Tinjau Banjir di Belitung Timur, Mensos Dorong Pemda Segera Dirikan Kampung Siaga Bencana

0
58

BELITUNG (LINTAS PAPUA) – Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mendorong Pemda Kabupaten Belitung Timur dan Kabupaten Belitung segera mendirikan Kampung Siaga Bencana (KSB) pascabanjir yang cukup parah melanda dua wilayah tersebut.

“Perubahan iklim tidak mudah diprediksi. Apalagi sebelumnya sudah pernah terjadi banjir. Tentu diperlukan kesiapsiagaan kita semua agar hal ini tidak terjadi kembali. Minimal sebagai upaya deteksi dini bencana,” tutur Mensos saat menyampaikan arahan di Posko Penanggulangan Banjir Kabupaten Belitung Timur.

Sebagai langkah awal, lanjut Mensos, masing-masing pemkab didampingi tim dari Kemensos segera menentukan lokasi KSB.

“Tidak ada yang ingin tertimpa bencana tapi kalaupun ada bencana kita harus siap dan waspada. Saat ini tercatat
ada 323 kabupaten/kota yang beresiko tinggi atau rawan bencana alam maka mari kita tingkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan kita,” papar Khofifah.

Mensos mengatakan berdasarkan penuturan Wakil Gubernur Bangka Belitung Abdul Fatah yang asli kelahiran kecamatan Gantung Belitung Timur, banjir kali ini terbilang cukup parah setelah sebelumnya banjir paling parah pernah terjadi pada tahun 1957, enam puluh tahun yang lalu.

Ditambahkan Mensos keberadaan KSB di lokasi rawan bencana dimana Taruna Siaga Bencana (TAGANA) sebagai fasilitator dan warga masyarakat setempat sebagai relawan terlatih, sangat penting dan terbukti mampu melakukan antisipasi dan ketahanan masyarakat saat terjadi bencana alam. Sekaligus menambah jangkauan Kementerian Sosial dalam mengembangkan pendekatan Manajemen Kebencanaan Berbasis Masyarakat.

Jumlah Kampung Siaga Bencana di Indonesia saat ini mencapai 497 dan akan terus ditambah jumlahnya. Pada tahun 2017 ditargetkan akan ada 100 KSB lagi yang berdiri di berbagai wilayah rawan bencana.

Direktur Bencana Alam Kementerian Sosial Adhy Karyono mengatakan pihaknya bersama Pemda Belitung dan Belitung Timur tengah melakukan survei titik yang paling berisiko.

“Untuk Belitung Timur kemungkinan di Kecamatan Manggar dan Kecamatan Gantung. Sementara di Belitung rencanananya di Desa Kemiri Kecamatan Membalong,” kata Adhy.

Seperti diketahui, hujan deras yang berlangsung sejak Jumat (14/7) hingga Minggu (16/7) menyebabkan banjir yang luas di beberapa wilayah di Kabupaten Belitung dan
Kabupaten Belitung Timur.

Terdapat enam kecamatan
di Kabupaten Belitung Timur yang terendam banjir yaitu Kecamatan Simpang
Renggiang, Kepala Kampit, Dendang, Damar, Gantung, dan Manggar. Di desa pangkalan kecamatan Gantung – Belitung Timur ketinggian air
sampai atap rumah.

Akses jalan penghubung antar kecamatan di Kabupaten Belitung Timur juga terputus
dikarenakan salah satu bendungan jebol dan menyebabkan banjir hingga lebih tiga meter.

*Temui Pengungsi*
Usai menyampaikan arahan, Mensos menuju posko pengungsi di Masjid Al Makmur Kecamatan Gantung.

Mensos menemui beberapa lansia yang sedang sakit dan kehilangan rumahnya akibat diterjang banjir, meninjau Posko Kesehatan Ibu dan anak, serta memberikan sapaan dan penguatan kepada pengungsi.

Mensos bersama rombongan kemudian meninjau salah satu lokasi terparah terdampak banjir yakni di desa pangkalan yang dikenal dengan Kampung Bugis Nelayan, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur.

Di wilayah ini air masih menggenangi sebagian besar rumah warga hingga setinggi lutut orang dewasa. Warga desa yang tengah membersihkan rumah dan mencuci perabot tampak menghentikan aktivitasnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan Mensos.

“Sabar ya, bu,” ucap Mensos lirih kepada seorang ibu yang memeluknya. Perempuan berjilbab ini menangis mengisahkan rumahnya terendam banjir.

Kampung Bugis Nelayan merupakan salah satu wilayah yang cukup lama terendam banjir, yakni lima hari berturut-turut. Para kepala keluarga yang berprofesi sebagai nelayan kini tak bisa mencari ikan.

“Tempat penampungan ikan habis diterjang banjir, peralatan mencari ikan juga sudah hanyut semua. Sementara toko kelontong saya juga terendam banjir. tidak ada yang bisa diselamatkan,” kata Antoni (40) yang berprofesi sebagai nelayan.

Terkait hal tersebut, Mensos meminta Bupati Belitung dan Bupati Belitung Timur untuk segera melakukan pendataan warga terdampak bencana untuk persiapan menyaluran Jaminan Hidup (Jadup).

“Masa tanggap darurat bencana adalah 14 hari. Kalau bisa sebelum masa tersebut berakhir sudah ada data yang disahkan oleh bupati. Nanti Kemensos yang akan menyalurkan Jadup. Besarnya Rp 900 ribu per jiwa. Bayi dan balita juga dihitung,” papar Mensos.

Ia berharap dengan adanya Jadup akan dapat meringankan beban hidup korban banjir dan memberikan bekal untuk meneruskan hidupnya.

“Kepada para nelayan diupayakan mereka mendapat bantuan program Usaha Ekonomi Produktif (UEP),” katanya.

*Salurkan Bantuan*
Terkait banjir di Belitung dan Belitung Timur, Kementerian Sosial telah menyalurkan bantuan dan santunan total sebesar Rp1.068.091.714.

Bantuan tersebut terdiri dari Rp818.657.804 untuk Kabupaten Belitung Timur dan Rp249.433.910 untuk Kabupaten Belitung.

Bantuan disampaikan dalam bentuk logistik, permakanan, peralatan kebersihan, dan satunan ahli waris untuk satu orang korban meninggal atas nama Firman (13).

“Kita doakan ananda Firman semoga tenang di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan,” kata Mensos. (***)