Kam Stop Bunuh Cenderawasih,  Mari  Selamatkan Milik Papua

0
21
Ketua FPPNG , Fredy Wanda, saat ditemui dirumahnya di Abepura. (Eveerth Joumilena /LintasPapua.com)
Ketua FPPNG , Fredy Wanda, saat ditemui dirumahnya di Abepura. (Eveerth Joumilena /LintasPapua.com)

JAYAPURA ­(LINTAS PAPUA)  – Ketua Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG), Fredy Wanda mengajak masyarakat untuk ikut komitmen  dalam mengawal isu penyelamatan Burung Cenderawasih dari perburuan liar,  dan sambut positif Surat Edaran Gubernur Papua berNomor 660/6501/Set pelarangan penggunaan Burung Cenderawasih asli sebagai aksesori dan cinderamata.

 

 

“Kalimat kami jangan bangga meletakkan bangkai di atas kepala sebab mahkota Cenderawasih, tidak semua bisa mengenakan. Hanya tokoh tertentu yang boleh menggunakan, sehingga jika tak paham sebaiknya tidak melecehkan,” sindir Fredy.

 

“Artinya kami memberikan apresiasi positif atas upaya para pihak yang ikut menyuarakan bagaimana menjaga dan melestarikan Cenderawasih,” ujar Fredy Wanda, saat dikonfirmasi, Kamis (27/7/2017).

Setelah sebelumnya Gubernur mengeluarkan surat edaran yang direncanakan akan dituangkan dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda), termasuk dari Dewan Kesenian Papua yang melombakan untuk membuat kerajinan tangan hiasan Cenderawasih imitasi.

Diakui, bahwaapa yang disampaikan Gubernur sejatinya bisa segera direspon para pihak, tinggal bagaimana menanamkan komitmen untuk bisa ikut menjaga.

Ilustrasi Suasana Menjual Cenderawasih Imitasi saat GYPA 2017 di Abesauw. (Eveeerth Joumilena /LintasPapua.com)

“Di Bali Cenderawasih itu sangat dihargai dan dianggap sangat sakral tapi di Papua diburu sana sini dan diperdagangkan begitu bebas, kami ingin lihat apakah dari Perda ini nantinya ada yang bisa dijerat oleh hukum,” ucapnya.

 

“Setelah ada edaran dan kemudian dilanjutkan dengan Perda, kami berharap pesan konservasi ini juga diketahui masyarakat di kabupaten-kabupaten sebab Cenderawasih banyak sekali digunakan masyarakat di kabupaten khususnya dalam tim tari,”  tuturnya.

 

Fredy Wanda berharap, apa yang dilakukan pemerintah termasuk dewan kesenian bisa diterima masyarakat sebagai sebuah penjelasan yang isinya untuk menyelamatkan kebanggaan Papua.

Disampaikan, bahwa  penyampaian Gubernur ini sampai ke daerah-daerah, sebab hingga perburuan dan penggunaan mahkota Cenderawasih justru lebih banyak dilakukan oleh masyarakat di daerah.

Ilustrasi Hiasan Kepala Dengan Burung Cenderawasih,
kini dilarang Gubernur Papua melalui surat edaran. (Eveerth Joumilena/LintasPapua.com)

Sebagaimana terkait hal inilah, Dewan Kesenian Papua dan Papua Barat akan menggelar lomba cipta imitasi burung cenderawasih dengan tema ‘Aku Ingin Hidup Bebas di Negeri Leluhurku’ untuk melestarikan burung yang disebut The Bird of Paradise.

Ketua Dewan Kesenian Papua, Nomensen Mambraku mengatakan, bahwa perlomban ini sebagai bentuk keprihatinan  terhadap burung cenderawasih yang hingga kini masih diburu oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab untuk dijadikan hadiah atau bahkan hiasan.

Lomba ini juga digelar untuk menghilangkan kebiasaan memberikan cenderawasih yang sudah diawetkan atau mahkota cenderawasih kepada para pejabat publik, baik yang ada di Papua maupun dari luar Papua. Padahal burung tersebut dilindungi undang-undang.

“Ada kategori pembuatan patung, aksesoris, mahkota, hingga Burung cenderawasih yang akan dibuat juga akan kami tentukan, karena di Papua ada beberapa jenis burung cenderawasih,” jelasnya.

Sesuai jadwal pembukaan pendaftaran lomba dibuka sejak Selasa (25/7/2017) hingga ditutup 5 Agustus 2017.

 

Sementara itu, Dalam rangka melindungi dan mencegah ancaman kepunahan Burung Cenderawasih dan membangun paradigma berpikir bahwa Burung Cenderawasih  memiliki nilai sakral serta mengangkat nilai dan filosofi budaya yang luhur,  Gubernur Papua, Lukas Enembe mengeluarkan Surat Edaran Nomor 660/6501/Set pelarangan penggunaan Burung Cenderawasih asli sebagai aksesori dan cinderamata.

 

Dalam Surat Edaran Nomor 660/6501/Set yang dibacakan oleh Sekda Provinsi Papua, Herry Dosinaen, terdapat 4 point larangan, yakni, melarang penggunaan Burung Cenderawasih asli sebagai aksesori atau atribut pada kegiatan seni budaya, sehingga kegiatan seni budaya diwajibkan menggunakan imitasi Burung Cenderawasih.

Ketua FPPNG , Fredy Wanda, saat ditemui dirumahnya di Abepura. (Eveerth Joumilena /LintasPapua.com)

Kedua, melarang penggunaan Burung Cenderawasih sebagai cinderamata dalam kegiatan apapun, ketiga, penggunaan Burung Cenderawasih hanya diperbolehkan dalam prosesi adat istiadat di Tanah Papua yang bersifat sakral, dan yang terakhir yakni pengaturan penggunaan Burung Cenderawasih asli dapat mendorong terciptanya kreatifitas pembuatan imitasi Burung Cenderawasih dan pengembangan produk merupakan peluang ekonomi kreatif.

 

Sekda  Herry  juga mengatakan, dengan adanya surat edaran gubernur, maka dalam waktu dekat akan dirancang Perdasus untuk memproteksi Burung Cenderawasih.

Burung Cenderawasih menjadi satu fauna yang dilindungi sesuai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. (ISTIMEWA)

“Ya, kita akan bentuk Perdasus untuk memproteksi keberadaan Burung Cenderawasih. Jangan lagi ada souvenir yang dibuat dari Burung Cenderawasih asli, kita larang keras,” kata Sekda Herry Dosinaen di Kampung Rhepang Muaif distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura,  pada  awal bulan Juni 2017.

 

Selain itu kata Sekda, pihaknya akan memerintahkan untuk dilakukan sweeping di toko-toko penjual mahkota Cenderawasih. “Kita akan lakukan sweeping di toko penjual Mahkota Cenderawasih, jadi semua tidak boleh lagi menjual yang asli. Selain itu tamu yang datang juga tidak lagi dipakaikan Mahkota Cenderawasih,” tegasnya.

Cenderawasih seluruhnya memiliki 14 jenis dengan 43 spesies yang tersebar di Papua, PNG hingga Australia namun dari 43 spesies ini 28 diantaranya bisa ditemukan di Papua. Cenderawasih sendiri menjadi hewan yang dilindungi sesuai dengan Undang-undang nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya dan masuk dalam status Citex Appendix 2 yang artinya bisa dipakai untuk penelitian dengan jumlah yang sangat terbatas  dan burung tersebut adalah hasil perkembangbiakkan bukan yang diambil dari hutan secara liar.  Mari #Save Cenderawasih, #Save Papua Tanah Yang Diberkati. (Eveerth Joumilena)