Sekolah di Kabupaten Jayapura Diminta Hentikan MPLS

131
Ilustrasi Anak - Anak Sekolah di Kabupaten Jayapura. (LintasPapua.com)

Ilustrasi Anak – Anak Sekolah di Kabupaten Jayapura. (LintasPapua.com)
SENTANI (LINTAS PAPUA) – Berkaitan dengan awal masuk sekolah tahun ajaran baru, Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran (P dan P) Kabupaten Jayapura Alpius Toam, ST, M.MT, melarang sekolah, senior atau OSIS melakukan tindak kekerasan selama kegiatan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) atau yang dulu dikenal dengan nama MOS. Jika hal itu terjadi, maka Dinas akan menindaknya.

Terkait dengan pengenalan lingkungan sekolah, Kadis Pendidikan Alpius Toam menyampaikan, kalau dulu dikenal dengan MOS dan sekarang disebut MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) yang bertujuan untuk mejelaskan atau menunjukkan kepada anak tentang fasilitas yang akan digunakan baik itu ruang kelas, olahraga, perpustakaan atau fasilitas apa saja dan siapa pengelolanya.

“Jadi, tindakan fisik dilarang bahkan hukuman pada siswa baru misalnya disuruh push up,” ujar Alpius Toam, ketika ditemui wartawan harian ini di Kantor Bupati Jayapura, Gunung Merah, Sentani, Kabupaten Jayapura, Jumat (14/7) kemarin.

Sedangkan untuk MPLS saat ini, lanjut Alpius, format yang digulirkan harus format yang mendidik dan mengarahkan siswa-siswi baru, Jika ada tindakan sekolah yang merugikan siswa baru, maka pihaknya akan memberikan peringatan tertulis kepada pihak sekolah.

Kegiatan dalam mengisi MPLS itu harus bersifat edukasi (mendidik) seperti mensosialisasikan bahaya narkoba, HIV – AIDS dan pengenalan tentang lingkungan, ujarnya.

Kalau terjadi tindakan yang menjurus ke arah fisik, kami akan tegur langsung pihak kepala sekolah. Sehingga dalam kegiatan MPLS tidak boleh ada tindakan fisik, maka mereka harus melakukan kegiatan out bond atau permainan saja yang mereka kembangkan saat MPLS dilakukan, sambung dia dengan tegas.

Selain itu, siswa atau siapapun yang melihat adanya tindakan kekerasan bisa langsung melaporkannya kepada Dinas P dan P.

Tidak ada lagi perintah-perintah dari senior dan melakukan tindakan fisik. Namun kegiatan kedisiplinan tetap dijalankan, seperti latihan baris-berbaris yang merupakan bagian dari pengenalan atau penyesuaian lingkungan sekolah masuk ke suasana yang baru. Siswa-siswi baru hanya diarahkan saat MPLS, karena baris-berbaris itu juga wajib diketahui mereka karena setiap hari Senin ada pelaksanaan upacara bendera, imbuhnya.

Alpius pun menegaskan, pihak sekolah atau para pengurus OSIS tidak diperbolehkan membebankan biaya kepada siswa-siswi baru dalam membawa barang bawaannya.

Kalau barang yang disuruh bawa senior kepada siswa baru ini mengeluarkan biaya tinggi itu juga dilarang, paparnya.

Dalam pelaksanaan MPLS akan ada tim pemantau atau pengawas yang akan diturunkan dari Dinas Pendidikan, tandas Alpius Toam.

Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran (P&P) Kabupaten Jayapura, Alpius Toam, ST, M.MT, meminta kepada setiap dan pengawas benar-benar menjaga keamanan dan kenyamanan para siswa baru selama pelaksanaan MPLS itu berlangsung.

Jadi, kegiatan MPLS ini harus berjalan sesuai tujuannya, yakni mengeksplorasi seluruh informasi tentang sekolah, kata Alpius ketika dikonfirmasi wartawan harian ini, Jumat (14/7) kemarin.

Alpius juga menegaskan, setiap guru harus maksimal mencegah suasana intimidatif, perploncoan dan kegiatan tidak terpuji lainnya, selama dan sesudah masa MPLS di sekolah masing-masing.

Jadi, guru juga harus melakukan langkah-langkah koordinatif dan antisipatif atas kemungkinan terjadinya dinamika peserta didik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah, selama maupun pasca kegiatan MPLS tersebut, kata dia.

Itu sudah secara otomatis sudah pasti ada terbentuk pantia PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) di masing-masing sekolah. Mereka itulah yang nantinya mengatur (pendamping). Karena pasti dari semua guru juga ikut terlibat dalam pelaksanaan MPLS di sekolah mereka masing-masing, tambah Alpius. (Irf Koran Harian Pagi Papua)