmonis. Hal ini tentunya sudah terwujud dari para penggagas kegiatan Festival Ajau ini, kata Sekda Yerry, kepada wartawan usai membuka Festival Ajau Sentani-Phuyakha Tahun 2017, di Kampung Ifar Besar-Jembatan Kuning (Jeku), Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura.

Melalui kegiatan Festival Ajau Sentani-Phuyakha yang diselenggarakan selama dua hari mulai 11 Agustus 2017 hingga 12 Agustus 2017 itu, kata Sekda Yerry bahwa festival ini merupakan upaya pelestarian nilai-nilai budaya.
Jadi, melalui festival Ajau ini merupakan wujud dari upaya melestarikan nilai-nilai budaya.

“Tentunya berdasarkan potensi panorama dari Danau Sentani yang indah ini, menjadi satu harapan pemerintah dan pastinya ini merupakan satu destinasi (tujuan) utama pariwisata,” ujarnya.

Suasana Pembukaan Festival Ajau Sentani-Phuyakha Tahun 2017, di Kampung Ifar Besar-Jembatan Kuning (Jeku), Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura. (Istimewa / Facebook Sabri M Nur)

Dikatakan, apalagi kita di Kabupaten Jayapura barometer Provinsi Papua. Sekaligus juga dekat dengan Bandara Internasional Sentani, juga adanya situs-situs peninggalan sejarah yaitu perang pasifik seperti Mc Arthur.
Karena itu, kata Sekda, festival ini berkaitan dengan sejarah-sejarah yang sakral baik dalam kehidupan beragama (religius) maupun nilai-nilai budaya di Sentani yang merupakan satu kebanggaan tersendiri bagi pemerintah.

Festival ini merupakan inovasi-inovasi yang harus kita lestarikan di daerah ini. Untuk itu, kami atas nama pemerintah ucapkan terima kasih kepada para penggagas yang telah melaksanakan festival Ajau tersebut, ucapnya.

Sementara itu, H. Sakarudin, S.Pd, MM, mewakili pihak sponsor dari PT Semuwa Group menyampaikan apresiasi terhadap panitia pelaksana kegiatan Festival Ajau Sentani-Phuyakha ini.

Kami dari pihak sponsor tentunya memberikan apresiasi, dan ini adalah bentuk dukungan kita terhadap kegiatan festival ini, ucapnya.

Karena memang perusahaan (PT Semuwa) inikan berada di Kota Sentani, apalagi dari pemiliknya juga lahir besar di Papua dan usaha-usahanya berpusat di Kota Sentani.

“Untuk itu, fungsi-fungsi sosial ini yang perlu kita dorong sehingga tanggung jawab sosial dan budaya tersebut, kita bisa ikut untuk mendorongnya supaya kegiatan festival ini lebih semarak serta memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas di Sentani, tambah Sakarudin.

Lomba Dayung Mewarnai Festival Ajau Sentani-Phuyakha Tahun 2017, di Kampung Ifar Besar-Jembatan Kuning (Jeku). (Facebook Sabri M. Nur)

Sementara itu, Ketua Tim Kegiatan Festival Ajau Sentani-Phuyakha, Jimmy Yoku mengatakan, bahwa festival ini muncul dari gagasannya bersama para pemuda-pemudi yang ada di Sentani.

Jadi, festival ini bertujuan untuk mengangkat peradaban masyarakat di dataran Sentani. Memang kami sengaja mengangkat nama Ajau untuk kegitan festival ini. Sebab, nama Ajau merupakan bagian dari pada sejarah atau asal mula tempat tinggal (pulau) seluruh masyarakat yang ada di dataran Sentani. Sehingga kami namakan festival ini dengan nama Ajau-Sentani Phuykha, tandasnya. (Irfan /Sumber Koran Harian Pagi Papua)