BMP Ajak Masyarakat Papua Jaga Kesatuan NKRI

0
13
Ilustrasi Tarian kolosal di Skow, Merauke, Papua yang masuk dalam perbatasan Indonesia-Papua Nugini. bagian dari keanekaragaman budaya (Liputan6.com/Katharina Janur)

Ilustrasi Tarian kolosal di Skow, Merauke, Papua yang masuk dalam perbatasan Indonesia-Papua Nugini. (Liputan6.com/Katharina Janur)
JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Ketua Barisan Merah Putih (BMP), Ramses Ohee mengajak masyarakat Papua menjaga keamanan dan mempertahankan situasi yang damai di tanah Papua sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hal ini disampaiakn menjelang tanggal 1 Juli 2017, di Jln Raya Waena – Sentani Batas Kelurahan Waena Distrik Heram, Kamis (29/6) sore., sekaligus menjelaskan, bahwa sebagai orang tua mewakili seluruh Adat di tanah Papua, perlu menyampaikan hal yang benar-benar dapat diterima di hati masyarakat Papua tentang kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Menolak segala bentuk kegiatan dari kelompok manapun termasuk Komite Nasonal Papua Barat (KNPB) yang ingin melakukan kegiatan dalam rangka HUT TPN/OPM pada 1 Juli 2017,” ujar Ramses Ohee.

“Sehingga kehidupan kita sebagai masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke harus kita perjuangankan untuk anak cucu kita nanti,” ujar Ramses Ohee, dalam keterangan pers tersebut.

Dirinya berpesan, agar masyarakat tidak terprovokasi dengan kegiatan-kegiatan dari Organisasi atau Kelompok yang tidak mengarah pada cita-cita bangsa Indonesia yaitu untuk hidup yang damai, sejahtera dan utuh.

“Sehingga mari kita bersama-sama perhatikan bangsa yang telah dikaruniakan oleh Tuhan yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sudah disahkan dan dikenal oleh Negara-negara di dunia,” katanya.

Diceritakan oleh ramses, Dahulu orang-orang tua Papua baik dari Sungai, Pantai, Lembah, Gunung dan lain sebagian diundang dalam Dewan Musyawarah Pepera sebagai bentuk Penentuan Pendapat Rakyat mulai tanggal 12 Juli-2 Agustus 1969, yang mana mereka menyatakan didepan PBB yang selanjutnya hasil Pepera dibahas oleh Dewan PBB serta dinyatakan bahwa NKRI adalah Negara yang berdaulat.

Ramses Ohee, saat menggelar jumpa pers. (Istimewa)

Sedangkan Irian Barat (Papua) secara sah ditetapkan oleh PBB sebagai bagian dari NKRI pada tanggal 19 November 1969.

Sudah jelas Keputusan PBB yang menetapkan Papua sebagai bagian yang sah dari NKRI adalah keputusan yang final, dimana dari 1026 orang Perwakilan orang tua yang diundang dalam Pepera waktu itu, hanya 1 (satu) orang yang tidak hadir dikarenakan sakit dan semua orang tua kita sepakat bahwa Irian Barat adalah bagian dari NKRI.

Ramses mengajak, Generasi muda harus terus belajar agar dapat menjadi harapan kita semua sebagai orang tua, karena anak cucu kita nanti akan menikmati apa yang kita tanam saat ini, bukan justru pengaruh orang asing yang mempunyai kepentingan dengan kekayaan yang Tuhan berikan. Anak Papua bukanlah anak rumput, melainkan anak yang dilahirkan karena berkat Tuhan dalam bingkai rumah tangga yaitu NKRI, sehingga jangan terprovokasi dengan rencana-rencana kegiatan yang akan dilakukan tanggal 1 Juli nanti.

“Kami menghimbau kepada seluruh anak Adat yang ada di Papua agar memberikan doktrin yang baik kepada anak cucunya yaitu Papua adalah bagian yang sah dari Negara Indonesia, dan kami menyampaikan kepada Organisasi atau Kelompok yang akan melakukan kegiatan tanggal 1 Juli agar memikirkan kembali manfaat dan kerugian apa yang akan di timbulkan nantinya,” himbaunya.

Diakhir jumpa pers Ramsen menyatakan sikap melarang kegiatan dalam bentuk apapun yang dilakukan oleh Organisasi atau Kelompok yang berseberangan, mari kita bersama-sama menjaga keamanan dan berjuang untuk mempertahankan situasi yang ada.

“Mari buat semua masyarakat Papua kita rapatkan barisan bersatu padu, guna mewujudkan pembangunan Papua lebih maju, aman dan damai serta sejahtera dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tandasnya mengakhiri wawancara. (***)