Paulus Waterpauw : Matahari Dari Timur Bersinar ke Ufuk Barat

Category: Lintas Papua, Pojok Rakyat 22 0

 

Piter Tukan

Oleh :  Peter Tukan )*
Irjen Pol.Drs Paulus Waterpauw – mantan Kapolda Papua yang saat ini menjabat Wakil Kepala Badan Intelijen dan Keamanan (Wakabainkam) Polri melalui Surat Telegram Kapolri Nomor : ST/1408/VI/2017 tanggal 2 Juni 2017 diangkat dalam jabatan baru sebagai Kapolda Sumatera Utara (Sumut).

Matahari yang terbit dari ufuk Timur Negara Kesatuan Republik Indonesia ini terus bersinar dan kini mulai beranjak menyinari ufuk Barat Nusantara tercinta.
Baru sebulan lalu tepatnya 29 April 2017, Paulus Waterpauw menghadiri acara pisah sambut dirinya dengan penggantinya Kapolda Papua yang baru Irjen Pol.Boy Rafi Amar di Sasana Krida, Kantor Gubernur Provinsi Papua, Jayapura. Pada 2 Juni, Paulus mendapat promosi dalam jabatan baru kembali memegang tongkat komando di Polda Sumut. Perjalanan kariernya dibilang “meroket” bukan semata-mata karena prestasi dirinya sendiri tetapi dalam kerendahan hati, dia selalu mengatakan, semua ini karena pertama-tama kehendak dan rencana Sang Ilahi – Allah Maha Besar dan dukungan Negara.

Restu Kapolri serta doa yang tulus yang tak henti-hentinya dilambungkan seluruh anak bangsa dari sabang sampai Merauke, dari Sangir-talaud hingga Rote Ndao.
Tentang sepak terjangnya sebagai seorang anak asli Papua yang bintangnya kian bersinar di Persada Nusantara, dua buku sebagai saksi bisu telah mengisahkan dirinya, keluarga dan kariernya. Kedua Buku tersebut yang kini beredar sangat luas di kalangan masyarakat adalah : “Paulus Waterpauw –Mengabdi Dengan Hati” dan “Abdi Papua – Pesan Singkat Kapolda Papua Irjen Pol Drs Paulus Waterpauw”.
Irjen Pol Drs Paulus Waterpauw lahir di Kampung Karas, Fakfak, Provinsi Papua Barat, 25 Oktober 1963. Menjabat sebagai Kapolda Papua sejak, Jumat 31 Juli 2015 hingga 29 April 2017 setelah sebelumnya dia menjabat sebagai Kapolda Papua Barat.

Selama memegang tongkat pengendalian Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) di wilayah Provinsi Papua, Paulus dikenal sangat rajin turun ke tengah masyarakat , tidak hanya pada saat masyarakat hidup dalam suasana yang tenang, tetapi terutama ketika terjadi gangguan Kamtibmas di sebuah wilayah, baik di perkotaan, distrik maupun kampung-kampung yang terletak di pegunungan Papua, pesisir pantai dan pulau-pulau serta lembah dan ngarai.
Apa yang dia lakukan itu, merupakan bagian tak terpisahkan dari tugasnya selaku Kapolda di bidang pengawasan, pengontrolan dan pemantauan lapangan.
Pada perhelatan demokrasi Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) serentak 15 Februari 2017 lalu, Irjen Paulus Waterpauw turun langsung memimpin jalannya pengendalian Kamtibmas di ekitar 11 kabupaten/kota yang menyelenggarakan Pilkada serentak itu.

Irjen Pol. Drs. Paulus Waterpauw, dalam sebuah ucapan hari Pancasila, 1 Juni 2017 (Istimewa)

Wilayah-wilayah yang dianggap jauh dan menantang nyawa, didatanginya seperti Pilkada serentak di Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Tolikara dan wilayah-wilayah lain di pesisir dan pulau-pulau.
Kehadirannya di wilayah-wilayah rawan konflik itu tidak hanya untuk mengendalikan langsung jalannya roda Kamtibmas tetapi juga dalam rangka menemui masyarakat setempat guna memastikan rasa aman dan nyaman di dalam diri setiap warga bahwa Polisi sampai kapanpan dan dimanapun senantiasa memberikan pengamanan, perlindungan dan pengayoman kepada rakyat.
Ketika berlangsung hari pemungutan suara Pilkada serentak, 15 Februari 2017 di Kabupaten Tolikara, Irjen Pol.Paulus Waterpauw terlihat berada di tengah-tengah “anak buahnya”. Dia mengendalikan secara langsung jalannya roda Kamtibmas selama proses pemberian suara pada Pilkada hari itu.
Dari Kabupaten Tolikara yang merupakan salah satu kabupaten yang terletak di wilayah Pegunungan Tengah Papua, Irjen Paulus Waterpauw langsung beranjak ke Kabupaten Intan Jaya yang pada beberapa hari setelah pemungutan suara, terjadi bentrok fisik antarwarga pendukung Calon Bupati yang bertarung pada pesta demokrasi Pilkada serentak itu.

