DPR Papua Akan Sidak Proses Penerimaan Mahasiswa Baru

Category: Lintas Papua, Pendidikan 11 0
Ketua Komisi V DPR Papua, Yakoba Yolla Lokbere, saat diwawancarai di Abepura. (Eveerth Joumilena / LintasPapua.com:

JAYAPURA (LINTAS  PAPUA)  – Dunia pendidikan tak hentinya harus mendapat perhatian, demikian ibarat proses belajar seseorang tidak mengenal usia,  hal ini mendorong DPR Papua akan melakukan sidak atau inspeksi mendadak untuk melihat dari dekat proses penerimaan mahasiswa  baru di kampus – kampus di Papua.

 

“Selama ini kita telah mendapatkan laporan dan keluhan adanya proses penerimaan mahasiswa baru yang berbelit- belit, sehingga hal ini akan mendorong kami melihat dari dekat,” ujar Ketua Komisi V DPR Papua, Yakoba Yolla Lokbere, kepada media di Abepura, Rabu (17/5).

Dikatakan, bahwa informasi penerimaan akan terus berlangsung hingga Oktober 2017, sehingga ada waktu dimana dirinya bersama personil Komisi V DPR Papua akan turun ke kampus dan melihat prosesnya.

“Hal ini penting untuk   lebih melihat proses penerimaan harus bisa memprioritaskan orang asli Papua,  memang sejauh ini kami masih melihat dari jauh, namun tetap mengikuti proses yang ada,” akuinya.

 

Sementara itu, Pengamat Masalah Pemuda, Pendidikan dan Ketenagakerjaan,  Judith J. Dipodiputro menjelaskan,  yang terpenting saat ini adalah  dalam standar penerimaan dan konsekwensi a kibat tidak adanya pendampingan  setelah siswa masuk kampus.

Baca Juga :  DPR Papua Sambut Baik Kesepakatan Pemerintah Dengan Freeport

 

“Menurut penjelasan dari banyak pihak, termasuk dari beberapa pengajar/dosen di kampus – kampus, permasalahannya sekarang adalah bahwa standar penerimaan  diturunkan  untuk memudahkan mahasiswa suku asli Papua diterima,” katanya.

Dirinya menuturkan, bahwa setelah di dalam, anak – anak  akan dilepas untuk berjuang sendiri  menghadapi kawan2nya yang diterima dengan standar normal (otomatis lebih tinggi).

 

“Tahun lalu kami mewawancarai lebih dr 30 mahasiswa suku asli papua,  yang baru 1 tahun lulus, yang sudah 3 tahun lulus, yang sudah 5 tahun lulus. Untuk mencoba memahami alasan mengapa mereka belum dapat pekerjaan,” jelansya.

Dalam mencari akar permasalahan, salah satu data yang ingin didapatkan adalah berapa kali mereka melamar dan apa alasan yang mereka terima saat ditolak.

“Jawabannya memprihatinkan dimana dari lebih 30 anak itu, sebagian kecil saja yang sudah pernah melamar,  rata – rata hanya kirim  sekali lamaran dan mayoritas  tidak melamar,”  ungkapnya.

Berbagai hal ini tentunya, menjadi sebuah pertanyaan,  “Kenapa tidak melamar?” atau  “Kenapa hanya melamar sekali ?” Mayoritas menjawab: “Tidak tahu melamar ke mana” “Tidak tahu cara melamar”.

Baca Juga :  Lebaran Bahagia, Ramayana Abepura Berikan Diskon Hingga 75 Persen

 

“Masalahnya sangat fundamental ini, maka  menurut hemat kami, perlu dilakukan pendampingan dengan mengadakan Kelas matrikulasi dan  Mata kuliah TOK/Theory of Knowledge,”  tutur Judith J. Dipodiputro menyarankan sebuah proses pendidikan yang sebaiknya dilakukan di Papua yakni pendampingan.  (Eveerth Joumilena)

Related Articles