Festival Sagu #PertamaDiPapua

0
160

Oleh : Whens Tebay

Selama berada di tanah West Papua baru kali saya dapatkan Festival yang memang luar biasa dan tidak seperi biasa yang di lakukan di festival-festival lainnya.

“FESTIVAL SAGU”

Kenapa saya katakan demikian ??

Alasanya ada beberapa poin berikut:

1. Festival ini dilakukan oleh semangat masyarakat adat dari perwakilan 3 suku yaitu (1) Sentani Kwadeware sebagai tuan rumah. (2) Suku Marind Merauke. (3) Suku Koroway.

2. Festival ini di lakukan juga atas semangat masyarakat dengan bekerja sama dengan beberapa NGO dan individu-individu yang benar-benar peduli tentang makanan pokok yang tumbuh di alam dan dapat mengangkat kembali kekhasan makanan orang WestPapua.

3. Festival ini dilakukan di tengah hutan sagu yang luas bukan di panggung mewah dan monoton.

Kelapa Parut dan Sagu siap dicampur (Foto Whens Tebay)

4. Dalam Festival ini setiap suku mempraktekan cara memanfaatkan makanan yang tersedia di alam dan di jadikan makanan yang memiliki nilai gizi yang tinggi.

Mulai dari mentokok saku, bakar batu sagu bersama ulat sagu, sagu bersama ikan lele. Ada juga yang membakar pisang dan membuat sagu bakar yang dicampuri parutan kelapa dab sayur pakis yang tak ada duanya rasa nikmatnya.

5. Setiap stand dari 3 suku tersebut membuat bentuk rumah pondok sesuai cara pembuatan dari suku tersebut. Bukan memakai bangunan yang permanen.

6. Setiap Peserta yang hadir diberi kesempatan untuk mencicipi makanan yang dibuat dari setiap stand dengan geratis. Bukan harus membayarnya dengan harga yang bervariasi seperti di Festival lainya.

7. Festival ini juga bukan di kelola oleh pihak ke tiga sehingga tidak di pungut biaya sehingga menyewa stand dengan harga yang mahal atau berbau BISNIS.

Sajian Sagu dengan kelapa, menjadi santapan khas Budaya Papua. (Foto Whens Tebay)

8. Saat festival berlangsung tidak ada pameran yang mengganggu konsentarasi seperti, pameran alat-alat perkantoran atau promosi baju, minuman, makanan dll yang dapat mengganggu suasana festival sesunggunya.

9. Sebagai penambah wawasan dalam Fesival ini juga menyediakan perpustakaan kecil yang dapat menambah wawasan, karena belajar tidak harus di sekolah.
Kita dalapat belajar dimana saja salah satunya di hutan sagu.

10. Festival ini adalah Festival yang sesungguhnya yang harus menjandi contoh dalam festival lainya di West Papua.

11. Walaupun dalam hutan ada tempat sampah yang disediakan agar para peserta dan tamu pameran yang ada tidak membuang sampah plastik, botol, kaleng dll secara sembarangan di hutan. Ini yang membedakan dengab festival lainnya yang mana banyak sampah berceceran di tempat festival lainya.

Rumah Suku Korowai, ikut ambil bagian dalam Festival Sagu, sebagai bagian dari Budaya yang terus di lestarikan. (Foto Whens Tebay)

Setiap orang yang hadir di Festival Sagu ini pasti memiliki pandangan tersendiri.

#Papuansphoto