275 Bahasa Ibu di Papua Perlu Dijaga dan Dilestarikan

Category: Lintas Papua 12 0
Kegiatan Dinas Kebudayaan Papua. (ISTIMEWA)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  –  Papua memiliki 275 bahasa asli, yang sebelumnya merupakan bahasa Ibu adalah bahasa sehari – hari yang digunakan untuk berkomunikasi, antara orang tua dan anak khususnya di lingkungan keluarga, sebagaimana hal ini perlu dijaga dan dilestarikan.

 

 

Pelaksana Tugas (Plt) epala Bidang Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Papua, Aloysius Navurbenan mengatakan ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan ‘hilangnya’ sebuah bahasa, diantaranya jumlah penutur yang semakin berkurang.

 

“Perkawinan campur, penggunaan bahasa nasional (Bahasa Indonesia) atau Bahasa Melayu Papua sebagai bahasa pertama yang terkadang berdampak pada generasi berikutnya kurang memahami bahasa ibu atau bahasa suku –nya,” ujar Aloysius Navurbenan, saat dikonfirmasi, Sabtu (20/5/2017).

 

Dijelaskan, bahwa bahasa ibu adalah bahasa pertama dan utama, mudah dipahami dan dikomunikasikan. Bahasa ibu adalah bahasa yang mendukung parenting dalam keluarga.

 

“Menurut laporan Unesco pada tahun 2014, Papua memiliki 275 bahasa asli. Namun bahasa suku – suku asli Papua dikhawatirkan dalam 20 tahun kedepan mungkin saja mengalami degradasi bahkan kepunahan,” ungkapnya.

 

 

Sementara itu, Praktisi Pendidikan Multi Bahasa sekaligus Communication Specialist Summer Institute of  Linguistics International (SIL), Hans Imbiri mengatakan ada 10 tingkatan hingga sebuah bahasa dinyatakan punah.

 

“Bahasa kuat karena digunakan secara internasional, nasional, digunakan dalam dunia pendidikan dan perdagangan. Bahasa kuat karena ada literatur, dimana ada yang menulis dan membaca dalam bahasa tersebut. Di tingkatan ini bahasa dinyatakan aman,” terangnya

 

Baca Juga :  Menteri Yohana Yembise Hadiri Diskusi PUSPA Papua

“Pada waktu bahasa terancam punah, berarti anak – anak tidak bisa lagi menggunakan bahasa daerah, mereka bisa mendengarm namun mereka tidak bisa mengucap,” katanya.

 

Ditambahkan, abhwa pada tahapan berikut anak – anak tidak bisa mendengar dan mereka pun tak bisa mengucap, hanya orang dewasa dan orang tua. Hingga  orang dewasa lagi pun sudah tidak bisa dan hanya orang tua.

 

“Dan tahapan berikut, mereka semua bisa mendengar namun tidak bisa lagi berucap sampai akhirnya kehilangan bahasa,” urainya panjang lebar.

 

Ditambahkan, ada banyak yang menyebabkan punahnya sebuah bahasa, yakni adanya ekspansi bahasa yang lebih kuat secara lokal, nasional dan internasional. Selain itu bahasa tidak terdokumentasi sehingga tidak bisa dipelajari dan dipertahankan.

 

Berdasarkan katalog bahasa – bahasa di dunia yang disusun oleh SIL pada tahun 2002  ada 275 bahasa – bahasa di Papua.

 

Dari 275 bahasa ada 23 bahasa yang tidak ada data tentang kapasitas bahasa, 7 bahasa telah mengalami kepunahan, 33 bahasa sangat terancam punah, 163 bahasa terancam punah dan hanya 49 bahasa yang dinyatakan aman dari kepunahan karena kapasitas bahasanya masih kuat (bahasa terdokumentasi).

 

Adapun bahasa yang telah punah ialah Bahasa Burumakok, Bahasa Itik, Bahasa Kofei, Bahasa Kowiai, Bahasa Mapia, Bahasa Tandia, dan Bahasa Narau.

 

Menurut Aloysius Navurbenan dan Hans Imbiri, agar tidak punah bahasa harus dilestarikan. Namun, bagaimana dengan Papua yang memiliki banyak suku dimana setiap suku memiliki bahasanya masing – masing?

Baca Juga :  Anggota TNI Perlu Menjunjung Adat dan Budaya Masyarakat

 

Pada hakikatnya, kelestarian sebuah bahasa ibu adalah tanggungjawab setiap anggota suku masing – masing.

Hans Imbiri mengatakan untuk memperkuat bahasa ialah dengan cara bagaimana kita menuturkan bahasa lisan dari hari ke hari dalam keluarga, komunitas, bahkan dalam dunia pendidikan dan perdagangan.

 

Sebagai upaya untuk mendorong pelestarian bahasa, Dinas Kebudayaan Provinsi Papua melakukan Seminar “Kajian Pengembangan Kurikulum di Lima Wilayah Adat Papua” pada (18/5) di Merauke. Seminar ini menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk memperkuat penggunaan bahasa daerah dalam kurikulum (muatan lokal).

 

Selain itu, Dinas Kebudayaan bekerja sama dengan Summer Institute of  Linguistics International (SIL) dan Analitycal and Capacity Development Partnership (ACPD) melakukan kajian bahasa ibu sekaligus mengembangkan model Pendidikan Multi Bahasa Berbasis Bahasa Ibu.

 

Sebagai catatan, SIL telah melakukan penelitian sekaligus mengembangkan model pendidikan berbasis bahasa ibu di Lani Jaya dan Sentani. Keberhasilan inilah yang menjadi model agar bisa dikembangkan di lima wilayah adat lainnya.

 

Senada dengan itu, Aktivis dan Praktisi Pendidikan ACDP, Muhammad Yusuf, mengatakan pendekatan pendidikan multi bahasa berbasis bahasa ibu efektif digunakan untuk memberantas buta huruf, belajar membaca menulis dan berhitung (calistung) khususnya pada Komunitas Adat Terpencil (KAT). (Yulika)

Related Articles