 

Baca Juga :  Masyarakat Kampung Arwanop Sambut HUT RI

Korban jiwa tak terelakkan namun berkat kepiawaian dalam menahkodai tugas menjaga dan memelihara Kamtibmas di Provinsi Papua, Irjen Paulus Waterpauw berhasil meredam konflik terbuka itu sekaligus anak-buahnya berhasi mengidentifikasikan dalang di balik kerusuhan massa tersebut.
Dari Kabupaten Intan Jaya, Irjen Pol.Paulus Waterpauw bergeser ke kabupaten kepulauan yakni Kabupaten Yapen yang juga terjadi konflik Pilkada sampai berakibat pembakaran Kantor KPUD setempat. Di wilayah ini, Paulus Waterpauw berhasil menggerakkan anak-buahnya untuk mengungkap dalang di balik insiden ini.
Tindakan memimpin jajaran di Polda Papua terlihat juga ketika Irjen Paulus Waterpauw turun ke Kabupaten Jayapura. Pada saat itu, dia melakukan kontrol atas pelaksanaan persiapan Pemilihan ulang Bupati/Wakil Bupati di kabupaten yang bermasalah dalam Pilkada serentak 15 Februari 2017.

Kerja kerasnya di bidang pengawasan dan penegakkan Hukum dan Kamtibmas itulah akhirnya membuahkan Keputusan KPU Pusat untuk dilakukan pemungutan suara ulang (PSU) di kabupaten tersebut.
Tidak itu saja yang dilakukan Irjen Pol Paulus Waterpauw dalam tugasnya mengendalikan jalannya roda Kamtibmas dan pengontrolan tugas-tugas anak buahnya, dia pun mengeluarkan Maklumat Kapolda Papua Nomor: Mak/2214/IX/2016 tentang “Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum” sebagai upaya menyikapi maraknya kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum yang sangat sering dilakukan oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Parlemen Rakyat Daerah (PRD), Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan sebagainya.
Selain itu, diterbitkan pula Maklumat Kapolda Papua Nomor : Mak/2299/XI/2016 tentang “Larangan Membawa dan Menyimpan Senjata Tajam, Senjata Api dan Bahan Peledak” dengan tujuan menjaga keamanan dan ketertiban umum di wilayah Provinsi Papua.
Terkait penegakkan hukum yang merupakan salah satu tugas utamanya selain mengayomi rakyat, Paulus Waterpauw ketika masih menjabat sebagai Kapolda Papua, pada kesempatan silaturahmi dengan para tokoh masyarakat, pemangku adat dan pemuka agama pada Rabu, 5 April 2017 di Kabupaten Merauke menagaskan, bahwa hokum positif harus didudukkan pada tempatnya yangf benar.

“Hukum positif harus ditegakkan tanpa kompromi dengan siapapun juga. Negara harus hadir untuk melindungi dan menyejahterakan rakyat. Pemerintah harus bermental pelayan atau abdi rakyat, bukan penguasa yang ingin dilayani.Jadilah pelayan bagi sekalian orang dan layanilah seorang akan yang lain sebasgai Saudaramu sebangsa dan setanah air Indonesia,” tegas Paulus Waterpauw.
Dia menilai, pada saat ini, begitu banyak orang yang sedang memegang tongkat di lingkungan pemerintahan lebih bermental penguasa ketimbang pelayan masyarakat. “Mental ini saya tantang dan tentang,” tegasnya.
Benih-benih cahaya kepemimpinan sebagai pengayom rakyat dan abdi Negara dalam diri seorang Irjen Pol Drs Paulus Waterpauw kini mulai merekah menuju ufuk Barat.

Di sana, “matahari” ini tidak akan terbenam namun secara alamiah, “matahari” itu akan kembali lagi ke ufuk Timur untuk bersinar lagi pada keesokan harinya.

Dia pergi untuk kembali lagi !.
Tanah Papua, dari sini aku keluar sebagai pejuang, pengayom rakyat dan abdi Negara – dan pada waktunya yang tepat, aku akan kembali lagi sebagai Pelayan sekalian orang. Papua—Sionku yang baru—Harapanku !
*Peter Tukan: Wartawan (1984-2010). Kini bermukim di Jayapura, Papua.

Related Articles