Inilah Pembukaan Festival Teluk Humboldt IX 2017 di Pantai Hamadi

0
1205
Ilustrasi Festival Teluk Humboldt 2017, Tampak sebuah pentas tarian Cenderawasih yang meriahkan lokasi festival di Pantai Hamadi pada 2017 lalu. (Eveerth Joumilena / HPP)
Suasana para musisi Papua saat tampil di Panggung Festival (Eveerth Joumilena /LintasPapua.com)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Pelaksanaan Festival Teluk Humboldt ke IX yang akan berlangsung sejak 3-5 Agustus 2017 resmi di buka oleh Wakil Gubernur Provinsi Papua, Klemen Tinal, yang dipusatkan di Pantai Hamadi Jayapura, Dihadiri oleh Forkopimda dan masyarakat Kota Jayapura, serta rombongan wisatawan dari Hollandia, Belanda, Rabu (3/8/2017).

Dalam sambutannya, Wagub Klemen Tinal mengatakan Festival Teluk Humboldt yang digelar tahun 2017 harus membawa dampak baik bagi masyarakat di teluk itu. “Apa outcome-nya bagi orang Papua? sehingga Festival Teluk Humboldt ini harus berkualitas dan benar-benar memberikan outcome (hasil yang ingin dicapai) untuk warga Kota Jayapura secara khusus,” ujarn

Klemen Tinal mengajak, partisipasi masyarakat untuk ikut berperan serta menjadi pelaku-pelaku di festival itu, sehingga diharapkannya, pelaksanaan festival-festival di Kota Jayapura secara perlahan ke depan harus diambil alih oleh masyarakat dan swasta, bukan lagi pemerintah.

Tan dan Monj Port Numbay, saat foto bersama Wali Kota Jayapura, DR. Benhur Tomi Mano, MM., dan Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal. (Eveerth Joumilena /LintasPapua.com)

“Pemerintah hanya sebagai fasilitator, dan memberi contoh saja, sebagai subjek pembangunan masyarakat dan swasta harus menjadi pelaku, sehingga festival ini bukan saja menjadi pesta bagi pemerintah, tetapi harus menjadi pesta bersama,” paparnya.

Suasana Pukul Tifa, tanda dimulainya Pelaksanaan Festival di Pantai Hamadi. (Eveerth Joumilena /LintasPapua.com)

Ditambahkan, pelaksanaan Festival Teluk Humboldt ke IX sudah berjalan dengan baik, tetapi perlu untuk di tingkatkan lagi, perlu ada pemikiran-pemikiran inovasi dan kreasi baru sehingga dapat menarik perhatian wisatawan baik lokal, domestik bahkan mancanegara.

“Kota Jayapura adalah wajah Papua, sehingga sebagai warga Kota Jayapura kita harus bangga dengan apa yang telah Tuhan limpahkan bagi kita, karena kita adalah wajah Papua yang mewakili 28 kabupaten lainnya,” imbuhnya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Wali Kota Jayapura, DR. Benhur Tommy Mano, MM berharap Festival Teluk Humboldt dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dalam memberikan pelayanan hiburan terlebih lagi dapat memberikan edukasi bagi masyarakat tentang tarian, makanan khas, dan ukiran asli Port Numbay dari 14 kampung yang ada di Kota Jayapura.

Disela-sela sambutannya, Benhur Tomi Mano, yang juga Putra Asli Kampung Tobati ini menyampaikan, keunikan dari Kota Jayapura, yakni kota yang memiliki 14 kampung didalamnya. Yang seharusnya hanya ada kelurahan di suatu kota.

Suasana Para Penari saat pembukaan festival. (Eveerth Joumilena /LiintasPapua.com)

“Alasan kami mempertahankan kampung-kampung itu supaya nilai-nilai tatanan adat dari tiap kampung dapat dipertahankan dengan baik. Seperti budayanya, termasuk tarian adat, makanan khas, kerajinan tangan khas, serta batik khas Port Numbay dan ukiran itu tidak boleh hilang dengan perkembangan dunia modern yang sekarang ini. Budaya ini harus kami kami wariskan kepada anak cucu sebagai generasi penerus kita,” paparnya.

Dirinya berharap, kedepan pelaksanaan festival itu harus menciptakan inovasi dan kreasi baru untuk menarik perhatian dan kecintaan masyarakat akan budaya, terlebih khusus budaya Port Numbay yang ditampilkan pada Festival Teluk Humbolt ini.

Dan tak kalah pentingnya, Benhur mengajak mitra kerja pariwisata untuk menjual potensi wisata yang sangat indah yang dimiliki oleh Kota Jayapura. Sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Port Numbay dan melestarikan budaya Port Numbay.

Selain itu, pelaksanaan Festival Teluk Humbolt IX di warnai dengan pentas seni budaya, lomba menyajikan masakan khas Port Numbay, stan-stan pameran kerajinan tangan masyarakat Port Numbay dari 14 kampung, tarian khas Port Numbay, suling tambur dari Kampung Skouw Yambe, ukiran batik, serta kuliner khas Port Numbay. (Elsye Sanyi / Koran Harian Pagi Papua)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here