Pentingnya Batik Papua Untuk Anak Usia Dini Sebagai Warisan Budaya

0
25
Batik Papua Saat dipakai pada anak - anak usia dini (Foto Pribadi TS)

Batik Papua Saat dipakai pada anak – anak usia dini (Foto Pribadi TS)
JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Saat ini banyak keluarga mulai tertarik dan kompak mengenakan batik Papua, dalam setiap acara formal maupun non formal. Dalam hal ini kekompakan dan kecintaan akan batik Papua harus menjadi prioritas karena menunjukkan identitas diri dan warisan budaya yang harus di lestarikan.

Hal ini disampaikan Tokoh Perempuan Asal Sentani di Timika, Telly Teisya Sokoy, sekaligus menjelaskan, bahwa berbicara tentang batik Papua tidak terlepas dari mama Mariana pulanda Ibo asal Sentani Jayapura yang masih menekuni usahanya sampai di usianya yang ke 78 tahun.

“Mama Mariana Ibo merupakan generasi Papua pertama yang menekuni usaha batik Papua dan ia di juluki
“pembatik perempuan pertama. Namun usahanya sering naik turun namun satu pertanyaan yang perlu di pertanyakan ” akan kah batik asal papua bisa bertahan?,” ujar Telly Teisya Sokoy, saat mengkonfirmasi masalah Batik Papua, Selasa (25/7/2017)

Batik Papua Saat dipakai pada anak – anak usia dini (Istimewa)

Dikatakan, untuk menjawab pertanyaan selain mengharapkan perhatian dan bantuan pemerintah daerah ada beberapa cara yang bisa kita perkenalkan pada anak anak kita.

Saat ini hampir semua sekolah – skeolah yang ada di perkotaan di papua mulai memakai batik papua sebagai wujud kecintaan dan rasa hormat mereka pada batik papua sebagai identitas.diri orang Papua.
“Uniknya setiap hari kamis dan jumat setiap sekolah terlihat ceria dengan warna warni batik, ini adalah salah satu langkah memperkenalkan budaya papua yang sangat baik,” katanya

Perempuan Asal Putali ini menuturkan, bahwa mungkin dengan di adakannya “fashion show khusus batik Papua. Mungkin dari usia 4 – 6 tahun usia TK. Sebagai wujud kepedulian dan pendidikan untuk menanamkan perhatian dan kecintaan akan batik papua.

“Sebagai orang tua dapat mengajar dan memperkenalkan kecintaan anak akan batik papua dengan cara, orang tualah yang pertama mengenakan batik papua dalam kesehariannya maupun acara resmi lainnya. Dengan demikian anaknya akan senang dengan sendirinya,” tuturnya.

Disarankan, dengan di adakannya pameran yang dapat menghadirkan anak siswa sd maupun smp sebagai pesertanya.
“Dengan demikian dapat mengangkat nilai batik Papua sekaligus menanamkan kecintaan anak akan batik Papua,” sarannya.
Dirinya berharap, kedepan batik Papua dapat di cintai oleh generasi yang ada dan di harapkan terlahir generasi baru pengganti mama Mariana ibo Pulanda di Papua.

“Saya berharap ke depan usaha membatik ” Batik Papua. Tidak lagi di pesan di luar papua tetapi kalau boleh kita belajar menghargai pengusaha lokal asal papua dan hasil karyanya,” harap Telly Teisya Sokoy.

Diriya juga meminta, agar, pemerintah daerah, pihak sekolah, kantor, perusahaan, dan badan usaha yang ada memberikan perhatian khusus bagi pembatik lokal, asal Papua.
“Agar usahanya dapat maju, dalam hal ini baik seragam batik sekolah, kantor, perusahaan, organisasi2 tidak lagi di pesan di luar Papua atau Pulau Jawa,” katanya. (Eveerth Joumilena)