Komisi V DPR Papua Sidak RSUD Dok II Terkait Alat Canggih Hemadealisa

Suasana saat Pimpinan Komisi V DPR Papua Yakoba Lokbere, bersama staf dan pimpinan rumah sakit sedang melihat alat – alat medis di RSUD Dok II Jayapura. (Rambat)
JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Ketua Komisi V DPR Papua, Yakoba Lokbere didamping staf ahli dan staf komisi bersama Direktur RSUD Jayapura ketika melihat alat canggih Hemadealisa, Senin (17/7/2017) kemarin.  

Sidak di RSUD Jayapura, Komisi H DPRP Kayu Ada Kemajuan Signifikan
JAYAPURA (HPP)-Ketua Komisi V DPR Papua, Yakoba Lokbere melakukan sidak di RSUD Dok II untuk memastikan informasi dari masyarakat yang masuk ke DPR Papua atas tidak adanya fasilitas dan kurangnya pelayanan di rumah  sakit tersebut.

Namun, dari hasil sidak dari ruang ke ruang di RSUDAH Jayapura itu, ternyata tidak seperti apa yang disampaikan oleh masyarakat karena pelayanan maupun fasilitas di  RSUD Jayapura mengalami peningkatan signifikan dari tahun sebelumnya.

“Memang ada beberapa ruang yang masih belum ada fasilitasnya dan itu bertahap dilakukan oleh Direktur, namun sebagian besar alat-alat canggih sudah berada di RSUD Jayapura guna memberikan pelayanan kepada masyarakat Papua untuk berobat, seperti alat scan, alat pacu jantung, alat saraf, ginjal, hemdialisa dan beberapa alat lainnya,” kata Yakoba Logbere.

Untuk itu, Yakoba Lokbere memastikan bahwa RSUD  Jayapura kini mengalami kemajuan dan perkembangan signifikan, baik itu pelayanan, alat-alat untuk pengobatan pasien dan juga perkembangan ruang-ruangan rumah sakit itu.

  “Ini realitas yang kamu ditemukan langsung dari ruang ke ruangan,” ujarnya.
Untuk itu, kemajuan yang terjadi sejak kepemimpinan Direktur RSUD yang baru harus mendapat perhatian dari Pemerintah daerah untuk membenahi terus adanya kekurangan-kekurangan terhadap pelayanan.

Apalagi, lanjut Yakoba Logbere, untuk membenahi RSUD Jayapura ini tidak semudah menbalikan telapak tangan, melainkan membutuhkan proses.

Dan terbukti kepemimpinan direktur yang baru satu tahun ini telah membuktikan kemajuan besar, sehingga pihaknya berharap agar pemerintah menberi perhatian serius untuk terus melakukan pembenahan-pembenahan di RSUD  Jayapura.

Dikatakan, jika ingin RSUD Jayapura menjadi rumah sakit  rujukan di tanah Papua maka Pemprov Papua dan  pemerintah pusat harus lebih aktif untuk melihat hal-hal yang mendasar untuk kesehatan, khususu pelayanannya.

“Jika kesehatan sudah bagus, maka perekonomian akan ada kemajuan untuk meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya.

Yakoba mengatakan jika alat-alat canggih di RSUD Jayapura dibantu dari anggaran Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

“Alat cukup canggih karena semuanya berasal dari Jepang. Kami harap alat ini harus ditambah untuk memberikan pelayanan yang full bagi masyarakat Papua,” katanya.

Yakoba Lokbere meminta, masyarakat tak ragu untuk berobat ke RSUD Jayapura lantaran ada anggapan peralatan tak lengkap.

“Persepsi itu mari kita hilangkan, karena RSUD Jayapura sudah mulai ada peningkatan, baik alat maupun fasilitas lainnya karena alat, seperti city scan, hemadolisa, alat jantung dan alat saraf sudah ada. Pasien tidak perlu buang-buang uang ke  Makassar untuk berobat,  cukup datang ke RSUD Jayapura saja,” imbuhnya.

Sementara itu, Direktur RSUD Jayapura, Drg. Josef Rinta R,  mengatakan, RSUD Jayapura  mendapatkan bantuan dana untuk membeli peralatan guna melengkapi fasilitas kesehatan sesuai standar sebagai rumah sakit rujukan nasional tipe B.
Joseph Rina menjelaskan, peralatan yang dimiliki itu, seperti city scan untuk pemeriksaan foto, Hemadealisa, Endoskop sebagai alat pemeriksa lambung, Hartoskop untuk pemeriksaan tulang dan Paru.

RSUD Jayapura juga memiliki USG empat Dimensi untuk ibu-ibu hamil. “Kami juga ada ESWL untuk pemecah batu ginjal, alat untuk operasi pembuluh darah yang tersumbat,” katanya.

Josef mengatakan, kedepan pihak akan melakukan katerisasi jantung dan kalau pasien membutuh ring maka tim bedah dari jantung bisa datang, termasuk alat mikrosof bedah saraf.

“Mikrosof bedah saraf ini hanya ada dua di Indonesia yakni di RSCM dan RSUD Jayapura. Alat merupakan alat canggih, sehingga kami bersykur atas bantuan pemerintah pusat karena kini RSUD Jayapura mendapat 15 unggulan, karena dulunya tidak ada,” katanya.

Josef mengakui masih adanya kekurangan,  namun dihimbau kepada seluruh masyarakat agar memahami mekanisme dengan mengurus kartu kepesertaan dengan mengurus kartu BPJS dan KPS.

“Yang terpenting, pasien datang jangan hanya membawa diri tanpa identitas dan ketika dipulangkan, dipulangkan kemana. Kalau tidak mampu harus urus bahwa tidak mampu. Orang Papua tidak semua harus mendapat KPS dan harus dilayani secara gratis. Kami hanya melayani orang yang tidak mampu dan memiliki KPS,” imbuhnya. (Rambat /Koran Harian Pagi Papua)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...