Inilah Daerah Yang Dilalui Jalan Trans Papua, BBPJN XVIII Bangun Sepanjang 113 Km

0
26
Kota Wamena ,Kabupaten Jayawijaya, dilihat dari ketinggian. Menjadi tujuan dari Jalan Trans Jayapura - Wamena. (Eveerth Joumilena / Koran Harian Pagi Papua)
Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional XVIII Papua, Ir. Osman H Marbun, MMT . (Rambat)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Tahun 2017, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBJN) XVIII Papua membangun jalan baru trans Papua sepanjang 113 kilometer.

Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional XVIII Papua, Ir. Osman H Marbun, MMT mengatakan jika untuk jalan Trans Papua yang panjangnya 3.259 Km di Papua, itu sudah ditangani lebih kurang 86 persen di akhir tahun 2016.
“Tahun 2017 ini, kita rencana menyelesaikan pembangunan pembukaan jalan baru sepanjang 113 Km,” kata Osman Marbun ditemui, Rabu (26/7/2017).

Osman mengatakan, jika sampai pertengahan tahun 2017, BBPJN XVIII Papua telah menyelesaikan pembangunan pembukaan jalan trans Papua itu sepanjang 50,3 Km dari yang ditargetkan sampai akhir tahun.

“Ada target 113 Km jalan untuk kita buka. Sekarang sudah selesai setengahnya. Kita harap bisa selesai tahun ini, dari sisa pekerjaan 467 Km jalan yang akan dibuka. Jika selesai tahun depan, maka tinggal 353 Km ruas jalan lagi,” ungkapnya.

Ruas jalan Trans Papua sepanjang 113 Km yang tengah dibangun BBPJN XVIII Papua ini, berada di perbatasan Papua Barat – Nabire, Enarotali – Wagete ke Timika, Enarotali sampai ke Wamena, yakni Enarotali – Sugapa – Bioga – Ilaga – Sinak – Illu – Mulia – Wamena.

Kemudian dari Wamena ke Jayapura lagi. Selajutnya, dari Wamena ke Mumugu sudah tembus, tinggal penurunan perbaikan grade.

Juga ruas jalan dari Dekai ke Oksibil Pegunungan Bintang, ada dari Oksibil kearah Waropko.
“Itu untuk segmen-segmen yang kita mau tangani, sepanjang 467 Km,” katanya.

Osman mengungkapkan, jika dari panjang total trans Papua 3.259 km, yang sudah terbuka sepanjang 2.905 Km sampai akhir tahun 2017, jika pembukaan jalan baru sepanjang 113 Km sudah tuntas pembangunannya, sehingga progresnya mencapai 89 persen. Saat ini, progres pembangunannya telah mencapai 86 persen.

Osman mengungkapkan, jika dalam pembangunan jalan trans Papua itu, pihaknya menghadapi kendala geografis dan tofografi yang sulit sehingga menyulitkan mobilisasi peralatan, belum adanya akses darat sehingga transportasi dan mobilisasinya lewat udara, baik BBM maupun logistik lainnya.

Selain itu, di wilayah pegunungan, kendala utama adalah cuaca sangat ekstrim dan mudah berubah. Belum lagi, hujan dan suhu dingin sehingga menghambat pekerjaan.

Dari sisi keamanan, diakui Osman, karena pengaruh pilkada kemarin, sedikit banyak berpengaruh terhadap pembangunan pembukaan jalan Trans Papua ini, terhadap konflik sosial akibat pilkada.

Sedangkan, soal kendala hak ulayat, BBPJN XVIII Papua terbantu oleh pemerintah daerah setempat, untuk penyelesaian hak ulayat, pertama dengan jaminan kepala daerah bahwa tanah adat diselesaikan secara adat oleh pemerintah daerah setempat dan ganti rugi yang dilakukan pemerintah daerah berdasarkan kerjasama kita dengan pemerintah daerah dalam bentuk MoU.

Ia mencontohkan, pembangunan jembatan Holtekamp Kota Jayapura, disepakati pemerintah daerah mengganti rugi tanah ulayat, pembangunan fisiknya kita tangani, tujuannya untuk mempercepat pembangunan.

Yang jelas, Osman Marbun menegaskan jika pembangunan inrfrastruktur di Papua, termasuk jalan trans Papua ini, menjadi prioritas bagi pemerintahan Presiden RI, Ir Joko Widodo.

Kota Wamena Kabupaten Jayawijaya, dilihat dari ketinggian. Menjadi tujuan dari Jalan Trans Jayapura – Wamena. (Eveerth Joumilena /LintasPapua.com)

“Bahkan, Presiden Jokowi langsung dimonitor oleh perkembangan pembangunannya. Pak presiden itu, sudah 6 kali datang ke Papua. Ini menunjukkan keseriusan bapak Presiden Jokowi dengan program Nawacitanya yang membangun dari daerah pinggiran dan dibuktikan secara nyata, bukan proyek infrastruktur jalan saja, perbatasan diperbaiki, pasar pasar dibangun. Semuanya bertujuan untuk membangkitkan ekonomi masyarakat,” katanya.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur di Papua bertujuan untuk meningkatkan konektivitas jalan, supaya mobilisasi masyarakat dan barang serta jasa yang dibutuhkan masyarakat dan menekan kemahalan harga barang yang terjadi, terutama di pegunungan Papua. Presiden Jokowi juga baru-baru ini, mengeluarkan kebijakan BBM satu harga di Papua.

Osman mengatakan jika total anggaran untuk pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan pada tahun 2017 mencapai Rp 4 triliun, yang digunakan untuk menangani jalan sepanjang 2.905 Km.

“Dimana dari 2.905 Km itu, termasuk sepanjang 113 Km jalan baru yang dibangun tahun 2017, sisanya pemeliharaan. Bukan semua untuk membangun baru dana Rp 4 triliun itu, tapi ada untuk pemeliharaan jalan dan jembatan, termasuk peningkatan jalan dengan pengaspalan, misalnya Jayapura – Sentani jika ada kerusakan diperbaiki,” imbuhnya. (bat /Koran Harian Pagi Papua)