Ironis, Ratusan Mahasiswa Nduga di Jawa Diusir Dari Kontrakan

0
1138
Mahasiswa Papua asal Kabupaten Nduga Tak Bayar dan terima resiko diusir, kiranya Pemerintah Daerah bisa melihat hal ini. (Istimewa /Otis Tabuni)
Mahasiswa Papua asal Kabupaten Nduga Tak Bayar dan terima resiko diusir, kiranya Pemerintah Daerah bisa melihat hal ini.(Istimewa /Otis Tabuni)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Ironis betul nasib mahasiswa Nduga yang sedang belajar di Tanah Jawa, akibat beberapa diantaranya tidak lagi membayar pemondokan dan kontrakan, hingga diusir secara paksa keluar, bahkan terancam tidak bisa melanjutkan studi perkuliahannya, sementara bantuan studi yanng diminta belum disikapi Pemerintah Kabupaten Nduga.

Hal ini sebagaimana disampaikan, Ketua Badan Pengawas Organisasi Pusat Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nduga se Indonesia (BPOP-IPMNI), Otis Tabuni mengatakan pihaknya telah menyurati Pemerintah Kabupaten Nduga terkait adanya kondisi Mahasiswa dan Pelajar yang diusir dari pemondokan dan kontrakan di tempat study di Jogja dan Bandung serta daerah lain.

“Sangat prihatin, sebab masa kontrakan Mahasiswa – Mahasiswi Nduga se – Indonesia telah berakhir awal Juli 2017, sebagaimana Kota Study Bandung telah diusir pada 20 Juli 2017 dan Kota Study Jogja sedang dalam evakuasi,” ujar Otis Tabuni, yang juga disampaikan dalam surat kepada Pemerintah Kabupaten Nduga, Jumat (21/7/2017).

Dijelaskan, bahwa kondisi terkini, Jumat (21/7) tadi pagi pemilik rumah datang dan diminta tinggalkan rumah pada hari ini juga.

“Dan kini kami sedang menunggu giliran kota study lain kapan dan jam berapa diusir keluar,” katanya, saat dikonfirmasi Harian Pagi Papua, Jumat (21/7).
Pihaknya, atas nama pelajar mahasiswa Nduga meminta kepada Pemerintah Kabupaten Nduga untuk segera melihat masalah ini.

“Pentingnya tempat tinggal bagi Mahasiswa Nduga se Indonesia, sehingga kami meneruskan tuntutan ini kepada Pemda Kabupaten Nduga terutama dinas keuangan dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nduga,” katanya.

Disampaikan, terkait dengan informasi resmi Bapati dengan tegas menyampaikan bahwa biaya studi sudah dimasukan ke DPA keuangan.

“Maka kami atas nama IPMNI dan mahasiswa dan pelajar Nduga se Indonesia mendesak kepada dinas keuangan dan P&K untuk segera bertindak dalam minggu ini juga dapat menjalankan bantuan study yang posisinya sudah di dinas terkait,” tegasnya.

Pihaknya memohon, kepada Pemda untuk menyalurkan dan proses merealisasikan nya biaya pemondokan melalui pimpinan organisasi, agar segera amankan tempat rumah merekan tinggal.

“Kami meminta komunikasi dan transparansi oleh dinas keungan untuk segra menelpon kami melalui nomor 081227226455 atas nama Otis Tabun selaku KETUA PUSAT BPOP-IPMNI se Indoneaia, karena saya bertanggunjwab untuk menyelesaikan khusus biaya pemondokan di seluruh Indonesia,” jelasnya.

Dirinya menilai, Jika tuntutan mulia ini tak dapat diindahkan, maka dampaknya akan parah, selain itu hingga saat ini sebagai masyarakat ilmiah terus kendalikan amarah Mahasiswa.

Dari informasi yang dihimpun, adanya permasalahan ini sudah diketahui oleh Wakil Bupati, namun masih harus berkoordinasi dengan Bagian Keuangan, yang katanya sedang tidak berada di tempat, sedangkan Sekretaris yang sempat dikonfirmasi para keluarga dan kerabat di Nduga juga belum berikan respon.

Terpaksa dikeluarkan akibat tak membayar uang kontrakan, inilah kondisi mahasiswa Nduga yang butuh perhatian pemerintah daerah. (istimewa)

Sementara itu, Tokoh Masyarakat Papua, Thaha M. Alahamid, dalam sebuah grup diskusi menyampaikan dan memohon, agar Pemerintah Kabupaten Nduga dan Pemerintah Provinsi Papua segera atasi masalah anak – anak Papua yang belajar di Jawa tetapi sudah diusir dari rumah kos.

“Dulu kami masuk penjara, negosiasinya anak – anak kita sekolah dengan biaya Otonomi Khusus, jadi harap Pemerintah segera urus, agar mereka bisa belajar lagi dan nyaman,” harapnya.

Informasi terakhir yang diterima, selain di Bandung, Jogja, menyusul sejumlah mahasiswa Nduga yang terancam study tanpa bantuan pemerinta daerah adalah di kota studi di Makassar, Manado, Gorotalo dan Semarang sert di Bali. “Data yang kami miliki mahasiswa Nduga sebanyak 1.500 yang tersebar seluruh Indonesia, itu data terakhir tahu 2016, mungkin sekarang 2017 sudah meningkat,” jelas Otis Tabuni, mengakhiri penjelasannya.
(Eveerth Joumilena)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here