Ibadah Syukur Awali Perayaan HUT PI ke-89 di Asei Pulau

0
80
Suasana Perayaan HUT PI di Asei Pulau (Irfan)

Suasana Perayaan HUT PI di Asei Pulau (Irfan)
SENTANI (LINTAS PAPUA) – Hari Ulang Tahun Pekabaran Injil (HUT-PI) ke-89 di Ohei, diperingati dengan ibadah syukur yang dipusatkan di Lapangan Kampung Asei Pulau, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Sabtu (1/7) pekan lalu. Kegiatan ini dihadiri Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M.Si.

Ibadah Perayaan HUT PI ke-89 di Ohei tersebut, dipimpin dan sekaligus membawakan firman Tuhan oleh Pdt. John Lesli Umbora, dengan tema, Injil Adalah Kekuatan Allah yang Menyelamatkan Setiap Orang yang Percaya. Sedangkan sub tema, Menuju Satu Abad Injil Masuk di Oheijo, Mari Kita Semakin Dewasa Membangun Hubungan Kasih yang Erat dengan Tuhan dan Sesama.

Dalam Khutbahnya, Pdt. John Lesli Umbora menyebutkan tidak ada nama lain yang akan menyelamatkan manusia kecuali Yesus Kristus. “Supaya kita diselamatkan, firman Tuhan berkata, kita harus menerima Dia sebagai Tuhan dan juru selamat secara pribadi. Masyarakat di Asei Pulau (Ohei) ini sudah menerima Yesus, 89 tahun lalu. Kita sudah menerima akan Kristus pada saat itu dan Penginjilan akan terus dilakukan,” katanya.

“Yohanes pasal 1 ayat 12, menyebutkan, tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namanya,” sambungnya.

Bupati Jayapura saat membawakan sambutan. (Irfan)

Sementara itu, Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M.Si, mengatakan 89 tahun Injil masuk di Ohei-Asei Pulau, maka harus ada hasilnya. Untuk itu, kehidupan masyarakat di Kabupaten Jayapura, khususnya di Asei Pulau harus sesuai dengan Injil, yaitu penuh dengan kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan dan penguasaan diri.

“Mari kita jauhi dan tinggalkan yang dilarang oleh Injil dalam kehidupan sehari-hari, seperti perseteruan, perselisihan dan iri hati. Untuk itu, masyarakat dan para pejabat di daerah ini jangan saling iri hati,” ajak Bupati Mathius.

Selain itu, dia menyampaikan, bahwa posisi adat sangat menentukan peradaban saat ini. Karena mereka yang menerima dan juga mereka yang memperjuangkan baik dengan cara mendatangkan penginjil maupun guru-guru.
“Mereka (adat) ini ingin kemajuan, ada perubahan dan juga ada hidup yang lebih baik dari keterikatan-keterikatan yang membelenggu perjalanan yang panjang dari kehidupan suatu masyarakat,” katanya.

“Kerinduan dan perjuangan mereka dari keterbatasan yang mereka alami tanpa pendidikan yang cukup dengan bahasa yang apa adanya, tapi visi mereka sangat besar. Nah, disitulah terjadi satu kontradiksi dari keterbatasan yang luar biasa namun cara pandang yang jauh kedepan untuk satu peradaban yang lebih baik dan disitulah kuasa Tuhan bekerja,” sambung dia.

Menurutnya, tidak ada kekuatan lain hanya satu-satunya cara itu. Kita semua bisa belajar dari orang-orang tua kita yang sangat terbatas ini, tapi mereka berjuang sangat luar biasa.

“Sejarah pekabaran Injil dan juga sejarah hadirnya pemerintah, itu adalah perjuangan dari mereka yang luar biasa. Dari satu dunia mereka menyambut dunia yang baru, artinya itu mereka sudah beralih karena keputusan itu sangat menentukan perubahan ini,” tuturnya. (Irf /Koran Harian Pagi Papua)